Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Menakar Fee-Based Income Bank BUMN

04/06/2008
 
New Page 1 Oleh Paul Sutaryono Pengamat & Praktisi Perbankan Siapa bilang kinerja bank nasional tidak kinclong? Ini terekam dalam Laporan Keuangan mereka per akhir Desember 2007 dan triwulan I 2008. Bagaimana kinerja bank BUMN khususnya dalam meraih pendapatan non-bunga (fee-based income) di tengah persaingan tajam? Kinerja Sebagai bank model, kita pilih Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN. Berbekal capital adequacy ratio (CAR dengan memperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar) rata-rata 18 persen, semua bank BUMN mampu meningkatkan laba bersih kecuali BNI. Mengapa? Karena BNI lebih fokus untuk meningkatkan cadangan dalam mengantisipasi potensi risiko a.l. ancaman resesi. Laporan Keuangan per akhir Desember 2007, BRI memimpin dengan gagah perkasa dengan peningkatan laba bersih dari Rp 4,26 triliun menjadi Rp 4,84 triliun. Ini diikuti Bank Mandiri Rp 4,35 triliun, BNI Rp 897,93 miliar dan BTN Rp 402,02 miliar. Secara kuantitatif, Bank Mandiri merajai dengan peningkatan 79,75 persen disusul BRI 13,62 persen, BTN 10,24 persen dan BNI minus 53,89 persen. Tetapi secara kualitatif, BRI menempati posisi teratas. Pemimpin pasar (market leader) terkini. Pengelolaan Kredit Mampukah mereka mengelola risiko kredit dengan manis? Ini dapat ditilik dari kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) net. Semua bank model menunjukkan perbaikan yang signifikan kecuali BTN. Simak saja BRI yang memimpin dengan 0,88 persen membaik dari 1,29 persen yang dibayangi Bank Mandiri 1,32 persen (dari 6,06 persen), BNI 4,01 persen (dari 6,55 persen). Sayang sekali BTN justru menurun dari 1,77 persen menjadi 2,81 persen namun masih di bawah ambang batas lima persen seperti dipersyaratkan Bank Indonesia (BI). Artinya, semua bank sukses mengerem kredit bermasalah. Bagaimana rasio kredit berbanding dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR)? Mengingat LDR ideal 85 persen-110 persen, maka BTN unggul dengan LDR 92,38 persen. Ini berarti BTN paling mampu mengemban fungsi intermediasi sekalipun NPL menurun tipis. Bank lainnya masih di bawah 85 persen. Namun perlu angkat topi untuk BNI yang telah meningkatkan LDR dari 49,02 persen menjadi 60,56 persen sedangkan LDR Bank Mandiri dan BRI malah merosot. Rentabilitas BRI layak menjadi bintang. "Bank wong cilik" ini kembali unjuk gigi dalam tingkat rentabilitas yang tampak pada return on assets (ROA) 4,61 persen, return on equity (ROE) 31,64 persen dan net interest margin (NIM) 10,69 persen. Unggul dalam semua lini. Mengingat rasio ideal ROA 1,5 persen, ROE 12 persen dan NIM 5 persen, maka tingkat rentabilitas hampir semua bank model cukup memuaskan. Fee-based Income Kini bank nasional gemar bermain di sektor perbankan konsumsi (consumer banking) dengan menawarkan kartu kredit, kartu debet, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan apartemen (KPA), kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit tanpa agunan (KTA). Untuk apa? Untuk mengejar pendapatan non-bunga alias fee-based income (FBI) ketika pendapatan dari bunga kredit (interest income) belum memuncak. Sejauh mana bank pelat merah mampu meraih FBI? Ternyata semua bank pemerintah mampu meningkatkan perolehan FBI kecuali BTN (lihat Tabel). Bank Mandiri berada di posisi teratas di antara delapan bank nasional papan atas dengan Rp 3,24 triliun (naik dari Rp 2,63 triliun) disusul BNI Rp 2,95 triliun (dari Rp 2,44 triliun), BRI Rp 1,78 triliun (dari Rp 1,51 triliun). Kinerja yang hebat Hanya BTN yang merosot dari Rp 309,09 miliar menjadi Rp 265,03 miliar. Ini sejalan dengan penurunan NPL net dari 1,77 persen menjadi 2,81 persen tetapi masih aman karena di bawah ambang batas lima persen. Bagaimana posisi bank BUMN di antara bank swasta? BCA dengan FBI Rp 2,59 triliun di posisi ketiga setelah BNI tetapi di atas BRI. Padahal selama ini bank terbesar kedua ini menjadi pemimpin pasar dalam perbankan konsumsi. Posisi kelima sampai kedelapan diduduki Bank Danamon Rp 978,39 miliar, Bank Niaga Rp 677,86 miliar dan Bank Panin Rp 348,43 miliar serta BTN Rp 265,03 miliar. Kesimpulan Apa yang dapat disimpulkan dari data di atas? Pertama.semua bank BUMN dapat meraih laba bersih. Sayangnya, tidak semua mampu meningkatkan laba bersih. Secara kualitatif, BRI memimpin dengan Rp 4,84 triliun namun secara kuantitatif Bank Mandiri merajai dengan peningkatan 79,75 persen. Kinerja cantik ini tetap dipelihara hingga triwulan I -2008. Buktinya, BRI tetap memimpin dengan laba bersih Rp 1,40 triliun yang disusul Bank Mandiri Rp 1,39 triliun, BNI Rp 153,26 miliar dan BTN Rp 108,14 miliar. Kedua, BTN memimpin dalam LDR dengan 92,38 persen yang menandakan bahwa bank yang fokus ke pembiayaan perumahan mampu menunjukkan fungsi intermediasi dengan ciamik. BNI juga melaju. Namun bank raksasa Bank Mandiri dan BRI yang seharusnya mampu menyalurkan kredit lebih besar eh justru menurun. Padahal total aset mereka meningkat tajam. Namun semua bank mampu menekan NPL di bawah lima persen. Ingat, BI terus mendorong penurunan bunga kredit melalui BI Rate yang terus merosot hingga 8,25 persen. Faktanya, dana tidur di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tetap tinggi Rp 221,5 triliun sampai awal April 2008 sehingga BI mengeluarkan biaya bunga Rp 17,72 triliun per tahun! Ongkos moneter yang mahal. Tentu dana parkir di SBI kian memuncak bila bunga The Fed terus meluncur turun. Ketiga, Bank pemerintah sukses mengejar perolehan FBI kecuali BTN. Kinerja ini dipimpin Bank Mandiri di antara delapan bank nasional papan atas. Lebih unggul daripada bank swasta bahkan BCA sekalipun. Sungguh kabar baik! Namun jangan lupa untuk terus meningkatkan penyaluran kredit guna mendorong roda ekonomi nasional di tengah gejolak kenaikan harga BBM dan ancaman resesi global. "Siapkah? (Harian Ekonomi Neraca)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130