Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Kredit Konstruksi Rusun Jangan Ditanggung BTN Sendiri

08/05/2008
 
New Page 1 Kamsari NERACA Jakarta - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) berharap penyediaan kredit konstruksi untuk Rusunami tidak dibebankan kepada BTN sendiri. Akan tetapi lebih baik jika kredit konstruksi diberikan dengan membentuk sindikasi dengan bank lain. "Jangan ada kesan kalau kredit konstruksi mengandalkan BTN, tetapi saat sudah jadi dan diikat KPA barulah bank lain ramai-ramai menawarkan produknya," ujar Iqbal Latanro usai penandatanganan perjanjian kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk di Jakarta Rabu. Mengenai program Rusunami, Iqbal menjelaskan sampai Maret 2008 kredit konstruksi BTN mencapai Rp227,9 miliar untuk 15 menara, serta dalam proses persetujuan Rp72 miliar bagi 13 tower. Sementara untuk kredit perumahan BTN dari target Rpl0,04 triliun sampai dengan April 2008 telah direalisasikan Rp2,8 triliun. Sedangkan untuk Rumah Sederhana Sehat pada periode yang sama telah direalisasikan Rp961 miliar untuk 23.896 unit. Terkait dengan langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate dan pengaruhnya ke BTN, Iqbal menegaskan, BTN tidak akan melakukan revisi target kredit baru pada 2008 yang sebesar Rp 10,4 triliun. Iqbal menyebut, tahun ini BTN menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 27 persen, aset tumbuh dari Rp36 triliun menjadi Rp70,1 triliun, sedangkan kredit naik dari Rp22,3 triliun menjadi Rp59,9 triliun. Menurut Iqbal, pengalaman kenaikan BBM pada bulan Oktober 2006 sebesar 120 persen tidak membuat BTN harus merevisi target. "Kami percaya pemerintah akan mengeluarkan kebijakan susulan untuk mengantisipasi turunnya daya beli masyarakat seperti pengalaman sebelumnya," jelasnya. Dia menambahkan, berdasarkan analisa saat ini belum perlu melakukan revisi. Pemerintah terkait dengan kenaikan BBM biasanya akan memberikan kompensasi kenaikan subsidi. Pengaruh dari BBM dan BI Rate kata Iqbal, mungkin adanya kenaikan inflasi. "Akan tetapi sifatnya hanya sementara saja, karena begitu inflasi berangsur-angsur normal, maka praktis bunga kredit juga mengalami penurunan," ujarnya. Iqbal menegaskan, imbas dari kenaikan harga BBM baru dirasakan jika nasabah BTN terkena PHK dari perusahaannya. "Kalau perusahaannya terkena dampak dan melakukan PHK, itu baru akan mempengaruhi BTN," urainya Kenaikan BI Rate Sementara itu, pengamat properti Panangian Simanungkalit mengungkap, kenaikan BI Rate yang mencapai 25 basis poin tidak akan mengganggu sektor properti. Sektor properti justru diuntungkan dengan adanya limpahan dana dari pasar finansial yang melakukan spekulasi ke sektor ini. "Properti tidak akan terganggu dengan kenaikan 25 basis poin, justru diuntungkan adanya pelimpahan dari pasar finansial, dimana orang banyak berspekulasi di properti termasuk tanah. Ada pelimpahan dana dari sektor finansial ke sektor riil," ujarnya. Bahkan ia yakin sektor properti akan terus menggeliat dan tumbuh pada tahun ini. Ia memperkirakan properti bisa tumbuh hingga 8 persen pada tahun 2008. "Properti terguncang kalau BI Rate naik sampai 200 poin, atau mencapai rate 10 persen," ujarnya. Dari segi kredit kepemilikan rumah (KPR), Panangian masih optimistis kalau properti akan terus berkibar. Selama ini, katanya banyak KPR yang menerapkan fix bunga dalam tempo hingga 3 tahun.*
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130