Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Komitmen Tinggi Kapasitas Terbatas

03/04/2006
 
New Page 1 ADA yang menarik dari pengakuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat meresmikan rumah sederhana se hat (RSh) formal ke-100 ribu medio Maret 2006 lalu di Semarang. Ketika itu presiden mengaku kalau rumah pertamanya di daerah Jaka Sampurna, Bekasi, dibeli melalui fasilitas kredit perni likan rumah (KPR)Bank Tabungan Negara (BTN). Pengakuan yang sebetulnya sederhana itu seakan menegaskan lagi bahwa penyediaan pembiayaan RSh memang sangat identik dengan BTN. Bahkan orang nomor satu di negeri ini pun dulunya juga ikut merasakan manfaat dari keberadaan bank ini. Jadi, pengakuan presiden tadi juga merupakan pengakuan akan eksistensi BTN sebagai bank perumahan yang terus berlari dengan membawa komitmennya. Keidentikan BTN dengan rumah sederhana tidak terjadi begitu saja. Prosesnya sangat panjang sejak bank ini ditunjuk sebagai agent of development di bidang pembiayaan perumahan pada 1974 lalu. Sejak saat itu hingga kini, BTN terus setia dengan core businessnya sebagai bank perumahan, dan setia dengan komitmennya untuk tidak berhenti menyalurkan kredit bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tercatat sekitar 1,77 juta unit rumah sudah dibiayai BTN melalui KPR subsidi selama periode 1976-2005. Artinya, selama kurang lebih 20 tahun itu, BTN telah menyalurkan KPR subsidi dengan nilai hampir mencapai Rp14,68 triliun. Masalah yang kemudian muncul, BTN seakan menjadi single fighter dalam arena pembiayaan RSh bersubsidi. Contoh paling mutakhir, dari 100 ribu RSh yang sudah terbangun tadi, 97% dibeli lewat fasilitas KPR subsidi BTN.,Sisanya yang 3% dibagi-bagi ke 30-an bank lain yang sebenarnya juga telah berkomitmen menyalurkan KPR subsidi sebelumnya: Inilah salah satu yang dituding menjadi penyebab lambatnya proses penyediaan rumah untuk kalangan MBR. Komitmen seolah hanya dimiliki BTN. Padahal, kapasitas BTN sebagai bank yang memi liki aset sebesar Rp29,08 triliun (2005) tidak cukup mampu mengimbangi kebutuhan rumah sederhana yang setiap tahunnya paling tidak sebanyak 200 ribu unit. Modal sebesar Rp1,46 triliun yang saat ini dimi liki BTN pun menjadi terlihat sangat kecil kalau bank ini dibiarkan menjadi petarung tunggal tanpa ada dukungan dari bank-bank lain. Bisa-bisa target penyediaan RSh bakal tidak pernah tercapai, karena dengan modal 'sekecil' itu ekspansi yang bisa dilakukan BTN akan sangat terbatas. Pengamat ekonomi dan perbankan Umar Juoro menyatakan setuju bila kapasitas BTN memang harus diperbesar. "Kalau memang mungkin diperbesar, ya diperbesar," katanya. Caranya, menurut Umar, sangat tergantung pada pemerintah sebagai pemegang sahamnya. "Tapi akan lebih baik lagi kalau selain memperbesar kapasitas BTN, pemerintah juga terus mendorong bank-bank di luar BTN untuk ikut terlibatdalam penyediaan pembiayaan RSh," lanjut dia. Saat ini banyak bank yang sebetulnya mulai memfokuskan bisnisnya ke kredit perumahan. Tapi hampir semuanya memilih segmen KPR komersial untuk kelas menengah-menengah dan menengahatas. Sangat sedikit bank yang mau melayani kredit skala ' kecil, apalagi kredit subsidi dengan alasan SDM mereka tidak punya skill dan knowledge yang cukup untuk mengurusi kredit kecil-kecil berjumlah banyak ini. Memang, untuk urusan skill dan knowledge SDM ini, BTN belum ada lawan. Pengalaman sekaligus komitmen perusahaan telah menempa orang-orang BTN menjadi tenaga-tenaga yang andal dalam bisnis KPR. Tidak mengherankan jika Menteri Negara Perumahan Rakyat M Yusuf Asy'ari pernah mengusulkan, kalau memang bank-bank bermodal besar di luar BTN masih enggan menggarap pasar rumah sederhana dengan alasan keterbatasan skill tadi, ada baiknya kalau mereka melakukan chan neling dengan BTN. "Biarlah BTN yang mengurusi, bank-bank besar ini hanya kasih likuiditas dananya," tegas Menteri. Dengan demikian, likuiditas berlebih yang dimiliki bank-bank besar ini dapat dimanfaatkan secara optimal melalui tangan BTN. Inilah salah satu upaya yang mungkin bisa dilakukan selain memperbesar kapasitas BTN itu sendiri. Namun, di luar rencana-rencana dari pemegang saham untuk memperbesar kapasitas bank yang berdiri sejak 1897 ini, manajemen BTN tetap menyatakan komitmennya untuk terus berada di jalur bisnis KPR, terutama untuk kelas menengah ba wali. MEDIA/ADAM DP BANK PERUMAHAN: BTN lahir dan besar sebagai bank perubahan. Komitmen itu yang terus dijunjung tinggi. Tapi alangkah sayangnya kalau komitmen itu akhirnya harus mentok karena persoalan kapasitas yang terbatas. "Dalam rencana jangka panjangnya komitmen BTN tetap sebagai bank penyalur KPR untuk RSh," ungkap Direktur Kredit BTN, Siswanto. Dengan komitmen itu pun, terbukti secara bisnis, BTN tetap merupakan sebuah institusi yang cukup profitable. Paling tidak dalam tiga tahun terakhir ini pertumbuhan laba terus terjadi. Bahkan pada saat laba bank-bank lain untuk 2005 lalu mengalami penurunan, BTN justru mencatat peningkatan. Laba bersih 2004 lalu yang tercatat sebesar Rp370 miliar, naik menjadi Rp419 miliar di akhir 2005. Tapi sekali lagi, jika hanya mengandalkan komitmen BTN, itu tidak akan cukup untuk mengimbangi besarnya kebutuhan perumahan di Indonesia. Komitmen tinggi di tengah kemampuan dan kapasitas yang terbatas pada akhirnya juga tidak akan menyelesaikan masalah. Pemerintah perlu melakukan terobosan untuk mencari jalan keluarnya. (Punto/S-1)  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130