Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Laba BTN Naik 70%

Sumber: Investor Daily, 24 Januari 2011
27/01/2011
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) membukukan kenaikan laba bersih yang belum diaudit sekitar 60-70% pada 2010. Lonjakan pertumbuhan tersebut membuat laba bersih bank pelat merah itu menjadi sekitar Rp 784-833 miliar.
 
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) membukukan kenaikan laba bersih yang belum diaudit sekitar 60-70% pada 2010. Lonjakan pertumbuhan tersebut membuat laba bersih bank pelat merah itu menjadi sekitar Rp 784-833 miliar.

"Perolehan laba bersih BTN tahun lalu meningkat dibanding sebelumnya yang ditopang dari penyaluran kredit dan penerapan sistem akuntansi baru," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro pada acara Rapat Kerja BTN 2011 di Yogyakarta,Jumat (21/1).

Awal tahun lalu, Iqbal mengungkapkan, target laba bersih BTN 2010 sebesar Rp 746 miliar. Target perolehan laba bersih itu meningkat 52,24% dibanding pencapaian 2009 Rp 490 miliar. Sampai akhir September 2009, laba bersih BTN telah mencapai Rp 597 miliar, lebih tinggi Rp 107 miliar atau naik 21,83% di banding pencapaian akhir Desember 2009.

Pertumbuhan laba bersih 2010, menurut Iqbal, dicapai seiring pertumbuhan penyaluran kredit perseroan. Pertumbuhan kredit BTN pada tahun lalu diperkirakan mencapai 25-30%.

Ia mengungkapkan, kenaikan laba bersih pada 2010 ditunjang pembalikan dana pencadangan dari penerapan sistem akuntansi keuangan (PSAK) 55 baru. Penerapan PSAK tersebut memungkinkan pengalihan dana pencadangan yang berlebih ke pos pendapatan. Adanya pengembalian pencadangan yang berlebih tersebut mandongkrak perolehan laba bersih perseroan.

Dalam PSAK 55 disebutkan bahwa bank harus memberikan pencadangan sesuai dengan kondisi portofolio kredit yang ada saat itu. Besar pencadangan yang diberikan setara dengan jumlah nilai kredit bermasalah yang ada pada bank tersebut.

Kredit Baru

Direktur BTN Purwadi mengungkapkan, pihaknya menargetkan penyaluran kredit baru pada tahun ini mencapai Rp 26 triliun. Penyaluran kredit tersebut tumbuh 23,80% dibanding pencapaian perolehan kredit baru sepanjang 2010 sebesar Rp 21 triliun.

Purwadi menjelaskan, sebanyak Rp 18 triliun dari target perolehan kredit baru pada tahun ini bakal dipenuhi dari kredit konsumsi terutama dari bisnis kredit pemilikanrumah (KPR). Sementara itu, sisanya Rp 8 triliun dari kredit komersial.

Menurut dia, BTN masih meng-andalkan KPR dalam pengembangan bisnisnya. Kontribusi KPR diperkirakan mencapai 85% dari total kredit BTN. Sementara sisanya di luar KPR seperti kredit konstruksi maupun pembangkit listrik (power-plant).

Pada bisnis syariah, Purwadi mengungkapkan, BTN mencetak pengumpulan aset sebesar Rp 2,8 triliun pada akhir 2010. Sedangkan penyaluran KPR syariah pada akhir tahun lalu mencapai Rp 1,8 triliun. Tahun ini perseroan menargetkan outstanding penyaluran KPR syariah mencapai Rp 2,4 triliun.

Pengembangan bisnis syariah BTN dilakukan melalui unit usaha syariah (UUS) yang berlangsung sejak 14 Februari 2005. Perseroan akan mengkaji pemisahan (spin off) UUS tersebut dari BTN pada tahun depan.

Tujuan pendirian UUS Bank BTN adalah untuk memenuhi kebutuhan nasabah akan produk dan layanan perbankan sesuai prinsip syariah. Sebagai bagian dari Bank BTN yang merupakan Bank BUMN, BTN Syariah menjalankan fungsi intermediasi dengan menghimpun dana masyarakat melalui produk-produk giro, tabungan, dan deposito, serta menyalurkan kembali ke sektor riil melalui berbagai produk pembiayaan KPR, kredit multiguna, investasi, dan modal kerja.

Beberapa produk pembaiyaan syariah BTN adalah kredit pemilikan rumah (KPR) BTN iB, KPR Indensya BTN iB, kendaraan bermotor BTN iB, modal kerja BTN iB, Yasa Griya BTN iB, Gadai syariah, dan Swagriya BTN iB.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130