Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Klaim Sukses, BTN Siap Terbitkan Lagi Rp. 1 T

Sumber: Harian Ekonomi Neraca, 30 Desember 2010
04/01/2011
Sukses dengan penerbitan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beranggun Aset (KIK-EBA) pertama dengan nilai Rp 100 miliar dan kedua bernilai Rp. 500 Miliar, kini PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) kembali menerbitkan KIK-EBA ketiga dengan nilai Rp. 750 Miliar. Secara keseluruhan, total KIK-EBA yang telah dikeluarkan BTN mencapai Rp. 1,2 Triliun.
 
Sukses dengan penerbitan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beranggun Aset (KIK-EBA) pertama dengan nilai Rp 100 miliar dan kedua bernilai Rp. 500 Miliar, kini PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) kembali menerbitkan KIK-EBA ketiga dengan nilai Rp. 750 Miliar. Secara keseluruhan, total KIK-EBA yang telah dikeluarkan BTN mencapai Rp. 1,2 Triliun.

Dirut BTN Iqbal Latanro menyatakan, KIK-EBA ini merupakan yang ketiga kalinya diterbitkan oleh BTN. Dana yang didapatkan nantinya untuk ekspansi kredit perumahan yang df tahun ini targetkan Rp. 20 triliun.

"Sebelumnya, BTN telah melakukan sekuritisasi aset melalui skema KIK-EBA pada 2009 sebesar Rp. 500 miliar. Jadi kali ini nilainya paling besar," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/12).

Penawaran KIK-EBA ketiga mendapatkan respon yang cukup besar. Dimana investor KIK-EBA mulai beragam dan tidak hanya dari PT Sarana Multigriya Finance (SMF) sebagai stand by buyer. Pembeli KIK-EBA adalah dana pensiun, perusahaan sekuritas dan PT Sarana Multigriya Finance (SMF) hanya mendapatkan porsi kecil.

Menurut Iqbal, hasil terpenting dari aksi korporasi kali ini untuk menjadikan portfolio kredit yang semula tidak likuid menjadi likuid. Langkah ini sekaligus untuk mendukung ekspansi kredit perumahan yang menjadi prioritas BIN pada 2011. Sekaligus memecahkan masalah maturity mismatch dalam pembiayan kredit kepemilikan rumah oleh BTN.

"Selama ini kan masyarakat selalu bilang, BTN banyak mengucurkan kredit jangka panjang nanun sumber dananya jangka pendek. Maka dari itu, langkah ini merupakan sekuritisasi efek bank," jelas Iqbal.

Dia mengatakan, sekuritisasi aset menjadi saalah satu alternatif sumber pendanaan perseroan, disamping penerbitan obligasi dan dana pihak ketiga (DPK). Namun, keuntungan dari sekuritisasi aset ini adalah suku bunganya yang tetap, tidak seperti DPK.

Kendatipun demikian, Iqbal mengakui pengenalan produk KIK EBA yang merupakan selcuritisasi beranggung KPR belum dikenal luas para investor.

Namun saat ini sebagian investor sudah mengetahui dan menjadi investasi yang pruden dan beresiko kecil. "Bila sudah akrab dengan para investor, tidak tertutup kemungkinan kita akan terbitkan tiap tahun atau tiga bulan sekali sebagaimana yang dilakukan sekuritisasi diluar negeri,"ungkapnya.

Begitu yakinnya, sekuritisasi KPR mampu diserap pasar secara luas membuat BTN berencana menerbitkan kembali KIK-EBA pada tahun depan dengan nilai diatas Rp. 1 Triliun. "Tahun ini kan kita akan sekuritisasi aset Rp 750 miliar. Dari tahu ke tahun pasti naik, tahun depan (2011) bisa kita tingkatkan sampai Rpl triliun dengan yield lebih rendah karena suku bunga rendah. Begitu juga bunga KPR lebih rendah dari tahun 2010," papar Iqbal.

Disampaikannya, dengan target tersebut diharapkan pembiayaan kredit pada tahun 2011 meningkat 25 sampai 30% dibandingkan tahun ini.

Hal senada juga diungkapkan Dirut SMF Erica Soeroto, KIK-EBA ketiga dengan nama DBTN 01 diharapkan dapat menjadi efek surat utang yang likuid. Bagi perbankan, sekuritasasi adalah merupakan sumber dana baru untuk penyaluran KPR baru.

EBA KPR merupakan saiah satu alternatif investasi pada surat berharga jangka panjang bagi investor dengan imbal hasil yang menarik dengan rating terbaik, aman dan risiko yang terukur dan minimum," paparnya.

Menurutnya, EBA KPR juga merupakan salah satu media investasi yang hasilnya langsung mengalir ke sektor riil, khususnya sektor pembiayaan perumahan.

Diketahui, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menyosialisasikan Efek Beragun Aset Kredit Perumahan Rakyat (EBA KPR) sebagai investasi yang aman. "EBA KPR BTN yang telah diterbitkan oleh SMF pada 2009, yakni DSMF01 dan DSMF02, mendapat rating idAAA dari Pefindo. Dengan rating tersebut menjadi cerminan bahwa EBA KPR merupakan salah satu alternatif investasi yang aman," tegasnya.

Perusahaan BUMN yang bergerak di bidang usaha pembiayaan sekunder perumahan, ini pun menggandeng Bank Indonesia dengan tujuan untuk memperkenalkan kepada pihak perbankan bahwa EBA KPR merupakan alternatif investasi fixed income yang aman.

Di masa mendatang, transaksi sekuritisasi EBA KPR yang berulang secara berkesinambungan, dapat membentuk mekanisme pasar pembiayaan sekunder perumahan yang efisien. "Kondisi tersebut secara bertahap diharapkan dapat mendorong turunnya tingkat bunga KPR dan memungkinkan kepemilikan rumah menjadi terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia," imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, jelang penutupan tahun 2010, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) Danareksa PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Kelas A bernilai Rp. 750 Miliar resmi dicatatkan di papan Bursa Efek Indonesia (BEI).

KIK-EBA mendapatkan pernyataan efektif pada 23 Desember 2010, dengan tanggal penjatahan di 27 Desember 2010. Sebelumnya dilakukan distribusi secara elektronik. Tingkat bunga yang ditetapkan sebanyak 9,25% dengan frekuensi pembayaran bunga tiap tiga bulan serta akan jatuh tempo pada 27 September 2019.

EBA tersebut diterbitkan oleh PT Danareksa Investment Management selaku Manager Investasi yang berfungsi sebagai pengelola dan PT Bank Mandiri (Persero) selaku Bank Kustodian yang berfungsi sebagai penyimpan portofolio efek. Serta selaku penjamin emisi adalah PT Kresna Graha Sekurindo, PT Trimegah Securities, dan PT Andalan Artha Advisindo.

Seperti diketahui, produk ini menggunakan underlying aset berupa kumpulan tagihan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terpilih dari PT Bank Tabungan Negara (Persero). EBA DSMF KPR BTN Kelas A adalah bersifat arus kas tetap dengan nilai pokok yang diamortisasi tiap triwulan. Tingkat bunga yang ditetapkan sebesar 9,25% dengan rata-rata umur EBA selama 5,35 tahun.

Efek ini akan dicatatkan di BEI dan diperdagangkan secara elektronik dengan mekanisme Over The Counter (OTC) diantara investor. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bertindak sebagai sentra kustodi.

Penerbitan KIK-EBA telah diatur dalam peraturan Bapepam-LK Nomor IX.K. 1, yang merupakan kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian yang mengikat pemegang EBA. Per kuartal III tahun 2010, kredit yang dikucurkan BTN sebesar Rp42,9 triliun atau meningkat 29%. ardi
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130