Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Minat Investor pada SMF Syariah Cukup Besar

16/12/2005
 
New Page 1 SMF Syariah tercantum dalam rencana bisnis lima tahun PT Sarana Multigriya Financial. JAKARTA -- Minat investor untuk membeli aset secondary mortgage facility (SMF) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) secara syariah diperkirakan cukup besar. Namun skema SMF syariah di Indonesia paling lambat baru bisa diluncurkan dalam lima tahun mendatang. "Saya tak khawatir dengan SMF syariah. Pasti ada yang berminat. Potensi investor dalam dan luar negeri sangat besar sepanjang produk KPR syariah menarik," kata Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF), Erica Soeroto, usai acara penyerahan bantuan pemerintah Jepang lewat Asian Development Bank (ADB) sebesar 600 ribu dolar AS, kemarin (14/12). Secara formal Erica mengaku belum menawarkan SMF syariah kepada investor karena produknya memang belum ada dan SMF sendiri memang belum operasional penuh. Namun melalui pembicaraan informal serta melihat pengalaman produk SMF syariah di luar negeri, dia melihat minat investor memang cukup tinggi. Namun Erica menjamin produk SMF untuk KPR syariah akan dibuat. "Terus terang belum disiapkan. Tapi, dalam rencana bisnis kami lima tahun mendatang sudah tercantum agendanya," kata dia lagi. Erica menjelaskan potensi SMF menarik investor internasional sangat besar. Saat ini PT SMF masih mempelajari minat investor dan karakter portofolio KPR syariah. Adanya SMF menolong perbankan yang mempunyai pembiayaan KPR dalam jangka panjang. SMF melakukan sekuritisasi aset KPR perbankan untuk kemudian dijual kepada investor. Pembiayaan KPR lama dalam neraca dapat dihapus sehingga bank dapat segera melakukan pembiayaan KPR yang baru. SMF juga menolong menghilangkan mismatch dana antara pembiayaan KPR yang bersifat jangka panjang dengan sumber pendanaan bank yang bersifat jangka pendek. Dengan demikian bank akan berani menawarkan pembiayaan KPR dengan jangka waktu yang lebih panjang. Menurut Erica, potensi KPR syariah di Indonesia cukup besar. Namun saat ini volumenya di bank syariah masih sangat kecil. Jangka waktu pembiayaan KPR syariah pun maksimal hanya 7 tahun. Dia berharap nantinyapembiayaan KPR syariah bisa lebih panjang lagi. Erica menambahkan, dia ingin ada studi perbandingan antara KPR syariah di Indonesia dan Malaysia. Dengan demikian pelaksanaan KPR syariah di Indonesia bisa meniru apa yang sudah dilakukan Malaysia yang sudah memiliki SMF. "Jangan hanya seperti ini saja," kata dia. PT SMF telah menandatangani kerja sama sekuritisasi aset KPR BTN senilai Rp 500 miliar. Menurut Erica, biaya sekuritisasi biasanya berkisar 0,2 persen dari volume pembiayaan yang akan dibiayai. Dengan mempertimbangkan berbagai biaya sekuritisasi, maka volume KPR Rp 500 miliar bisa dianggap batas normal. Namun volume KPR di bawah itu juga masih bisa dilayani SMF. "Mestinya bisa, tinggal seberapa.jauh kendala-kendala yang dihadapi dan kondisi portofolio," kata dia. Proses sekuritisasi aset KPR bank untuk pertama kali bisa memakan waktu 8-12 bulan. Namun untuk sekuritisasi selanjutnya dijamin lebih singkat lagi. Sebelumnya praktisi perbankan Sindu Rahadian mengatakan bank-bank yang akan menggunakan fasilitas SMF harus mempunyai penyaluran kredit perumahan yang besar. "Economic scale harus dipenuhi untuk menggunakan SMF," kata Sindu. Dia memperkirakan minimal bank harus mempunyai penyaluran kredit perumahan sekitar Rp 500 miliar. Hal itu disebabkan adanya biaya-biaya tambahan untuk mendapatkan fasilitas SMF. Antara lain biaya underwriting, legal opinion dari konsultan manajemen aset, dan due diligence.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130