Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Menimbang Tingkat Efisiensi Bank BUMN vs

13/05/2008
 
New Page 1 Oleh Paul Sutaryono Pengamat Praktisi Perbankan Laporan Keuangan bank nasional per akhir Desember 2007 terbit sudah. Bagaimana tingkat efisiensi bank BUMN versus "bank asing? BOPO Kita ambil BNI, Bank Mandiri, BRI dan BTN sebagai duta bank BUMN. "Bank asing" adalah bank swasta nasional yang mayoritas sahamnya telah dikuasai bank asing. Kita pilih BCA, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Panin, BII, Bank Permata dan Bank Lippo. Dari mana mengetahui tingkat efisiensi? Dari BOPO (Beban Operasional termasuk, beban bunga berbanding Pendapatan Operasional termasuk pendapatan bunga). Untuk mendeteksi tingkat efisiensi, kita amati rasio BOPO. Makin tinggi BOPO, makin tidak efisien bank tersebut Dari 11 bank nasional terbesar, BCA menduduki peringkat tertinggi dengan BOPO 66,73 persen menurun (artinya membaik) dari 68,84 persen. Artinya, BCA sebagai bank terefisien. Ia dipepet ketat BRI 69,80 persen, Bank Lippo 72,82 persen, Bank Panin 73,74 persen, Bank Danamon 74,19 persen yang semuanya membaik. Peringkat berikutnya Bank Mandiri 75,85 persen, Bank Niaga 82,70 persen, Bank Permata 84,80 persen dan BTN 85,87 persen yang juga menunjukkan perbaikan tingkat efisiensi kecuali BII dan BNI yang justru merosot. BII menipis dari 89,82 persen menjadi 90,49 persen dan BNI anjlok dari 84,79 persen menjadi 93,04 persen. Mengingat BOPO yang ideal berkisar antara 70 persen dan 80 persen, maka BCA, Bank lippo, Bank Panin, Bank Danamon, BRI dan Bank Mandiri dinobatkan sebagai bank efisien dalam mengelola bisnis. Pelajaran Pelajaran apa yang dapat dipetik? Data itu menggambarkan bahwa BRI dan Bank Mandiri termasuk bank efisien dengan BOPO di bawah 80 persen. BOPO BNI dan BTN masih di atas 80 persen yang menyiratkan belum efisien. Tetapi BTN telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Temyata bank BUMN masih kalah efisien daripada "bank asing" terutama BCA, Bank Lippo, Bank Panin dan Bank Danamon dengan BOPO di bawah 80 persen. Mengapa "bank asing" lebih efisien? Untuk menjawabnya, mari kita cermati hipotesa ini. Pertama. Sejatinya, BOPO menunjukkan tingkat produktivitas karyawan. Dan tingkat produktivitas itu terkait dengan penerapan manajemen sumber daya manusia (SDM) berbasis kompetensi (competency-based human resources management). Mengingat "bank asing" diasuh grup finansial atau bank asing, maka kemungkinan besar mereka sudah lebih dulu menerapkannya. Dengan bahasa terang, SDM dituntut untuk, terus menerus mengembangkan dan meningkatkan kompetensi. Apa kompetensi itu? Kompetensi (competency) merupakan gabungan dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dah sikap, perilaku atau kualitas pribadi (attitude) yang diperlukan setiap karyawan sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan secara optimal (Lyle M. Spencer Signe M. . Spencer, Competence at Work Models for Superior Performance, 1993). Sarinya, kompetensi keras (hard competency) yang berupa pengetahuan dan keterampilan maupun kompetensi lunak (soft competency) yang berupa sikap atau perilaku wajib dipacu. Tiada henti. Makin tinggi kompetensi karyawan, makin tinggi harga transfer mereka seperti halnya pebola tingkat dunia David Beckham dan Christiano Ronaldo dengan transfer jutaan dollar AS. Logis bila perpindahan (turn over) karyawan bank asing dan "bank asing" lebih sering terjadi daripada bank BUMN. Apa hubungan BOPO dengan produktivitas? Karyawan dengan kompetensi tinggi sangat diharapkan mampu menghasilkan produktivitas tinggi. Produktivitas itu a.l. tercermin dalam rasio BOPO. Dalam persaingan ketat dalam industri perbankan nasional terkini, karyawan mau tidak mau harus meningkatkan kompetensi kalau tidak rela tersisih. Persaingan itu kian memanas ketika bankir asing membanjiri perbankan nasional. Untuk itu, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia No.9/8/2007 tentang Pemanfaatan Tenaga Kerja Asing dan Program Alih Pengetahuan di Sektor Perbankan yang berlaku efektif 13 Juni 2007. Sedikit banyak, ketentuan ini merupakan salah satu upaya untuk melindungi bankir lokal dari serbuan bankir asing. Kedua. "Bank asing juga sudah menerapkan manajemen kinerja (performance management) untuk mengukur kinerja karyawan a.1. dengan sistem manajemen kinerja (performance management system/PMS). PMS, memuat semua indikator kinerja utama (key performance indicators/KPI) pemimpin unit bisnis (strategic business unit/SBU) dan unit fungsional (strategic Junction unit/SFU). Contoh nyata, KPI untuk SBU a.1. net profit, return on assets (ROA), return on equity (ROE); loan to deposit ratio (LDR), loan recovery rate dan BOPO. Dengan bahasa jernih, pencapaian kinerja semua karyawan harus mengacu, mengarah dan mengerucut pada KPI pemimpin mereka yang kemudian terekam dalam laporan PMS setiap bulan. Artinya, ketika pemimpinnya mencantumkan misalnya KPI "BOPO 79 persen" itu menegaskan bahwa semua karyawan senang tidak senang harus bekerja keras untuk meraihnya Apa manfaatnya? PMS akan memacu karyawan untuk mencapai target tersebut pada suatu periode misalnya semester I 2008. Mereka dituntut untuk melakukan dua hal. Pertama, menekan beban atau biaya misalnya personalia, perjalanan dinas, perjamuan tamu dan biaya kantor a.l. fotokopi, telepon; listrik, lembur. Ini merupakan BO (beban operasional) yang wajib ditekan serendah mungkin. Di sisi lain, mereka juga wajib menggenjot PO (pendapatan operasional) setinggi mungkin. Misalnya, meraih margin tinggi dalam setiap transaksi tetapi dengan biaya dana rendah atau menawarkan tarif kompetitif untuk remitansi (remittance) tenaga kerja Indonesia. PMS sungguh membuat karyawan lari lebih kencang untuk memberikan kontribusi dengan lebih terukur. Beberapa bank BUMN juga sudah menerapkannya. Pantas, laba bank nasional mengkilap dengan perbaikan tingkat efisiensi.* (Harian Ekonomi Neraca)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130