Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Komisi VI Dukung Rencana Go Public BTN

04/04/2005
 
JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI, Didik J. Rachbini mendukung rencana manajemen BTN untuk melakukan go public. Rencana itu dinilainya sangat baik, karena sistem administrasi dan keuangan BTN bisa dikontrol oleh masyarakat luas.       “Itu bagus kalau IPO, karena keuangan BTN bisa dikontrol publik,” jelas Didik, ketika dimintai tanggapan Investor Daily atas pernyataan Direktur Utama Bank BTN Kodradi yang meminta agar Menneg BUMN mengizinkan BTN melakukan IPO. Menurut Kodradi, rencana itu akan lebih menguntungkan bagi bank yang dipimpinnya, karena tiap tambahan ekuitas baru sebesar Rp 1 triliun, maka kredit yang disalurkan BTN bisa meningkat menjadi Rp 14 triliun. “Kita lebih untung kalau melakukan IPO. Dengan begitu, maka pendanaan kita lebi kuat ketimbang corporate action,” kata Kodradi.       Didik meminta agar BTN menawarkan saham perdananya sedikit demi sedikit, dimulai dari 30% terlebih dahulu. Selain itu, dia juga meminta agar Menneg BUMN tidak menjual bank ini pada investor asing. Serta, tidak pula dimerger dengan bank lain, karena fungsi BTN sebagai bank yang membiayai perumahan. “Jangan dimerger,” pintanya.       Sejauh ini, Didik mengaku bahwa Komisi VI belum diajak berbicara mengenai rencana IPO tersebut oleh Menneg BUMN maupun manajemen BTN. Namun, dia meminta manajemen BTN mempersiapkannya sedini mungkin.       Terpisah, Lukma Purnomosidi, Ketua Umum DPP REI meilai, opsi terbaik bagi Bank BTN adalah menawarkan saham perdana (Initial Public Offering), ketimbang rencana akuisisi maupun right issue (menerbitkan saham baru). Pasalnya, dengan menjadi perusahaan terbuka, maka Bank BTN akan mendapat dua manfaat sekaligus, yakni penambahan modal dan perbaikan manajemen. “Menurut saya, IPO jauh lebih bagus dari pada merger,” ujarnya.       Dia megatakan, yang menjadi pokok masalah Bank BTN saat ini adalah bagaimana pemerintah meningkatkan price to book value BTN menjadi 3-5 kali. Untuk itu dibutuhkan tambahan modal antara Rp3-5 triliun, dari Rp 1,027 triliun modal yang dimiliki BTN saat ini.       Dengan tambahan modal sebesar Rp 3 triliun, Lukman yakin, Bank BTN akan mampu membiayai program sejuta rumah yang telah dicanangkan pemerintah. Apalagi saat ini, Indonesia sangat membutuhkan sebuah bank perumahan. Meski belum ada, namun embrio bank perumahan itu sebetulnya sudah ada pada diri BTN. Sehingga, dirinya meminta agar BTN jangan dimerger.       “Embrionya adalah bank BTN. Menurut saya, so far, bank yang paling baik menunjukkan komitmennya adalah bank BTN,” jelasnya.       Lukman melihat masalah yang dihadapi BTN hanyalah kekurangan modal, sama seperti yang dihadapi bank-bank lain di Indonesia. Pilihan-pilihannya pun banyak, mulai dari IPO, akuisisi, dan merger. Namun, opsi merger, lanjut dia, hanyalah bertujuan menggabungkan modal, dan tidak menambah modalnya sama sekali.       “Tapi, itu terserah pemegang saham. Kita sudah memberikan masukan yang paling baik, dan saya pikir sektor ini sangat berharga,” ujar dia.     
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130