Kredit Properti Tinggi, BI Dilematis
New Page 1 JAKARTA (MI) Bank Indonesia memperingatkan tingginya pertumbuhan kredit properti akan menambah risiko bank dalam dua sampai enam bulan ke depan. Namun, BI juga mengakui pertumbuhan kredit itu memiliki efek berantai pada pertumbuhan ekonomi. "Kredit
properti tumbuhnya lebih tinggi sampai 37,1%. Itu tinggi sekali tapi di dalam kredit ini terdapat multiplier effect, terutama yang ke belakang. Misalnya linkage-nya pada industri semen, industri konstruksi pada umumnya, hingga menyediakan lapangan kerja dan
mengurangi pengangguran," ungkap Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Halim Alamsyah kepada wartawan di Jakarta, kemarin. Menurut Halim, kondisi itu menjadi dilematis bagi BI sebagai otoritas pengawasan perbankan. Pasalnya, di satu sisi kondisi ekonomi
yang menghadapi tekanan inflasi sangat berisiko bagi bank dalam menyalurkan kredit properti. Namun, sisi lain pembiayaan itu sangat dibutuhkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya, Gubernur BI dalam pengumumannya mengatakan kebijakan menaikkan
suku bunga acuan BI (BI rate) salah satunya disebabkan tingginya likuiditas masyarakat akibat pertumbuhan kredit yang sudah di atas target BI. Saat ini BI menargetkan pertumbuhan kredit hanya 24,6%. Namun, kenyataannya pertumbuhan kredit perbankan sudah menyentuh
level 31,4%. Hal itu diakui Halim. Menurutnya, komposisi kredit perbankan yang tumbuh 31,4% didominasi kredit modal kerja. Porsi pertumbuhan sektor modal kerja itu mencapai 34% diikuti kredit investasi (29%) dan kredit konsumsi (29%). Artinya, pertumbuhan
kredit modal kerja masih cukup tinggi dan cepat dibandingkan kredit investasi maupun konsumsi. Menurut Halim, hal itu disebabkan volume usaha yang semakin meningkat akibat kegiatan ekonomi juga naik. Akan tetapi hal itu bisa juga disebabkan kenaikan tingkat
harga akibat tekanan inflasi. Semakin tingginya kebutuhan modal kerja karena kenaikan bahan baku membuat kredit sektor ini meningkat drastis. "Inflasi ini kan meningkatkan tingkat harga, terutama di sektor ritel," tambahnya. Lebih jauh, Halim menjelaskan terdapat
tiga sektor yang terbesar menyerap kredit modal kerja. Sektor ini ialah sektor manufaktur, terutama industri otomotif dan kendaraan bermotor. Sektor kedua ialah sektor perdagangan terutama di sektor ritel. Ketiga ialah sektor usaha jasa lainnya yang juga terkait
erat dengan konsumsi. Sehingga, pertumbuhan sektor ini masih sangat terpengaruh dengan kondisi inflasi yang tinggi. (Toh/E-1)