Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Lebih Tenang dengan KPR Syariah

11/05/2005
 
Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada paruh kedua 1997 dan mencapai puncaknya pada 1998-1999, banyak orang yang dibuat kalang kabut oleh cicilan Kredit pemilikan rumah (KPR) yang melonjak drastis. Kenaikan cicilan tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai lebih dari separuhnya. Misalnya, cicilan KPR Rp 500 ribu bisa melejit menjadi Rp 800 ribu.             Itulah salah satu ciri kredit pemilikan rumah (KPR ) yang disalurkan oleh bank-bank konvensional. Besarnya cicilan tiap bulan bisa berubah setiap saat begitu ada kenaikan suku bunga.             Hal itu berbeda dengan KPR Syariah. Cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) yang disalurkan oleh Bank Syariah itu sifatnya tetap selama masa kontrak. Misalnya, besar cicilan rumah Rp 1 juta sebulan maka hingga habis masa kontrak besar cicilan tetap satu juta sebulan. Apapun yang terjadi besar cicilan tidak akan berubah. Mengapa itu bisa terjadi? Pembiayaan Perumahan Bank Syariah (KPR Syariah) mengunakan pola murabahah (jual beli) untuk rumah yang sudah jadi. Misalnya, harga rumah Rp 150 juta, dibagi 10 tahun, maka didapat cicilan Rp 1.250.000,- per bulan. Bisa pula rumah itu masih dibangun, maka polanya disebut istisna. Cara perhitungannya sama, yakni jumlah pembiayaan dibagi lamanya masa cicilan.             Besarnya cicilan KPR Syariah tidak akan berubah meskipun suku bunga perbankan (Konvensional) gonjang-ganjing. Itulah salah satu keuntungan memakai KPR Syariah. “KPR Syariah lebih menenangkan bagi konsumen. Mereka dapat merencanakan keuntungannya dengan lebih baik tanpa khawatir terjadi kenaikan cicilan selama masa kontrak,” kata General Managar Permata Bank Syariah, Ismikus Hartanto.             Jadi, tambah Ismi, pilihan kepada KPR Syariah tak hanya sekedar alasan ghirah (semangat beragama). “Orang yang paling rasioanal pun setuju bahwa KPR Syariah lebih menenangkan, karena layak dijadikan pilihan pembiayaan dalam pembelian rumah,” tandasnya.  Kue masih sangat besar             Dewasa ini beberapa bank Syariah menyediakan KPR Syariah. Sebut saja, Permata Bank Syariah, Bank BTN Syariah, Niaga Syariai dan BII Syariah.             Permata Bank Syariah menyediakan produk khusus KPR Syariah yang dinamakan Permata Pembiayaan Pemilikan Rumah Syariah (Permata PPR Syariah). “Kami menyediakan 15% dari portfolio pembiayaan kami tahun 2005, atau senilai Rp 40 miliar untuk KPR Syariah,“ kata Ismi.             Alokasi KPR Syariah itu, kata Ismi, bisa untuk membeli kavling, renovasi rumah maupun membeli rumah baru maupun apartemen. “Untuk pembelian rumah baru, kami menyiapkan skim pembiayaan dari Rp 150 juta sampai Rp 3 miliar, “ ujar Ismi.             Dia menambahkan, potensi bisnis KPR Syariah sangat besar.” Hingga saat ini pasokan rumah selalu berada di bawah kebutuhan. Dan jumlah terus pasti akan meningkat, sejalan dengan bertambahnya pasangan baru tiap tahun. Kue bisnis KPR, termasuk KPR Syariah, masih sangat besar,” tandas Ismi.             Bank Tabungan Negara (BTN) yang selama ini lebih memfokuskan layanan jasa dan produknya pada krediat pemilikan rumah (KPR), juga membuka layanan yang sama pada BTN Syariah dengan produk unggulannya KPR Syariah.             Produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah Bank BTN diharapkan dapat diterima pasar. Pasalnya selama ini penyaluran kredit KPR dari BTN masih menggunakan KPR konvensional. “Saya berharap kehadiran KPR Syariah dapat mendukung program sejuta rumah, yang untuk tahun 2005 ditargetkan 225 ribu unit rumah sederhana sehat (RSH).” Kata Direktur Utama BTN Kodradi di Jakarta beberapa waktu lalu.             Pada tahun 2004, Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat kenaikan KPR yang cukup besar. Bahkan target yang ditetapkan pada 2004 sebanyak 60 ribu unit rumah sederhana, mampu terlampaui hingga mencapai 68.750 unit atau senilai Rp 1,73 triliun. Sedangkan pada tahun 2005 ini, BTN menargetkan penyaluran KPR sebanyak 75 ribu unit rumah sederhana, 3000 unit diantaranya merupakan KPR Syariah.             BII Unit Usaha Syariah, tahun ini berencana untuk menggarap serius Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah. Mengingat tingginya animo masyarakat yang mengajukan permohonan pembiayaan rumah.             BII Syariah rencananya akan membuat produk yang khusus melayani pembiayaan di sektor perumahan, mulai dari pembiayaan konstruksi, modal kerja, maupun Kredit Pemilikan Rumah (KPR) agar nantinya dapat ditawarkan secara massal.             Saat ini, asset BII Syariah mencapai Rp 230 miliar, dan pembiayaan Syariahnya yang sudah tersalurkan mencapai Rp 130 miliar serta diperkirakan masih akan terus berkembang di tahun 2005 ini.             Sektor terbesar yang dibiayai BII unit Syariah masih merupakan sektor perdagangan, sedangkan pagu pembiayaan terbesar Rp 28 miliar di pegang sektor industri. Sedangkan KPR meskipun sudah ada yang memanfaatkan untuk membeli rumah dan apartemen tetapi belum dikemas secara khusus.             Berkaitan hal itu, dimana kebutuhan pembiayaan perumahan semakin meningkat, maka dalam waktu dekat Bank BII akan meluncurkan Syariah, ujarnya.             Sementara itu, Bank Niaga juga mulai serius menggarap KPR Syariah. Setelah pada September 2004 silam resmi membuka Unit Usaha Syariah (UUS), Bank Niaga langsung menyediakan keanekaragaman produk syariah seperti Giro Niaga Syariah (Wadiah), Tabungan Niaga Syariah (Mudharabah), Deposito Niaga Syariah (Mudharabah) dan Buah Hati Niaga (Mudharabah).             “Produk pembiayaan juga disediakan seperti KPR Syariah (Murabahah & IMBT), KPM Syariah (Murabahah) dan pembiayaan serba guna (Murabahah dan Ijarah),” jelas Peter D Stock, Presdir Bank Niaga. 
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130