Nilai penerbitan obligasi XIV/2010 PT Bank Tabungan Negara Tbk (BIN), bank penyalur KPR terbesar, ditingkatkan menjadi Rp 1,65 triliun, naik dari target awal yang ditetapkan perseroan sebesar Rp 1,5 triliun.
Berdasarkan keterangan sumber Bisnis, perseroan telah meningkatkan jumlah penerbitan efek utang bertenor 10tahun tersebut karena nilai permintaan yang disampaikan investor mencapai Rp 3,3 triliun.
"Nilainya sampai Rp 1,65 triliun, karena permintaan berlebih hingga Rp3,3 triliun," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.
Berdasarkan catatan Bisnis, kupon obligasi korporasi itu juga telah ditetapkan perseroan sebesar 10,25% yang relatif rendah jika dibanding-kan dengan obligasi lain bertenor serupa.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro dan Direktur BTN Saut Pardede membenarkan jumlah penerbitan itu.
"Benar ditingkatkan. menjadi Rp 1,65 triliun, proses pencatatannya di bursa agak lama karena perusahaan terfokus pada rapat umum pemegang saham yang telah digelar," ujar Saut.
Dalam penerbitan itu, perseroan menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Indo Premier Securities sebagai penjamin emisi obligasi bertenor 10 tahun itu. Tahun ini, manajemen BTN berjanji untuk menurunkan kembali bunga kredit pada semester 11/2010 seiring dengan rencana perubahan komposisi dana mahal dengan dana murah.
Target dana
Dirut BTN Iqbal Latanro menyampaikan pada tahun ini menargetkan porsi dana murah, yakni tabungan dan giro, mencapai 33,5%, sedangkan dana mahal berupa deposito sebesar 66,5%.Sementara itu, pada Maret 2010 posisi dana murah 31,4% dan dana mahal 68,61% dari total DPK Rp37,9 triliun.
"Ini strategi kami untuk memangkas bunga kredit agar menarik masyarakat memakai fasilitas KPR kami," ujarnya.
Menurut dia, dengan meningkatkan porsi dana murah akan membuat biaya dana (cost of fund} BTN akan semakin rendah. Pasalnya penurunan bunga dana dipicu oleh jatuh tempo simpanan deposito yang berbunga tinggi.
Pada awal tahun ini BTN telah menurunkan bunga kredit sebanyak dua kali. Penurunan bunga kredit pertama kali pada Maret 2010 dengan rata-rata penurunan 50-100 basis poin, kedua pada April 2010 sebesar 50 basis poin.
Adapun pada 2009 bank itu menurunkan sebanyak lima kali. Suku bunga kredit yang ditawarkan saat ini di kisaran 9 %-11%. Hingga akhir Maret 2010, BTN telah berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 43,1 triliun.
Angka ini tumbuh 28,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 33,5 triliun. Iqbal menambahkan tingginya penyaluran kredit pada kuartal pertama karena rendahnya bunga kredit.
"Dengan bunga yang rendah tersebut membuat kemampuan nasabah untuk mencicil semakin tinggi se-hingga pasar menjadi membesar yang diikuti dengan pertumbuhan permintaan," jelasnya.
Pada RUPST pertengahan bulan lalu, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 220,95 miliar. Nilai ini setara dengan RplS per saham. Porsi dividen mencapai 45% dari laba bersih 2009 yang sebesar Rp 491 miliar.
Iqbal mengatakan, porsi pembagian dividen dari BTN secara persen-tase lebih tinggi dari bank pelat merah lain karena laba mereka masih kecil. Namun dia menyebutkan nilai itu melonjak dari dividen 2008, ketika BTN hanya membagi dividen 10% laba bersih atau Rp 43 miliar. (FAHMI ACHMAD)