Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Menpera Undang Bank Danai Rumah Bersubsidi

08/04/2005
 
Peran BTN perlu ditiru oleh bank lain agar kebutuhan rumah terpenuhi.           JAKARTA – Menpera Mohammad Yusuf Asy’ari, mengundang lembaga keuangan selain Bank Tabungan Negara (BTN) untuk ikut masuk dalam pembiayaan rumah bersubsidi, yakni rumah sederhana sehat (RSH). Mereka diharapkan dapat memberikan jangka waktu (tenor) cicilan kredit di atas 15 tahun.          Minat bank lain untuk mendanai RSH, menurut Menpera, sebenarnya cukup besar. Ia mencontohkan Bank Danamon dan mengharapkan Bukopin ikut berminat. “Sudah ada yang menghubungi kami untuk mendiskusikannya. Memang ada yang setuju dan tidak, “katanya di Jakarta, Rabu (6/4).          Menpera mengharapkan portfolio mereka diperbesar pada pembiayaan RSH dan masuk dengan tenor lebih lama. “Kalau BTN maksimal 15 tahun, bank lain diharapkan mau memberikan 20 tahun. Dengan begitu, bisa meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah,” tuturnya.          Terhadap rencana BTN untuk menurunkan suku bunga KPR, Menpera juga menyambut baik. Bagi dia, itu juga akan membantu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bisa memiliki rumah karena daya beli mereka melemah. “Saya inginnya penurunan suku bunga KPR BTN itu serendah mungkin. Tapi, ini juga tergantung dari cost of fund BTN,” ujar Menpera yang tidak sepakat BTN dimerger dengan bank pemerintah lain karena justru dibutuhkan penambahan bank seperti BTN.          Pentingnya lebih banyak bank yang berkiprah pada pembiayaan RSH, menurut Menpera, karena pada 2005 ini permerintah menargetkan pembangunan RSH sebanyak 225 ribu unit. Namun, sampai saat ini realisasinya masih tersendat-sendat, antara lain karena kecilnya jumlah subsidi, yaitu Rp 200 miliar. Jumlah itu hanya cukup untuk 60 ribu unit rumah.          Menyangkut kelanjutan system pembiayaan jangka panjang untuk perumahan atau secondary mortgage facility (SMF) yang juga dapat menopang program penyediaan rumah, Menpera menyatakan saat ini tinggal tahap implementasi pembentukan badannya. Termasuk penempatan personil untuk jajaran direksi yang merupakan wewenanag Departemen Keuangan. “Kita juga terus mengkaji SMF di luar negeri dengan mengirimkan tenaga ahli. Ini supaya penyelenggaraan SMF itu bisa optimal.”          Dana yang terkumpulk untuk SMF saat ini tercatat Rp 2,5 triliun. Menpera menyatakan sumbernya dari         APBN sebesar Rp 1 triliun dan komitmen Jamsostek Rp 1,5 triliun. RSH Belum Naik         Segala daya dan upaya, kata Menpera, harus dikerahkan untuk mencapai target program pembangunan RSH. Di tengah pencanangannya kini juga muncul tantangan, yaitu permintaan pengembang agar harga RSH naik 30 persen atau dari Rp 36 juta menjadi Rp 46,8 juta per unit.             Tuntutan kenaikan harga RSH tersebut muncul terutama setelah terjadi kenaikan harga BBM yang memicu melonjaknya harga-harga bahan bangunan. Namun, Menpera menilai kenaikan sebesar itu terlalu tinggi dan akan banyak rumah yang dibangun tidak laku karena saat ini daya beli masyarakat masih rendah.             Lalu, dibentuk tim untuk merumuskan kenaikan harga yang pantas dan terjangkau. Tim ini terdiri atas unsure Kantor Menpera, Real Estate Indonesia (REI), serta Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana dan Sangat Sederhana Indonesia (Apersi). “Sampai sekarang perumusannya belum final dan belum tepat waktunya untuk mengumumkan kenaikan harga RSH,” tutur Menpera.             Pertimbangan menunda pengumuman kenaikan harga RSH, jelas Yusuf, karena belum rampungnya persoalan kenaikan harga BBM dan penyusunan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) oleh DPR dan Pemerintah. “Kita tidak ingin membuat situasi makin kisruh dan memanas,” katanya.             Dalam situasi yang tidak kondusif ini, dia menilai jangan sampai harga yang telah disepakati tim besarannya tidak sesuai dengan keinginan DPR. “Jika mengikuti diskusi pemerintah dengan DPR tentang kenaikan harga RSH, hasilnya kan masih mengambang. Kalangan DPR ada yang sudah setuju dan belum setuju,” jelasnya.             Tertundanya kenaikan harga RSH mengecewakan ketua DPP REI, Lukman P. “REI kecewa dengan tanggapan pemerintah soal harga RSH,” katanya.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130