PT Bank Tabungan Negara Tbk, pada semester 12010, membukukan laba bersih Rp 390,61 miliar. Laba ini melonjak 97,11 % dibanding periode sama tahun lalu Rp 198,16 miliar.
Lonjakan laba bersih tersebut ditopang kenaikan di semua segmen bisnis perseroan. "Peningkatan laba bersih terutama didorong kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan efisiensi perseroan," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro saat paparan kinerja di Jakarta, Kamis (15/7).
Direktur Keuangan BTN Saut Pardede menambahkan, Nil perseroan meningkat 59,48% dari Rp 970 miliar pada semester 12009 menjadi Rp 1,54 triliun. Peningkatan ini disebabkan pertumbuhan bunga bersih yang signifikan sekaligus penurunan beban bunga.
Iqbal menjelaskan, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) badan usaha milik negara (BUNM) itu tumbuh dari 4,04% menjadi 5,81%. Pendapatan berbasis komisi (fee based income) juga naik dari periode sama tahun lalu Rp 75 miliar menjadi Rp 139 miliar.
Kenaikan tersebut didukung peningkatan penyaluran kredit sebesar 29,61%, dari sebelumnya Rp 35,81 triliun menjadi Rp 46,41 triliun. Sebagian besar penyaluran masih dikontribusi kredit pemilikan rumah (KPR).
"Sebanyak 92,2% dari total kredit dikontribusi KPR dan sisanya 7,8% dari segmen lain," papar dia.
Selling peningkatan kredit, dana pihak ketiga (DPK) perseroan tumbuh 16,69%, dari Rp 34,28 triliun pada semester 12009 menjadi Rp 39,99 triliun semester I lalu. Sebagian besar DPK masih berupa deposito sebanyak 68,3%, sisanya 31,7% dana murah (tabungan dan giro).
Untuk rasio kecukupan modal (capital'adequacyratio/'CAR), lanjut Iqbal, naik dari 15,59% pada akhir Juni 2009 menjadi 18,71%. Kenaikan tersebut berkat tambahan modal dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/WQ) saham awal tahun ini.
Aset perseroan meningkat 25,14% menjadi Rp 60,95 triliun. Pada akhir Juni 2009, aset bank pelat merah ini sebesar Rp 48,70 triliun.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, lanjut dia, perseroan telah membuka 98 Kiosk BTN dan menambah 555 kantor layarian setingkat kantor kas di kantor pos.
"Total kantor layanan tersebut mencapai 2.105, yang bersistem online," imbuh dia.
Tingkatkan Dana Murah
Iqbal menjelaskan, pihaknya menargetkan perolehan dana murah 2010 meningkat hingga mendominasi DPK dengan porsi 65%. Saat ini, porsi dana murah masih sekitar 40%.
Dia menuturkan, tahun lalu, porsi dana murah perseroan masih sekitar 35% dari total DPK. "Saat ini, BTN menempati posisi lima besar dari sisi perolehan dana murah perbankan nasional, berkat lonjakan giro dan tabungan. Kami akan mempertahankan posisi lima besar Urscbut," imbuh dia.
Iqbal memperkirakan, pertumbuhan DPK tahun ini sekitar 20%. Pada 2009, DPK perseroan naik 27,64% dari tahun sebelumnya Rp 31,5 triliun menjadi Rp 40,2 triliun.
"Perseroan mengadakan program undian untuk memperkuat loyalitas nasabah sekaligus meningkatkan dana tabungan. Program undian yang dicanangkan sejak awal 2003 terbukti berdampakpositif terhadap penghimpunan DPK BTN," ucap dia.
Kegiatan promosi tersebut dibarengi peningkatan aktivitas pemasaran yang lain. Hasilnya, DPK perseroan terus tumbuh dari Rp 19,1 triliun pada 2003 menjadi Rp 40,2 triliun tahun 2009.
"Untuk kredit, BTN menargetkan pertumbuhan mencapai 27% tahun ini. Pertumbuhan tersebut di atas kenaikan kredit perbankan yang ditargetkan Bank Indonesia (BI) sebesar 20%," papar Iqbal.
la yakin target tersebut dicapai, apalagi ada perbaikan jaringan teknologi informasi yang bisa mempercepat proses penyaluran kredit. Perseroan telah menyiapkan dana Rp 343 miliar untuk pembangunan infrastruktur, baik untuk mengembangkan teknologi informasi maupun pembangunan cabang baru.
Hingga 2012, bank pelat merah itu akan membuka 100 Kiosk BTN.
Target Laba
BTN juga menargetkan pertumbuhan laba yang cukup tinggi pada 2010, mencapai 51%. Menurut Iqbal, pertumbuhan laba ini dimungkinkan karena ada tambahan dana segar hasil IPO akhir tahun lalu.
Tahun lalu, laba perusahaan meningkat 14% dari Rp 430 miliar pada 2008 menjadi Rp 490 miliar. Pertumbuhan laba ini ditopang kenaikan kredit yang mencapai 27,19%, dari Rp 30 triliun menjadi Rp 40,7 triliun.
Aset bank tersebut juga meningkat 30% dari Rp 44,9 triliun pada 2008 menjadi Rp 58,5 triliun tahun 2009. Peningkatan itu membawa BTN menempati posisi kesembilan dari 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan DPK dari Rp 31,5 triliun menjadi Rp 40,2 triliun.
la menjelaskan, rasio kecukupan modal BTN per Desember 2009 mencapai 20,7% atau meningkat 5% dari Desember 2008. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (nonperforming ratio/NPR) naik dari 2,6% menjadi 2,7%.