Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Kapitalisasi Bisnis Properti Rp23,46 Triliun

27/08/2007
 
New Page 1 Memanen saat Bunga Rendah IBARAT sebuah timbangan, bila bisnis properti ada di sisi kiri, di sisi kanan pastilah suku bunga. Jika sisi kanan timbangan atau suku bunga bergerak naik, properti yang ada di sisi kiri akan langsung turun. Begitu sebaliknya. Itu sudah menjadi rumus umum dan telah terbukti berkali-kali, termasuk di negara ini. Hubungan keduanya memang kaitmengait. Apalagi di Indonesia, mayoritas transaksi properti dilakukan dengan mekanisme pinjaman perbankan. Begitu ada sedikit gerakan suku bunga, tidak perlu menunggu lama, perjalanan bisnis properti pun akan terpengaruh. Nah, kini bandul timbangan sedang berpihak ke sektor properti. Suku bunga acuan perbankan atau sering disebut BI rate yang sejak pertengahan 2006 turun dari level 11%-an menjadi 8,25% telah memunculkan kegairahan baru di sektor properti. Gairah itu terutama berasal dari konsumen, karena daya beli mereka otomatis terangkat begitu suku bunga bank diturunkan. Daya beli naik, permintaan rumah yang merupakan kebutuhan pokok pun melejit. Menurut pengamat properti Panangian Simanungkalit, dengan turunnya tingkat suku bunga, nilai kapitalisasi bisnis perumahan pada 2007 diprediksi meningkat 35% atau mencapai Rp23,46 triliun. "Hingga semester I, telah terealisasi sebesar Rpl0,08 triliun," paparnya. Kalau sudah begini, bukan cuma pengembang yang menikmati hasilnya, melainkan tentu saja perbankan jang menjaga lalu lintas transaksi keuangan. "Dengan suku bunga rendah ini, kami harapkan pengembang lebih bergairah, sehingga pasar KPR terus berkembang dan bertumbuh," kata Edy Heryanto, Direktur Bank Panin, kepada Media Indonesia, Selasa (21/8). Naik tajam Sebagai respons dari BI rate yang rendah, kini suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di bank-bank Indonesia cukup bervariasi mulai dari 9,5% hingga sekitar 13%. Dan memang terbukti, masyarakat cukup antusias menyambut KPR berbunga rendah ini. Setidaknya, mereka yang sebelumnya menunda beli rumah karena persoalan suku bunga, sekarang sudah berani bilang, "Inilah saatnya beli rumah." Dampaknya, penyaluran KPR sepanjang paruh pertama tahun ini sangat terlihat pertumbuhannya. Dari data Bank Indonesia diperoleh posisi (outstanding) total KPR dari bank-bank yang beroperasi di Indonesia selama semester 1-2007 mengalami kenaikan hampir sebesar Rp l0 triliun. Dari posisi Rp72,713 triliun di akhir Desember 2006 menjadi Rp82,465 triliun pada akhir Juni 2007. Data itu secara tidak langsung juga diiyakan para pelakunya. Perolehan yang ditangguk bank-bank penyalur KPR pada semester satu lalu memang mengisyaratkan pertumbuhan bisnis ini cukup membuat kepercayaan diri mereka meningkat berlipat-lipat. Ambil contoh BNI misalnya, dari Januari hingga Juni kemarin, mereka sudah menyalurkan KPR sebesar Rpl,3 triliun. Kini, posisi KPR mereka atau disebut BNI Griya sudah mencapai Rp3,554 triliun. Satu hasil yang menurut Diah Sulianto, General Manager Divisi Kredit Konsumen BNI, cukup fantastis, mengingat konsentrasi mereka di bisnis KPR baru berumur 1,5 tahun. Bayangkan, yang pemain baru saja sudah bisa menjual KPR sebesar itu. Artinya, pasar KPR ini memang baru panas-panasnya. Mau contoh pemain lama? Ada. Bank Panin, yang sudah giat di KPR sejak sebelum krisis, selama semester satu tahun ini sudah mencetak net growth hampir sebesar Rpl triliun (27%), dari posisi Desember 2006 Rp3,l triliun meningkat menjadi Rp4,09 triliun di akhir Juni 2007. "Target kami sampai akhir tahun ini sebetulnya Rp3,8 triliun. Tapi dengan hasil yang sudah dicapai sampai sekarang, saya berasumsi akhir tahun posisi KPR kami bisa mencapai Rp4,5 triliun," terang Edy. Di luar itu, pertumbuhan yang dicatat bank-bank pemimpin pasar KPR, seperti Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Niaga, BCA, Bank Danamon, atau yang baru mulai terjun, seperti Bank Bukopin dan BRI, juga tidak kalah mentereng. Itulah gambaran bagaimana legitnya pasar KPR ketika daya beli orang terkerek akibat turunnya suku bunga. Tetapi yang menarik saat ini, apa pun yang dilakukan bank untuk menggapai pasar itu, posisi konsumen tetap di atas. Artinya, kini bank akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan produk atau program yang hanya menguntungkan dirinya. Produk yang berusaha menjebak konsumen, sekarang ini boleh dibilang sudah basi kalau diterapkan. "Dalam kompetisi, para pelaku bisnis KPR sekarang sudah mulai bagus, karena masyarakat sudah mulai terdidik. Bank hanya berbicara atau menelurkan program sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen," tutur Diah Sulianto. Di saat-saat seperti ini, dalam kaca pengamat disebut market driven by customer. (Pun/S-3) 'Dengan suku bunga yang rendah, diharapkan pengembang lebih bergairah, sehingga pasar KPR terus berkembang dan bertumbuh.'  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130