Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Kredit Pemilikan Rumah Bersubsidi

15/06/2006
 
New Page 1 Syarif Fadilah NERAGA Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi memang diminati konsumen perumahan yang dya belinya relative rendah. Dari data kantor Kementrian Negara Perumahan Rakyat, penerbitan KPR bersubsidi sampai Mei 2006, sudah tersalurkan hingga 90 persen dari rencana anggaran yang disiapkan. Artinya, telah terjadi transaksi jual beli rumah baru sebanyak 34.591 unit Menariknya, konsumen memperoleh KPR bersubsidi tidak hanya dari pioner penyalur KPR bersubsidi, Bank Tabungan Negara (BTN). Beberapa bank lain mulai tancap gas ikut mengucurkan KPR bersubsidi. Beberapa Bank tersebut antara lain Bank Negara Indonesia (BNI), BTNB Syariah, BPDB Kaltim, BPDB Kalsel, BPDB Kalbar, BPD Sulsel, dan BPDB Sumsel. Bahkan, kucuran kredit yang dilepas ke konsumen lebih besar dibanding bulan sebelumnya. Data kantor Menpera menyebut, terjadi peningkatan hingga 6.466 unit Tahun ini, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp250 miliar untuk mendukung penyediaan rumah murah. Dana tersebut bukan hanya untuk KPR bersubsidi, tapi juga untuk kredit perbaikan rumah dan berbagai program lainnya. Nantinya dengan adanya subsidi bunga itu nasabah hanya menanggung sebagian dari bunga yang ditetapkan oleh bank. Jadi meski suku bunga KPR bertengger diang ka 16 persen atau 18 persen, tapi konsumen cukup menanggungnya sekitar 10 per sen. Untuk KPR Non Subsidi dan Non KPR saat ini semua bank memberikan bunga bervariasi antara 13,5 persen sampai 18 persen. BTN sendiri bunganya mencapai 18 persen. Namun pengenaan bunga itu hanya ditujukan untuk permohonan kredit baru Non Subsidi, sedangkan kredit yang telah berjalan masih pada kisaran 13,5 persen sampai 14,5 persen. Menurut Erica Soeroto Sarana Multigriya Finansial mengatakan ada tiga jenjang pemberian KPR bersubsidi, jenjang pertama dengan melalukan subsidi pada uang muka KPR. Yang kedua dengan pemberian subsidi pada cicilan bunga dan ketiga adalah gabungan keduanya. Jika nasabah mendapat subsidi pada uang muka maka yang dibayarkan kepada bank sebagai uang muka akan dikurangi dengan subsidi. Misalnya uang muka KPR-nya adalah Rpl5 juta dan subsidi yang didapatnya Rp 10 juta, maka nasabah hanya harus membayar Rp5 juta. Subsidi uang muka ini juga dibagi dua, jelas Erica. Pertama yang berasal dari pemerintah dan kedua yang berasal dari Bapertarum (Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan).   Lain lagi jika yang disubsidinya adalah cicilan bunga per bulannya. Nantinya cicilan nasabah akan dikurangi dengan subsidi yang diterimanya. Namun bank akan menerima dana subsidi dari pemerintah secara sekaligus. Jika yang didapat adalah gabungan keduanya maka tinggal dihitung berapa subsidinya lalu tinggal dikurangi uang muka dan cicilan yang harus dibayar nasabah. Berdasarkan data hingga 31 Mei 2006 dari jumlah KPR yang sudah disetujui permohonannya sebanyak 34.591 unit, baru sekitar 17.752 unit saja yang sudah dimintakan verifikasinya ke pemerintah. Sementara subsidi KPR yang diklaim untuk dicairkan baru 11.179 unit dengan total dana Rp40,7 miliar atau 5 persen saja.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130