Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Nasabah Bank tidak Resisten Pada Konversi

09/06/2006
 
New Page 1 Bank harus tetap menjaga kinerja dan menjalin komunikasi dengan deposan. JAKARTA - Calon investor tak perlu kuatir nasabah akan kabur setelah bank yang dibeli dikonversi menjadi syariah. Direktur Karim Business Consulting (KBC), Adiwarman A Karim, menyatakan dari dua kasus konversi bank syariah, Bank Susila Bhakti menjadi Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Tugu menjadi Bank Syariah Mega Indonesia, terbukti resistensi tidak signifikan. "Buktinya tidak ada resistensi dari nasabah kedua bank ketika dikonversi," katanya ketika dihubungi kemarin. Menurut Adiwarman, meskipun prinsipnya berbeda, nasabah bank bisa tetap dijaga untuk tetap loyal. Salah satunya, kata Adiwarman, menjaga agar rate bagi hasil bank syariah tetap kompetitif terhadap bunga bank. "Jadi, bunga bank diganti margin bagi hasil. Kalau memang hasilnya relatif sama, saya kira tidak akan ada resistensi. Bank syariah juga nggak mau jatuh," katanya. Terkait debitur, Adiwarman menyatakan mereka tidak mungkin mengalami resistensi dan bermigrasi. Pasalnya, mereka terikat dengan kewajiban membayar kredit atau pembiayaan kepada bank. "Dari sisi debitur, mereka nggak bisa kabur," tuturnya. Migrasi nasabah, menurut dia, tidak terjadi karena konversi menjadi bank syariah. Ia menyebutkan, secara alami, nasabah pada suatu bank berpotensi untuk bermigrasi ketika kondisi banknya kurang sehat. Salah satunya diakibatkan kredit macet. "Jadi, mereka migrasi duluan karena banknya bermasalah, bukan karena konversi," katanya yang menyebutkan proses selanjutnya adalah penanganan kredit macet oleh investor. Menanggapi potensi migrasi, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi menyatakan, hal tersebut dapat dicegah dengan penerapan komunikasi yang baik kepada nasabah. Menurut dia, meskipun terdapat sebagian kecil nasabah bermigrasi, sebagian besar nasabah Bank Susila Bhakti tetap loyal setelah bank itu dikonversi menjadi BSM pada 1 November 1999. "Waktu itu, komunikasi kita ke publik cukup rapi dan baik," katanya. Komunikasi yang dijalankan, menurut Yuslam, adalah memberikan pemahaman bahwa konversi bertujuan untuk memperbaiki kondisi bank. Jika dikonversi, bank lebih sehat dan likuid sehingga tidak merugikan nasabah. Hal itu dimungkinkan dengan adanya tambahan modal. Meskipun demikian, Yuslam mengakui tidak bermigrasinya sebagian besar nasabah BSM tidak dapat dijadikan patokan umum. Pasalnya, menurut dia, setiap bank memiliki karakter nasabah dan deposan berbeda. Oleh karena itu, ia menyarankan bagi investor untuk melakukan pengkajian atas studi nasabah bank yang akan dibeli. "Jadi, sebelum dibeli dan dikonversi, survey dulu untuk mengetahui preferensi nasabahnya," tandasnya. Pada awal berdiri BSM pada 1999, aset bank tersebut tercatat hanya Rp 448 miliar. Namun, pada akhir Desember tahun lalu, aset anak perusahaan Bank Mandiri tersebut tercatat sebesar Rp 8,328 triliun atau tumbuh 54,7 persen pertahun. Direktur BNI, Bien Subiantoro, sebelumnya menyatakan Kuwait Finance House dan Qatar Islamic Bank sudah menjajaki untuk mengakuisisi bank beraset sekitar Rp 1 triliun untuk kemudian dikonversi menjadi syariah. Namun investor tengah mengkaji dan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan migrasi nasabah setelah konversi.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130