Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Kredit Properti Terus Menggeliat

29/01/2007
 
Properti boleh dibilang sebagai sektor yang tidak pernah mati. Saat sektor lain terpuruk akibat terlilit krisis ekonomi, bisnis properti malah memperlihatkan wajah anomali. Di mana-mana tampak pembangunan rumah dan toko (ruko), apartemen, pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, kondominium, dan perumahan. Berdasarkan data Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) tahun 2006, kredit yang dikucurkan dalam usaha sektor properti mencapai Rp 114,808 triliun. Itu meliputi kredit konstruksi Rp 28,008 triliun, kredit real estat Rp 14,2 triliun, dan kredit pemilikan rumah (KPR) serta kredit pemilikan apartemen (KPA) Rp 72,6 triliun. Tahun 2007, sektor ini tetap menjadi .primadona dengan total kredit yang akan dikucurkan diprediksi mencapai Rp 142,81 triliun atau naik 24,4 persen dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 114,8 triliun. Kredit itu terdiri konstruksi Rp 36,18 triliun, real estat Rp 16,3 triliun, dan KPR serta KPA Rp 90,4 triliun. Bank Tabungan Negara (BTN) selaku bank yang membiayai kebutuhan papan mengalokasikan dana kredit senilai Rp 7,8 triliun untuk membiayai bisnis properti pada tahun 2007. Jumlah itu naik 41,8 persen dibandingkan dengan realisasi kredit BTN tahun 2006 sebesar Rp 5,5 triliun. Bisnis ruko Kendati demikian, tidak semua subsektor properti bakal menggeliat di tahun 2007. Menurut Direktur Eksekutif PSPI Panangian Simanungkalit, bisnis ruko, apartemen, kondominium, pusat perbelanjaan, dan pusat perkantoran kemungkinan mengalami keterpurukan. Apartemen, pusat perkantoran, serta kondominium, misalnya, dibangun untuk disewakan kepada orang asing. Akan tetapi,selama tiga tahun terakhir kehadiran pekerja asing di Indonesia sangat terbatas sebab minimnya investasi dan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, jumlah penyewaan dan pendapatan yang diperoleh pengembang tak sebanding dengan biaya yang telah diinvestasikan. Di lain pihak, ruang apartemen, kondominium, pusat perkantoran, dan pusat perbelanjaan yang tersedia sejak tahun 2005 telah mengalami kelebihan pasokan. Pemicunya adalah kondisi ekonomi yang ada tidak mampu menyerap semua stok properti. "Yang punya prospek pada tahun 2007 hanya perumahan. Mengapa? Karena saat ini suku bunga KPR cenderung turun. Bank Internasional Indonesia (BII), misalnya, telah memberlakukan bunga KPR sebesar 12 persen pada tahun pertama. Begitu pula Bank Niaga sebesar 13 persen," kata Panangian. Geliat pertumbuhan subsektor perumahan itu baru akan tampak pada semester kedua tahun 2007. Alasannya, perbankan membutuhkan waktu minimal tiga bulan untuk menyesuaikan diri dengan penurunan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 9,75 persen pada akhir tahun 2006. Bahkan, penurunan BI Rate itu diperkirakan .masih terjadi selama tahun 2007 hingga mencapai level 8 persen-8,5 persen. Dengan selisih terendah sekitar 350 basis poin, berarti tingkat suku bunga KPR diprediksi bakal berada pada kisaran 11,5 persen sampai 12 persen pada semester II tahun 2007. "Jika itu terjadi, antusiasme masyarakat untuk membeli rumah makin meningkat," ujar Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi. Hingga akhir tahun 2006, sekitar 7,2 juta penduduk masih membutuhkan rumah.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130