Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Menanti

29/03/2006
 
New Page 1 Kamsari NERACA Ingat Robin Hood, itu tokoh pahlawan dari Hutan Sherwood. Atau si Pitung, pendekar keadilan dari Marunda. Kedua tokoh ini begitu peduli pada kesulitan masyarakat bawah. Meski Robin Hood atau Pitung hanya dikenal lewat buku, tapi jiwa kepedulian pada masyarakat bawah telah menemukan pewarisnya, Bank Tabungan Negara. Lewat kiprahnya, bank yang piawai di sektor perumahan ini, telah "merumahkan" lebih dari 2 juta orang. Entah apa jadinya industri "lowcost housing" jika dulu mantan Presiden Soeharto tak menelurkan regulasi yang memposisikan Bank Tabungan Negara sebagai perbankan yang khusus membiayai penyediaan rumah murah. Keberpihakan pada pembiayaan rumah murah tersebut yang akhirnya memberi "berkah" bagi banyak orang. Jutaan orang kemudian sukses memiliki rumah dengan dukungan pembiayaan dari Bank Tabungan Negara (BTN). Sejak regulasi tahun 1974 itu muncul, sejarah mencatat Bank BTN sebagai satu-satunya bank dengan core business di industri perumahan. Sejak itu pula, pemerintah bisa sedikit menarik napas lega lantaran salah satu beban beratnya, menyediakan rumah murah bagi masyarakat, bisa tertanggulangi. Sayangnya, beban tersebut lantas berpindah ke pundak Bank BTN. Apalagi, prestasi BTN sebagai agent of development di bidang pembiayaan perumahan menunjukkan hasil menggembirakan. Dari data yang ada menunjukkan, sampai dengan akhir tahun 2005 Bank BTN telah menyalurkan kredit lebih dari Rp. 41 Triliun yang diperuntukkan bagihampir 2,7 juta masyarakat negeri ini. Dengan prestasi yang benderang tersebut, tak heran kalau kemudian Bank BTN menjadi tumpuan harapan banyak orang yang ingin punya rumah. Alhasil kalau kemudian BTN identik dengan rumah murah. Boleh dibilang, kalau ada orang yang ingin punya rumah, langsung saja akan teringat pada Bank BTN. Itulah fenomena saat ini tumbuh di masyarakat Indonesia tentang keberadaan Bank BTN. Bank pelat merah yang saat ini dipimpin oleh Kodradi, sebagai direktur utama. Kerja keras Kodradi dan awak BTN dalam lima tahun terakhir boleh dibilang dahsyat dan luar biasa. Bayangkan, dari bank yang semula terjerembab dan terpaksa hidup dari bantuan pemerintah, kini BTN sudah melejit menjadi bank dengan kinerja terbaik. Bahkan, disaat bank lain merugi, Bank BTN justru meraup laba besar. Hingga kini, Bank BTN masih tetap merajai dalam urusan pembiayaan perumahan di Indonesia. Meskipun banyak bank yang terjun ke bisnis KPR dengan berbagai macam promosi yang digelar untuk meraih konsumen, nama Bank BTN tak pernah lepas dari ingatan masyarakat. Bank BTN tetap menjadi pilihan untuk urusan pembelianrumah. Ini bukan sebutan kosong belaka, menurut Ir Haryono Po, Marketing Manager PT Nadya Villa, anak perusahaan Ispi Pratama yang telah mengembangkan beberapa perumahan sederhana di kawasan Bekasi dan Tangerang, sekitar 80 persen konsumen perumahannya, dibantu oleh Bank BTN. Sisanya, baru oleh bank swasta lain. Ungkapan senada datang dari Ronald T Wihardja, Asisten Direktur Megapolitan Group. Profesional ini menyebut banyak konsumennya yang lebih memilih fasilitas kredit KPR dari Bank BTN daripada harus ke bank lain. Meskipun terkadang suku bunga BTN relatif lebih tinggi satu atau dua persen. "Mereka bilang, BTN punya nurani dalam berurusan dengan nasabah. Kalau nasabah terlambat membayar satu atau dua bulan, tidak lantas diserbu oleh debt collector," jelas Ronald. Sementara jika membeli rumah dengan fasilitas kredit KPR dari bank lain, baru terlambat membayar cicilan sebulan saja, nasabah sudah dikejar oleh para penagih dari bank. Sejauh ini, Megapolitan Group sudah menjual 1200 unit rumah sehat sederhana (RSH) di kawasan Sentul, Bogor, dan semuanya memakai fasilitas KPR dari BTN. Menggeluti bisnis KPR, barangkali sudah jadi suratan takdir Bank BTN. Itu sebabnya Bank BTN amat serius dengan bisnisnya. Terbukti, realisasi penyaluran kreditnya karena selalu kebablasan alias melebihi target. Data terakhir BTN selama dua tahun ke belakang menjadi bukti sahih kualitas kinerja manajemen bank tersebut. Dari Rp 3,3 Triliun dana kredit yang disiapkan BTN tahun 2004, telah terealisasi hingga Rp 4 Triliun lebih. Sementara pada tahun 2005, dari alokasi kredit sebesar Rp 4,08 Triliun, realisasinya mencapai Rp 5,7 Triliun. Alhasil outstanding kredit pada tahun yang sama mengalami pertumbuhan masing-masing Rp 12,6 Triliun pada tahun 2004 dan meningkat menjadi Rp 15,4 Triliun pada tahun 2005. Dari realisasi sebesar Rp 5,7 Triliun pada tahun 2005, itu mayoritas kredit masih terkonsentrasi pada pembiayaan perumahan yang nilainya mencapai Rp 4,2 Triliun. Sisanya dimanfaatkan untuk kredit konstruksi yang terealisasi sebesar Rp 1,1 Triliun. Khusus untuk kredit konstruksi ini pun juga melewati target. Dari Rp 750 Milyar yang dialokasikan BTN untuk mendukung kredit konstruksi ini, sampai dengan Desember 2005 terealisir sebesar Rp 1,1 Triliun.' Go publik Bank BTN boleh saja sudah bergelar master dalam urusan penyaluran kredit. Namun jangan bicara kekuatan modalnya. Hingga kini, total assetnya baru sekitar Rp 30 triliun. Masih kalah dibanding bank pelat merah lainnya. Kondisi ini tentu saja berimbas pada kemampuannya dalam memberikan kredit Tahun ini saja, BTN hanya mentargetkan penyaluran kredit pemilikan rumah bersubsidi sebesar 75 ribu unit. Padahal, kebutuhan pasar masih berada diangka ratusan ribu unit. Bayangkan, total kebutuhan rumah yang belum mampu dipenuhi sekitar sejuta unit rumah. Itu sebabnya pemerintah lewat Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat mencanangkan program sejuta rumah. Tapi program pembangunan sejuta rumah bakal menjadi impian disiang bolong tanpa kekuatan keuangan bank BTN. Lantaran, seperti Robin Hood atau si Pitung tadi, hanya bank BTN yang konsisten mengucurkan kredit KPR. Bahkan sekarang memulai kiprahnya dalam KPR bersubsidi syariah. Minimnya kekuatan modal BTN memang jadi kendala tersendiri. Meski masyarakat berduyun-duyun menyimpan uangnya di BTN, plus melepas obligasi berkali-kali, namun dana pihak ketiga yang masuk belumlah cukup untuk mengcover pembiayaan perumahan. Alhasil, pilihan paling realistis hanya dengan melepas sahamnya ke lantai bursa. Dengan kinerja Bank BTN yang kinclong, kalangan analis bursa memprediksi saham bank BTN bakal menjadi primadona. BTN merupakan satu-satunya bank yang fokus menggarap pasar pembiayaan perumahan atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Di bursa belum ada emiten yang seperti BTN. "Saya percaya BTN memiliki daya tarik tersendiri bila nanti jadi melakukan Initial Public Offering (IPO)," begitu kata Edwin Sebayang, analis saham dari Evergreen Capital. Penilaian Edwin diamini oleh analis dari Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA), Mirza Adityaswara. Menurutnya, langkah IPO bakal menguntungkan dan memberi nilai tambah bagi BTN. Tidak saja modal kian membesar - solusi atas alasan merger yang sempat ramai diperdebatkan beberapa waktu lalu, namun dengan IPO, birokrasi dan manajemen di BTN pastinya lebih transparan. Boleh jadi pandangan kedua analis saham tersebut berbau pembelaan terhadap bank BTN. Namun, seperti juga cerita Robin Hood dulu, pahlawan ini memang banyak dibela orang. Bukan tidak mungkin, pembelaan tersebut bisa berwujub membeli saham Bank BTN dilantai bursa. Tak peduli berapa pun tinggi harga yang ditawarkan. Nah sekarang, tinggal kita tunggu ketegasan pemerintah untuk menambah modal BTN di lantai bursa. Atau, program sejuta hanya menjadi mimpi disiang bolong.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130