Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


KUR Diperluas Bank Umum, Bank Syariah Dan BPD

16/06/2008
 
SEJAK program Kredit Usaha Rakyat (KUR) digulirkan November 2007 dan KUR Mikro Februari 2008, perbankan telah mengucurkan Rp 7 triliun pada sekitar 700 ribu debitur KUR dan KUR Mikro. Pemerintah sendiri berencana meningkatkan target penyaluran KUR dari Rp 8 triliun menjadi Rp 15 triliun dengan jumlah peminjam sebanyak 2 juta debitur sampai akhir 2008. "KUR ini dana milik masyarakat dengan tanggungjawab di perbankan. Memang semula hanya enam bank yang terlibat karena sifatnya uji coba. KUR ini perlu dan wajib dikembangluaskan melibatkan lebih banyak lagi bank pelaksana," kata Kusmuljono yang juga Ketua Center for Policy Reform Indonesia. Seperti diketahui, bank penyalur KUR saat Ini terdiri enam bank (Bank BRI, Bank Mandiri, BNI, BSM, Bank Bukopin dan Bank Tabungan Negara). Nantinya, kata Kusmoijono penyaluran KUR mesti melibatkan bank umum lain. Apalagi, untuk menjangkau usaha mikro lebih luas, perlu mengembangkan linkage bank yang mempunyai sekitar 5.000 cabang dengan lembaga kauangan mikro (LKM) yang saat ini berjumlah lebih dari 50.000 unit yaitu, BPR, Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Kredit, Baitul Mal Wat Tamwil, Koperasi Wanita, Badan Kredit Desa (BKD). Meski begitu, dia mengisyaratkan perlunya standar dalam penyaluran KUR yang menjamin penyalurannya di masyarakat, seperti fit and proper test pada lembaga yang kredibel. "Ini dibutuhkan agar dana-dana itu benar-benar bisa tepat sasaran menggerakkan sektor riil masyarakat," katanya. Untuk itu, kata dia, berbagai langkah pun bisa dilakukan. Salah satunya, lanjut Kusmojono, sebagaimana dilakukan Bank Rakyat Indonesia (BRI) merekrut 2.000 tenaga pendamping yang memberikan bantuan debitur penerima KUR di desa-desa terpencil. "Ini langkah awal, kelak jumlah tenaga pendampingan BRI bisa mencapai 10 ribu. Kita sudah merekrut lagi pensiunan BRI dan mereka bersemangat. Jika hanya menggunakan tenaga BRI saja tidak cukup. Untuk biayanya diambilkan dari margin bunga yang diperoleh,"terangnya. Terkait dengan program linkage yang dilakukan perbankan dengan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Kusmojono memastikan LKM akan memperoleh keuntungan yang balk. Karena KUR mikro bunganya 1,125 persen setiap bulan dan bunga per tahun 24 persen. Dilain pihak LKM bisa mengambil ke bank dengan dikenakan bunga sebesar 16 persen dan menjual pada end user dengan bunga 24 persen per tahun. "Delapan persen penjualannya ke nasabah dijamin oleh Askrindo," katanya. Dengan begitu, kata Kusmoijono, dalam mekanisme KUR, pemerintah pasang badan 70 persen dan bank menjamin 30 persen. Dia juga meyakini KUR tidak akan merusak sistem keqa LKM di daerah-daerah tapi justru menjadi pelengkap. Karena sebagian besar LKM yang melayani masyarakat di bawah mematok bunga 48% tahun. "Karena memang kenyataan risiko di bidang pertanian berisiko besar. Buktinya kredit perbankan untuk on farm, tidak sampai 5 persen dari seluruh pagu kredit nasional, bahkan di beberapa tempat nol persen, karena tingginya risiko gagal panen dan penyakit," terangnya. Memang, kata Kusmuljono, ada yang mengatakan porsi kredit pertanian 10-20 persen tapi lebih banyak digunakan untuk perkebunan, tebu atau kelapa sawit. "Tapi kalau pertanian, ini termasuk risiko tinggi. Jadi kalaupun ada yang masuk kesitu lebih dari 48%. Bahkan tengkulak ada yang sampai 10% sehari," terangnya.. Dengan begitu, kata dia, kalau KUR mematok bunga tak lebih dari 24% tidak mengganggu pasar, bahkan membantu. "Memang yang tersaingi adalah rentenir, dan marilah kita lawan rentenir ramai-ramai. Apalagi, KUR menggunakan dana yang halal, ibu-ibu taruh dana simpanan di perbankan dengan bunga 8 persen, dan bank melemparkan dengan 24 persen sesuatu yang wajar," katanya lagi. YOG (Rakyat Merdeka)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130