Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


KPR Syariah Bisa Memperoleh Subsidi

30/05/2005
 
Subsidi ini bisa membantu pembangunan rumah bagi rakyat miskin. JAKARTA – Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah di BTN bisa memperoleh subsidi. Kepala Unit Usaha Syariah (UUS) BTN, Willy Aryati, menyatakan bahwa subsidi tersebut sejalan dengan program pemerintyah membangun satu juta rumah tahun 2005. BTN Syariah, kata Willy, sudah diminta untuk siap-siap merealisasi KPR yang bersubsidi dengan skim syariah. BTN Syariah akan ikut berperan dalam pengembangan satu juta rumah di Indonesia. Kebutuhan rumah di Indonesia sangat tinggi. Sebaliknya, rasio penyaluran perumahan di masih 1,4 persen atau jauh lebih rendah disbanding Thailand yang mencapai angka 7,4 persen dan Malaysia 27,7 persen. Willy mengungkapkan, jumlah penduduk Indonesia tahun 2004 mencapai 224 juta jiwa dengan angka pertambahan penduduk rata-rata 1,68 persen atau 3,7 juta jiwa per tahun. Dengan asumsi penghuni sebuah rumah rata-rata 4,6 orang maka dibutuhkan rumah baru 800 ribu unit per tahun. “Itu sebabnya tahun ini Menteri Perumahan sudah memprogramkan untuk membangun satu juta unit rumah,” kata Willy pada seminar ekonomi Islam berjudul Peranan Perbankan Syariah Dalam Mendung Sektor KPR dan Agribisnis di Jakarta, Kamis (26/5). Willy mengatakan, Menpera juga menyatakan KPR Syariah akan memperoleh subsidi sebagaimana KPR biasa. “Pak Menteri sudah bertanya kesiapan BTN untuk merealisasi subsidi untuk KPR Syariah,” katanya. Dalam satu hingga dua bulan ke depan program satu juta rumah akan diluncurkan dan BTN sudah harus siap membantu menyukseskannya. Target penyaluran KPR BTN Syariah tahun 2005, jelas Willy, adalah 3.000 unit rumah dengan rata-rata nilai Rp 50 juta atau nilai total Rp 151 miliar. Target BTN Syariah tahun ini memiliki tujuh kantor cabang dan meningkat menjadi 12 kantor cabang pada 2006 dan 20 kantor cabang syariah pada 2007. Untuk tahap awal, ungkap Willy, BTN akan menyiapkan funding dan pembiyaan perumahan syariah, termasuk KPR BTN Syariah, KPR BTN Syariah Konversi, KPR BTN Syariah Konversi dari bank lain, dan Multiguna BTN Syariah. Menginjak semester II 2005, BTN Syariah akan memulai pembiayaan konstruksi dengan akad musyarakah, KPR Syariah inden, serta pembiayaan bayar cici syariah. Sementara itu, Direktur Pembiayaan pada Direktorat Jendral Bina Sarana Pertanian Departemen Pertanian, Endang S Thohari, kembali berharap agar perbankan syariah di Indonesia ikut membantu sektor agribisnis di Indonesia. Kondisi saat ini sangat memprihatinkan karena untuk makanan pokok saja Indonesia harus impor dari negara lain. “Sektor pertanian hanya mendapat enam persen dari kredit perbankan,” katanya. Pada 2004, menurut Endang, hanya Rp 27,3 triliun kredit perbankan yang disalurkan ke sektor pertanian. Itu pun sebagian besar mengalir ke kelompok kelapa sawit, tebu dan komoditas yang dianggap sudah pasti diserap pasar. Padahal, banyak varietas produk pertanian di Indonesia yang juga punya pasar besar. Karena kesamaan praktik antara bisnis bank syariah dan pola pertanian (bagi hasil), tutur Endang, Deptan berharap industri perbankan syariah ikut mengembangkan sektor agribisnis. Sistem syariah akan memberikan keadilan bagi debitur. Untuk mengembangkan skema kredit pertanian, Deptan akan menitipkan dana sebagaii dana penjaminan syariah. Selain itu, Deptan juga akan menyiapkan program pendampingan dan peta komoditas unggulan serta linkage dengan bank syariah yang akan mengucurkan kredit kepada sektor agribisnis. Endang menyatakan bahwa ada beberapa sektor pertanian yang potensial dikembangkan dengan pola syariah, yakni di subsistem hulu seperti pengolahan tanah, pembenihan, kios saprodi baik di bidang tanaman pangan, hortikultura, peternakan, maupun perkebunan. Lalu, potensi pada subsistem on farm bak syariah bisa ikut dalam pengembangan budidaya tanaman padi, kedelai, jagung, ubi kayu, kacang tanah, jeruk, bawang merah, sapii potong, domba, kambing, ayam buras, serta perkebunan karet, sawit, kao, kapas, dan tebu. “Sebetulnya banyak sekali varietas yang bisa dibiayai dan feasible untuk dikembangkan dari segi bisnisnya,” kata Endang.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130