Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Konsep minimalis landa rumah sederhana

16/05/2008
 
New Page 1 Oleh Rachmad Hidayatullah Kontributor Bisnis Indonesia Konsumen properti dinilai cukup lentur untuk menurunkan tingkat ekspektasi-nya terhadap properti yang akan dibeli untuk dihuni. Pelajaran pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2005 menjadi bekal kalangan perbankan dalam mencermati kelenturan ekspektasi tersebut. Kepala Bank Tabungan Negara Cabang Surabaya Tony Harmanto mengatakan karakteristik masyarakat Indonesia ini dapat ditelusuri sejak pertama kali dikenalkannya konsep kredit pemilikan rumah (KPR) di Indonesia pada 1976. Saat itu, mayoritas masyarakat mencibir rumah dengan ukuran 76 m, yang banyak dibiayai KPR, dengan sebutan rumah sangkar burung. Alasannya, ukuran tersebut dinilai sangat mungil pada zaman itu di mana lahan masih tersedia luas. "Semakin tahun, ukuran rumah di Indonesia semakin kecil. Dari 76 m menjadi 54 m Lantas berkurang lagi menjadi 36 m- yang kemudian mengecil lagi menjadi 21 m Bahkan sempat ada yang membangun ukuran 18 m" urai Tony di Surabaya, kemarin. Tentu kian mengecihiya ukuran rumah tersebut tidak lepas dari semakin mahalnya harga material bangunan, naiknya inflasi, ataupun faktor penurunan daya beli masyarakat atas produk konsumer, tetapi sekaligus bisa menjadi produk investasi ini. Ilustrasi sisi permintaan di atas menunjukkan bahwa sebesar apa pun tekanan yang mesti dipikul masyarakat atas berbagai kenaikan segala komoditas, tidak lantas menyurutkan kehendak mereka berbelanja rumah atau produk properti lainnya. Tak heran sebab properti digolongkan sebagai kebutuhan primer bertajuk papan. Komposisi 1:4 Harga lahan semakin mahal, maka semakin banyak pengembang besar menabung lahan. Salah satu pengembang besar memakai komposisi 1:4, artinya seperempat lahan dibangun, sedangkan tiga perempat sisanya dipersiapkan untuk pembangunan berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga proyek-proyek mereka berkelanjutan. Harga material melonjak, tudingan awal pastilah tertuju pada melejitnya harga minyak dunia, padahal BBM menjadi komponen biaya yang cukup besar dalam produksi material-material tersebut. Tata niaga material bangunanpun kerap memicu kenaikan harga sebab sering berpola dengan sangat mengagetkan. Suatu saat terjadi kelangkaan semen, saat lain giliran besi menghilang dari pasaran. Suku bunga kredit modal kerja tergolong pemantik laten kenaikan harga properti. Otoritas moneter tentu berkepentingan menjaga tingkat inflasi agar kinerjanya dinilai mengilap, meski di satu sisi merugikan pihak-pihak tenentu. Saat semua ngotot untuk naik, maka jalan tengah dicari. Konsumen tidak ngotot membeli rumah ukuran yang lebih besar dari kemampuannya untuk melunasi. Alternatifnya, mereka membeli rumah dengan ukuran lebih kecil. Inilah yang dimaksud konsumen domestik properti Irdonesia cukup lentur, (redaksiĀ® bisnis.co.id)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130