Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


PROGRAM SEJUTA RUMAH TANPA IPO BTN.

27/03/2006
 
New Page 1 Jangan Sampai Rakyat Menunggu Godot Program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah bakal berkembang menjadi gimmick politik belaka. Lantaran, sejauh ini pemerintah sangat bergantung pada pengembang swasta. Dan tentu saja kiprah Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai bank penyalur KPR terbesar. Sayangnya, permodalan BTN sangat terbatas. Buntutnya, terbatas juga kesempatan masyarakat mendapat rumah layak huni yang murah. Kamsari NERACA Saat Presiden Indonesia terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan kabinetnya, banyak orang berharap presiden punya kepedulian terhadap rakyat kecil. Harapan itu terjawab dengan adanya Kementrian Perumahan Rakyat. Hati rakyat kian bungah saat Menteri Negara Perumahan Rakyat KH Muhammad Yusuf As'ary mencanangkan program sejuta rumah. Program itu seribu persen tepat. Sayangnya, menyusun program lebih mudah daripada pelaksanaannya. Namun, Menneg Perumahan Rakyat membuktikan komitmennya. Terbukti, saat ini dana subsidi untuk KPR bersubsidi lebih cepat cair dibanding masa lalu. Bahkan, skim KPR bersubdisi syariah juga sudah diluncurkan, skim kredit perumahan yang selama ini belum pernah ada. Hanya saja, cekaknya kantong APBN memaksa pendanaan untuk menyiapkan rumah dari pemerintah sangat terbatas. Lagi-lagi, beban pendanaan perumahan murah bagi rakyat terpaksa dipindahkan ke pundak BTN. Sayangnya, meski tak usah diragukan komitmennya dalam pembiayaan rumah murah, namun dana yang tersedia tidak cukup besar. Sepanjang kiprahnya membiayai perumahan murah, atau dulu kondang dengan sebutan Rumah Sehat Sederhana (RSS), tercatat hanya pada lima tahun saja BTN mampu menggenjot penyaluran KPR diatas 100 ribu unit rumah. Yaitu pada tahun 1989 sebanyak 113.598 unit rumah, tahun 1995 sebanyak 103.343 unit rumah, tahun 1996 sebanyak 148.246 unit rumah, tahun 1997 sebanyak 177.093 unit rumah dan pada tahun 1998 sebanyak 109.596 unit rumah. Selebihnya, sejak tahun 1976 sampai 2005, rata-rata kredit KPR yang disalurkan tak pernah mencapai 100 ribu unit rumah. Meski begitu, BTN tetap memgang rekor tertinggi dalam penyaluran kredit rumah murah. Tercatat, sekitar 2 juta unit rumah sudah dibiayai pembeliannya. Artinya, sudah sekitar 2 juta kepala keluarga memberikan hunian yang layak bagi anak istrinya. Minimnya kekuatan modal BTN memang jadi kendala tersendiri. Tapi bukan beratur manajemen BTN hanya duduk diam. Sejak beberapa tahun terakhir, BTN giat menyedot dana pihak ketiga untuk disalurkan ke industri perumahan murah. Bukan hanya dari nasabah umum, BTN juga dipercaya sebagai "area investasi" bagi sejumlah BUMN dan kalangan investor swasta. Tak kurang dari 13 kali bank ini melepas obligasi. Triliunan rupiah pun berhasil masuk ke koceknya dan disalurkan sebagai kredit rumah murah. Tapi itupun belum cukup. Pasalnya, dana yang dibutuhkan, untuk pembiayaan rumah murah, seperti teori Thomas Robert Malthus, tumbuh seperti deret hitung. Sementara pertambahan kebutuhan rumah murah melonjak seperti deret ukur. Artinya, berapa pun dana yang disediakan pemerintah dan BTN, tak bakal seimbang dengan pertambahan jumlah kebutuhan. Namun, fakta itu jangan lantas membuat putus asa. Ada jalan terobosan yang bisa dilakukan untuk mengejar pertumbuhan pasar rumah. Solusi yang paling mungkin hanya melepas saham BTN ke lantai bursa. Lantaran, hanya dengan itu dana yang bisa masuk ke kantong BTN terbilang signifikan.. Jika jadi melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di lantai bursa, banyak analis memprediksi saham Bank Tabungan Negara bakal langsung melejit dan masuk kelompok saham bluechip. Pasalnya, BTN adalah pemimpin atau market leader pembiayaan perumahan. Dari kalangan pengembang seperti dituturkan oleh Ketua Umum DPP REI Lukman Purnomosidi, langkah menuju lantai bursa tampaknya dinilai lebih favorable. Pasalnya, selain upaya tersebut dapat memperkuat struktur permodalan BTN sendiri, dengan IPO maka pihak pengembang yang notabene lebih dari 90 persennya bermitra dengan Bank BTN, dapat berkontribusi lebih banyak atau mendekatkan diri dengan BTN. Lukman menyebutkan, bukan tidak mungkin ada developer yang membeli saham BTN yang dilepas dari bursa dengan pertimbangan si developer telah menjadi nasabah Bank BTN sehingga ada rasa memiliki terhadap bank BUMN ini. Dari kacamata sejumlah analis bursa, langkah IPO bakal menguntungkan dan memberi nilai tambah bagi BTN. Tidak saja modal kian membesar - solusi atas alasan merger yang sempat ramai diperdebatkan beberapa waktu lalu, namun dengan IPO birokrasi dan manajemen di BTN pastinya lebih transparan. Setidaknya, dua nilai tambah itulah yang menurut Mirza Adityaswara, analis Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA), bakal diraup oleh BTN. Jika IPO benar-benar terealisir, impactnya bagus bagi perkembangan BTN dikemudian hari. Apabila telah IPO yang berarti sebagian saham dimiliki oleh publik atau masyarakat, maka perbaikan kinerja akan menjadi fokus perhatian dari pihak. manajemen agar nilai saham BTN terus meningkat. Masih menurut Mirza, investor saham pastinya akan mencari saham-saham yang bisa memberikan keuntungan bagi mereka. Investor juga akan selalu membandingkan saham BTN dengan saham-saham lain. Edwin Sebayang dari Evergreen Capital punya penilaian tersendiri. Dia melihat BTN saat ini merupakan satu-satunya bank yang fokus menggarap pasar pembiayaan perumahan atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan di lantai bursa belum ada emiten yang seperti BTN. Melihat pasar properti yang menurut Edwin masih berprospek bagus, ia percaya BTN memiliki daya tarik tersendiri bila nanti jadi, IPO. Bila di kuartal III tahuh ini suku bunga mengalami penurunan - seperti juga diisyaratkan oleh otoritas moneter Bank Indonesia (BI) * sudah barang "tentu hal itu akan mendorong kembali pertumbuhan kredit perumahan di perbankan, jelas Edwin. Segmentasi BTN diakui banyak pihak merupakan keunggulan tersendiri. BTN saat ini dipandang masih merupakan market leader atau pemimpin di pasar KPR. Sehingga, bukanlah eufemisme atau omong besar bila banyak yang memprediksi saham BTN akan menjadi saham bluechip. Atau setidaknya bakal kelebihan penawaran atau oversubscribed bila nanti diperdagangkan di lantai bursa. Pandangan para analis yang memprediksi saham BTN bakal diserbu investor, bukan pujian kosong. Lihat saja faktanya saat ini. Ketika sejumlah bank mengalami penurunan laba, Bank BTN justru berhasil meningkatkan laba sekitar 18 persen pada tahun 2004 yang mencapai Rp370 miliar. Menurut Direktur Utama Bank BTN, Kodradi, BTN bukan satu-satunya bank yang mengalami kenaikan laba, hampir semua bank yang bermain dalam kredit ritel termasuk mengalami kenaikan. Bedanya BTN hanya bermain di bisnis Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kodradi mengatakan, ditengah-tengah kondisi ekonomi yang belum pulih tingkat inflasi dan suku bungaperbankan tinggi hanya sektor ritel yang mampu bertahan karena jumlah debiturnya banyak sehingga resiko lebih menyebar. Terbukti, kenaikan laba pada bank-bank yang bermain di sektor relatif lebih stabil, tidak melonjak dengan fluktuasi yang tajam karena rasio kredit macetnya (NPL) rendah seperti Bank BTN yang hanya 1,5 persen. Berdasarkan catatan, bank dengan rasio kredit macet tinggi maka bank harus menyisihkan sebagian pendapatannya sebagai cadangan yang pada akhirnya mempengaruhi perolehan labanya. Data terakhir BTN selama dua tahun ke belakang menjadi bukti sahih kualitas kinerja manajemen bank tersebut. Dari Rp 3,3 Triliun dana kredit yang disiapkan BTN tahun 2004, telah terealisasi hingga Rp 4 Triliun lebih. Sementara pada tahun 2005, dari alokasi kredit sebesar Rp 4,08 Triliun, realisasinya mencapai Rp 5,7 Triliun. Alhasil outstanding kredit pada tahun yang sama mengalami pertumbuhan masing-masing Rp 12,6 Triliun pada tahun 2004 dan meningkat menjadi Rp 15,4 Triliun pada tahun 2005. Dari realisasi sebesar Rp 5,7 Triliun pada tahun 2005, itu mayoritas kredit masih terkonsentrasi pada pembiayaan perumahan yang nilainya mencapai Rp 4,2 Triliun. Sisanya dimanfaatkan untuk kredit konstruksi yang terealisasi sebesar Rp 1,1 Triliun. Khusus untuk kredit konstruksi ini pun juga melewati target. Dari Rp 750 Milyar yang dialokasikan BTN untuk mendukung kredit konstruksi ini, sampai dengan Desember 2005 terealisir sebesar Rp 1,1 Triliun. Bank BTN memang memiliki kapasitas paling besar dalam penyaluran kredit rumah murah. Namun itu saja belum cukup membantu suksesnya program sejuta rumah. Lantaran, kalaupun digenjot habis-habisan, kekuatan dana BTN dalam menyalurkan KPR tetap saja masih terbatas. Kecuali, kalau bank pelopor KPR ini mendapat kesempatan melepas sahamnya lewat Initial public offering (IPO). Revaluasi Asset Meski belum mendapat ijin untuk melepas sahamnya. Namun, manajemen BTN tak lantas berpangku tangan. Berbagai cara ditempuh guna memuluskan langkahnya meretas jalan ke lantai bursa. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pertengahan Januari 2006 silam, sebenarnya sudah memberi sinyal ke arah IPO. Disamping memunculkan ijin prinsip untuk kembali menerbitkan Obligasi tahun 2006 sebesar Rp.1 Triliun dan sekuritisasi aset sebesar Rp.500 Milyar. Para pemegang saham saat itu juga memberi sinyal Bank BTN untuk persiapan IPO. Langkah yang diminta, melakukan kuasi organisasi. Selain itu, manajemen BTN juga diminta melakukan revaluasi aset yang dimiliki sebagai langkah persiapan menuju IPO. Saat ini diketahui BTN memiliki aset senilai kurang lebih Rp 29 triliun. Dengan melepas sekitar 30 persen atau sepertiga dari ekuitas, diperkirakan return on equity (ROE) bank ini bakal melonjak tiga kali lipat dari yang ada saat ini. Dengan prestasi kerja yang terus mengkilap, boleh jadi BTN tak punya kompetitor sepadan dalam urusan pembiayaan perumahan. Jadi, kalau suatu saat nanti BTN melepas sahamnya di lantai bursa, bukan tidak mungkin bakal laris manis diserbu investor. Tapi tentu saja prospek bagus saham BTN nantinya, mestinya dapat dimaksimalkan untuk mendukung pembiayaan perumahan murah bagi rakyat luas. Jangan sampai mimpi rakyat untuk mendapat rumah murah seperti menunggu godot yang tak pernah datang. .  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130