Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Kiprah BUMN Menyerbu Pembiayaan Perumahan

08/06/2006
 
New Page 1 BTN sudah lama malang melintang mengucurkan KPR Bersubsidi. Belakangan beberapa bank ikut meramaikan bursa penyandang subsidi kredit rumah murah. Kini, lembaga non bank seperti Jamsostek dan Pegadaian ikutan mencicipi manisnya konsumen perumahan. Oleh: Kamsari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi kian sensual dimata konsumen perumahan murah. Lihat data dari kantor Kementrian Negara Perumahan Rakyat. Dari Penerbitan KPR bersubsidi sampai Mei 2006, sudah tersalurkan hingga 90 persen dari rencana anggaran yang disiapkan. Artinya, telah terjadi transaksi jual beli rumah baru sebanyak 34.591 unit. Menariknya, konsumen memperoleh KPR bersubsidi tidak hanya dari pioner penyalur KPR bersubsidi, Bank Tabungan Negara (BTN). Beberapa bank lain mulai tancap gas ikut mengucurkan KPR bersubsidi. Beberapa Bank tersebut antara lain Bank Negara Indonesia (BNI), BTNB Syariah, BPDB Kaltim, BPDB Kalsel, BPDB Kalbar, BPD Sulsel, dan BPDB Sumsel. Bahkan, kucuran kredit yang dilepas ke konsumen lebih besar dibanding bulan sebelumnya. Data kantor Menpera menyebut, terjadi peningkatan hingga 6.466 unit Tahun ini, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 250 miliar untuk mendukung penyediaan rumah murah. Dana tersebut bukan hanya untuk KPR bersubsidi, tapi juga untuk kredit perbaikan rumah dan berbagai program lainnya. Menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf As'ary beberapa waktu lalu, pemerintah memang menyiapkan dana KPR bersubsidi sejak awal. Dengan begitu, bank yang telah menyalurkan KPR bersubsidi bisa segera mendapat ganti dari pemerintah. Sensualitas KPR bersubsidi boleh jadi memikat banyak peminat rumah. Bayangkan, meski suku bunga KPR bertengger diangka 16 atau 18 %, tapi konsumen cukup menanggungnya sekitar 10 %. Sayangnya, melemahnya kemampuan daya beli masyarakat, membuat besaran subsidi nyaris kehilangan makna. Boleh jadi, daya beli masyarakat ikutan anjlok seiring membubungnya harga Bahan bakar Minyak yang mendongkrak semua harga barang. Tapi melempemnya kemampuan kantong masyarakat, tak mengurangi semangat beberapa BUMN untuk ikut mela-buhkan jangkarnya di bisnis landed house murah. Peminat bisnis ini rata-rata pemodal berkantong tebal seperti PT Jamsostek dan Pegadaian. Hanya saja, Jamsostek sudah sempat leading lewat konsep penyaluran kredit langsung. Puluhan milyar rupiah dikucurkan BUMN yang menampung uang bu- ruh swasta ini untuk mendukung penjualan rumah murah. Seolah tak mau kalah sigap dengan Jamsostek, Pegadaian, BUMN yang juga memiliki pundi uang bej ibun, ikut meramaikan pembiayaan rumah murah. Tak tanggung-tanggung, pebisnis pelat merah ini menggandeng Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat untuk mengucurkan kredit mikro perumahan. Apalagi kantor menteri yang levelnya sudah setara dengan departemen teknis tersebut juga membutuhkan mitra untuk menyalurkan kredit mikro. Jadilah kedua institusi tersebut memadukan kekuatannya untuk mengusung kredit mikro perumahan. Rencananya, untuk tahap awal dialokasikan dana dari APBN 2006 senilai Rp31 miliar. Menurut Menpera, sasaran dalam pembiayaan kredit mikro tidak semata-mata pemilikikan rumah baru. Tetapi juga rumah swadaya yang dibangun sendiri. "Program ini untuk menyentuh masyarakat berpenghasilan tidak tetap di sektor perumahan maka perlu memanfaatkan Lembaga Kredit Mikro seperti BMT dan pegadaian," jelas menteri. Saat ini terdapat sekitar 3000 BMT dan 800 kantor cabang pegadaian, sehingga dana untuk perumahan tersebut dapat disalurkan kepada sektor perumahan melalui pembiayaan mikro. Sementara itu, menurut Dirut Perum Pegadaian, Dedi Kusdedi, masyarakat yang akan memanfaatkan kredit perumahan cukup menggadaikan barang bergerak seperti perhiasan, surat pemilikan kendaraan bermotor, dan jaminan fidusia lainnya. Dedi belum mengetahui manfaat dana itu nantinya tetapi diharapkan dapat disalurkan dalam bentuk subsidi selisih bunga. Mungkin jika semula bunga saat ini 15 persen maka saat ini dapat ditekan 10-12 persen saja. Hanay saja Dedi menilai, perlu kebijakan lebih lanjut soal jangka waktu karena rumah butuh jangka panjang, saat ini pinjaman diberikan jangka waktu 4 bulan serta dapat diperpanjang sampai 1-2 tahun. Kiprah serupa juga siap diusung oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk). Menurut Dirut Pinbuk Amin Azis, institusi merupakan lembaga yang membawahi BMT, untuk rumah swasaya sanggup membiayai dalam jangka waktu 3-4 tahun. BMT yang masuk dalam jasa keuangan syariah dibawah Kantor Menneg Koperasi dan UKM setengahnya dikategorikan sehat sehingga hanya yang memenuhi syarat saja dipercaya untuk menyalurkan kredit mikro perumahan. "Saat ini aset BMT ada yang mampu mencapai Rp300 miliar sehingga siap untuk menjadi BPRB Syariah," ucapnya. Menggelegaknya minat pemilik modal menggero-jokan uang untuk transaksi jual beli rumah murah, merupakan kabar gembira bagi masyarakat. Dengan begitu, niat mereka untuk memiliki rumah, barangkali tinggal menunggu waktu saja.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130