Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


KPR Syariah Mulai Digemari

10/05/2006
 
New Page 1 JAKARTA (Media): Dari sekian banyak produk syariah, kredit kepemilikan rumah (KPR) syariah adalah salah satu produk favorit dan digemari masyarakat. KPR syariah menggunakan sistem berbasis murabahah (jual beli). Artinya, konsumen tidak terbebani fluktuasi suku bunga yang terus mengalami perubahan. Itulah keunggulan produk tersebut. "Suku bunga tidak memengaruhi besarnya cicilan KPR syariah. Jadi, meski suku bunga bergolak, cicilan KPR syariah tetap saja," kata Kepala Divisi BTN Syariah Willy Aryati kepada Media Indonesia dan Metro TV di Jakarta, pekan lalu. Saat Indonesia didera krisis pada 1997 dan mencapai puncaknya pada 1998-1999, lanjut dia, banyak orang kalang kabut oleh cicilan KPR yang melonjak drastis. Kenaikan cicilan saat itu bahkan mencapai 50%. Kasus seperti itu tidak bakal terjadi kepada nasabah yang menggunakan KPR syariah. Sebab, sistemnya memang berbeda. Bagi nasabah yang membeli rumah jadi, akad dengan bank syariah menggunakan sistem murabahah. Sedangkan yang merenovasi menggunakan sistem istisna. Dalam KPR syariah, bank membeli rumah dari penjual atau pengembang. Harga beli itu kemudian dikonversi menjadi cicilan langsung sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati bersama. Hal itu memungkinkan cicilan tidak dipengaruhi gonjang-ganjing suku bunga. Kini, hampir semua bank syariah seperti BTN Syariah, Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Permata Syariah, Bank Niaga Syariah, dan BII Syariah telah menyediakan produk KPR berbasis syariah. Bahkan, khusus di BTN Syariah, tersedia produk KPR syariah bersubsidi. KPR itu merupakan rangkaian program sejuta rumah yang digagas pemerintah. Munculnya produk KPR syariah telah memberikan alternatif pembiayaan perumahan, baik kepada konsumen maupun pengembang. "Ini alternatif menarik yang perlu direspons dengan baik," ujar Willy. Terlalu panjang Meskipun KPR syariah menawarkan sistem menarik, Marketing Manager Vila Ilhami Hastrajaya menyatakan pengembang masih merasa lebih simpel menggunakan KPR konvensional. Menurut dia, terkadang proses KPR syariah masih terlalu panjang. "Mungkin karena KPR syariah produk baru." Karena itu, Hastrajaya mengharap ke depan bank syariah mampu membenahi manajemen dan sumber daya manusianya. Sehingga KPR syariah bisa mendapat tempat di hati konsumen properti Indonesia. Direktur PT Bangun Mandiri Investama (BMI) Kris Haryanto menjelaskan pengembang di Bandung juga punya pengalaman tidak nyaman dengan salah satu bank syariah. "Saat itu saya membangun perumahan Telkom. Proyek berhenti karena skim KPR syariah memang belum senyaman KPR konvensional," ujarnya. Kelemahan KPR syariah, menurut Kris, kalau terjadi problem pembangunan sehingga tidak sesuai dengan jadwal, secara bisnis dihitung ulang dari awal. Hal itu, tandasnya, bertele-tele dan tidak praktis. Meskipun demikian, Kris mengaku tidak kapok dengan KPR syariah. Dia tetap menggunakan KPR syariah karena secara prinsip membuat orang nyaman dan lebih transparan.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130