Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Membeli Rumah dengan Pengalihan Pinjaman

26/06/2007
 
OLEH LUSIANA INDRIASARI Membeli rumah dengan cara pengalihan pinjaman atau oper kredit dianggap lebih mudah dan murah. Pembeli tidak perlu mengecek status sertifikat karena bank sudah membuktikan keabsahannya. Meski demikian, hindari praktik jualbeli di bawah tangan karena sangat berisiko. Dengan alasan tidak mau repot, praktik jual beli di bawah tangan ini sering dilakukan. Tanpa sepengetahuan bank, pihak pembeli langsung meneruskan angsuran yang sebelumnya dibayar pemilik lama. Permasalahan muncul ketika pinjaman yang diambil alih sudah lunas. Ketika sertifikat hendak diambil, bank tidak memberikan karena dalam sertifikat tersebut masih tercantum nama pemilik lama. Risiko lain, pemilik lama bisa diam-diam mengambil sertifikat yang ada di bank tanpa sepengetahuan pembeli. "Ini yang sering memicu pertengkaran. Sebaiknya setelah jualbeli, sertifikat langsung dibalik nama atas nama pembeli," ujar Siswanto, Direktur Bank Tabungan Negara (BTN). Bank Tabungan Negara adalah bank yang memberikan pinjaman terbanyak di sektor perumahan. Sebanyak 98 persen bisnis yang dikembangkan BTN ada di sektor perumahan. Sebaliknya, pihak penjual juga bisa dirugikan jika sertifikat tidak segera dibalik nama. Kalau pembeli tiba-tiba tidak bisa meneruskan angsuran, pemilik lama tetap bertanggung jawab melunasi tunggakan. Kalau dilakukan dengan benar, menurut Siswanto, pembelian rumah dengan cara pengalihan pinjaman lebih aman karena proses jualbeli dilakukan dengan perantaraan bank. Sebelum memberi pinjaman, bank mengecek terlebih dulu keabsahan tanah dan bangunan. Jika semua sudah memenuhi persyaratan, bank baru memberikan kucuran dana kepada debitor. Sertifikat kemudian disimpan di bank untuk dijadikan jaminan sampai angsuran lunas. "Kalau ada tanah bermasalah, tidak mungkin bank mau memberi kredit," ungkap Siswanto. Sedangkan membeli rumah bekas langsung dari penjual, pembeli harus, melakukan pembuktian sertifikat sendiri. Kalau tidak tahu selukbeluknya, pembeli bisa tertipu karena sekarang banyak sertifikat ganda. Membeli rumah dengan cara oper kredit juga bisa dilakukan melalui pengembang. Selain bank, ada juga pengembang yang memberikan pinjaman uang kepada pembeli. Cara tersebut menuntut kehati-hatian dari calon pembeli. Sebelum akad kredit, pembeli sebaiknya menelusuri lebih dulu keberadaan sertifikat rumah yang dijual. Menurut Siswanto, ada pengembang nakal yang menjaminkan lagi sertifikat rumah kepada pihak lain. Alih debitor bentuk lain dari pembelian rumah yang masih dalam status pinjaman adalah alih debitor. Pembelian dengan cara alih debitor ini prinsipnya sama-sama mengalihkan angsuran ke orang lain. Hanya saja pada alih debitor, status pinjamannya masih memiliki tunggakan angsuran yang sudah jatuh tempo. Sedangkan pada pengalihan pinjaman tidak ada tunggakan angsuran yang jatuh tempo. Menurut Dody Agoeng, Divisi Hukum dan Hubungan Perusahaan BTN, pembelian rumah dengan cara alih debitor lebih murah dibandingkan membeli pengalihan pinjaman. Pasalnya, pada alih debitor, pembeli yang meneruskan angsuran tidak dikenai ketentuan baru, seperti suku bunga atau biaya administrasi yang baru. "Tinggal meneruskan angsuran sesuai ketentuan yang berlaku sebelumnya," kata Dody. Pada alih debitor, pembeli harus melunasi lebih dulu tunggakan yang sudah jatuh tempo. Sedangkan pada pengalihan pinjaman, pembeli dikenai ketentuan baru yang berlaku saat itu. Jadi, bila ada kenaikan suku bunga, biaya administrasi, dan lain-lain, maka pembeli akan menanggung biaya itu. Pada alih debitor pembeli memiliki posisi tawar karena bank berkepentingan rumah yang angsurannya macet itu bisa cepat terjual. Menurut Dody, besarnya tunggakan masih bisa ditawar. Demikian juga cara pembayarannya. Jika debitor baru tidak memiliki uang untuk melunasi tunggakan, maka pelunasannya bisa dimasukkan dalam cicilan. Meskipun pembelian rumah dengan cara alih debitor lebih murah, biasanya kondisi bangunan sudah tidak bagus atau tidak layak huni. Menurut Dody, rumah yang dijual adalah rumah yang sudah disita bank karena pembelinya menunggak angsuran. Oleh karena itu, biasanya rumah sitaan ini kondisinya tidak terawat. "Bisa mendapat rumah dengan kondisi 60 persen masih bagus saja sudah bagus," kata Dody. Ia menambahkan, pembeli yang ingin membeli rumah dengan status alih debitor biasanya hanya mengincar tanahnya. Cari informasi Bagi yang ingin membeli rumah dengan status alih debitor bisa mencari informasi ke bagian yang menangani tunggakan kredit macet di bank. Agar bisa menyesuaikan dengan anggaran, calon pembeli yang ingin membeli rumah secara oper kredit atau alih debitor sebaiknya mencari informasi rinci tentang posisi pinjaman, seperti berapa jumlah tunggakan, utang pokok, dan bunga yang berlaku. Pembeli juga harus pandai-pandai memilih bank yang memberi fasilitas kredit. Jangan sampai pembeli terjebak iming-iming bank dan akhirnya malah tidak bisa membayar angsuran.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130