Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


PROPERTI JALAN BTN

11/05/2005
 
BTN berusaha membuktikan untuk tetap menjadi bank focus di pembiayaan perumahan. S iang di sebuah hotel di kawasan Senayan, Jakart Pusat, akhir Maret, Lukman Purnomosidi, Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), merangsak masuk ke tengah-tengah kerumunan wartawan yang tengah mewawancarai Kodradi, Direktur Utama Bank BTN, yang hari itu menjadi empunya cara. “Dalam lima tahun ke depan akan dibangun 1 juta rumah,” ujarnya bersemangat kepada seluruh wartawan yang hadir. Lukman pun meneruskan bicaranya. “Apa bila dipatok di kisaran harga Rp 36 juta, dibutuhan modal sebesar Rp 36 triliun untuk mendanai kebutuhan perumahan tersebut.” Lukman tak sedang membual di siang bolong. Hari itu BTN tengah meluncurkan obligasi perseroan sebesar RP 750 miliar guna mendukung pembiayaan perumahan. “ Penerbitan obligasi ini merupakan tindak lanjut dari rencana bisnis BTN pada 2005,” ujar Kodradi.             BTN dalam beberapa bulan belakangan ini memang tengah menjadi sorotan. Ia bak seorang purti yang sedang menjadi pusat perhatian. Tak hanya cantik, sang puteri juga tampak pandai membawa diri. Lihat saja kinerjanya. Bagi bank yang secara resmi yang menyandang nama BTN sejak 1963 ini, BTN telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebanyak Rp 32,26 triliun dan mendanai Rp 2,2 juta lebih rumah sejak 1976. Tak heran kalau nama BTN seperti identik dengan pembiayaan perumahan. Sepanjang 2004, BTN telah melakukan ekspansi kredit bruto sebesar 13% dari Rp 11,2 triliun menjadi Rp 12,6 triliun. Kenaikan posisii kredit ini didorong oleh penyaluran kredit baru selama 2004 yang mencapai Rp 4 triliun, meningkat 19,5% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,3 triliun. Sehingga LDR (Loan to Deposits Ratio) melonjak dari 58,3% pada 2003 menjadi 67,9% pada 2004.             Menurut Kodradi, tahun ini BTN menargetkan total ekspansi kredit sebesar Rp 4,08 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak Rp 1,7 triliun akan digunakan untuk membiayai 75.000 unit Rumah Sederhana Sehat (RSS) dan sebesar Rp 750 miliar untuk kredit konstruksii perumahan. “Jadi, kalau saya sekarang menjual (obligasi) Rp 750 miliar sebenarnya itu habis untuk kredit konstruksi saja,” ujarnya. Target program pembiayaan 75.000 perumahan rakyat Bank BTN ini berarti menyumbang 33,3% dari target pemerintah membangun 225 ribu rumah sederhana baru pada 2005. Pemerintah telah meningkatkan jumlah subsidi selisih bunga dari Rp 200 miliar pada 2004 menjadi Rp 600 miliar pada 2005, guna mengantisipasi kenaikan harga akibat tingginya harga BBM. Apalagi saat ini backlog (jumlah kekurangan rumah) di Indonesia telah mencapai angka 6 juta unit dan bertambah 800.000 tiap tahunnya.  BUNGA MENGAMBANG             Apabila ditarik ke belakang langkah BTN menerbitkan obligasi ini punya beragam makna. Dari hasil kajian Mandiri Sekuritas, langkah ini salah satunya terkait dengan kepemilikan obligasi pemerintah berbunga mengambang BTN yang di salah satu sisi bisa mengganggu kinerja walaupun di sisi lain turut  membantu likuiditas. Portfolio Surat Utang Negara (SUN) dengan bunga mengambang di BTN pada 2004 tercatat mencapai angka 70,9%. Sementara SUN dengan bunga tetap sebesar 6,4%. Angka ini sudah turun dari porsi 85,3% dan 7,7%, SUN dengan bunga mengambang dan SUN dengan bunga tetap pada 2003. Dengan terjadinya depresiasi harga SUN dengan suku bunga mengambang, obligasi tersebut kini memiliki kisaran di bawah harga diskon atau di bawah par. Hal ini masih ditambah dengan funding gap dimana mayoritas pendanaan BTN (82%) memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun, sementara mayoritas aktiva produktif memiliki jangka waktu lebih dari 5 tahun.             Salah satucara untuk menutupi potensi kerugian dari suku bunga variable tersebut, BTN bisa menjual SUN yang kemudian digunakan untuk penyaluran kredit sehingga kerugian dari depresiasi harga dapat ditutup dengan pendapatan dari bunga kredit. Dan tampaknya langkah ini cukup berhasil dilakukan BTN. Pada 2002 pendapatan bunga obligasi BTN masih mengungguli pendapatan dari bunga kredit dengan komposisi 59,68% dan 40,32%. Tahun 2003 pendapatan bunga kredit mulai mengungguli pendapatan bunga obligasi dengan perbandingan 52,35% dan 47,65%. Dan pada 2004, pendapatan bunga kredit BTN jauh melampaui pendapatan bunga obligasi dengan 63,58% dibanding 36,42%. Pendapatan bunga bersih BTN pada 2004 tercatat Rpo 1,277 triliun.             Porsi dana murah BTN pun nenjadi sasaran “reformasi”. Pada 2005 BTN menargetkan porsi tabungan dan giro menjadi Rp 7,035 triliun meningkat dari Rp 6,035 triliun pada 2004. “Angka DPK yang turun (dari Rp 19,152 triliun pada 2003 menjadi Rp 18,569 triliun pada 2004) memang disengaja, karena posi deposito yang dana mahal jangka pendek, berubah strukturnya menjadi obligasi dan nanti berubah menjadi EBA (Efek Beragun Aset),” ujar Kodradi. Keberadaan SMF (Secondary Mortagage Facility) menurut Kodradi juga akan membantu karena BTN akan punya kesempatan untuk set back produk sekuritas melalui mekanisme ini. “Kalau saya perlu Rp 2 triliun dari situ kan gampang, masa dari Rp 12,6 triliun (jumlah kredit yang disalurkan, outstanding loan) saya tidak bisa jual Rp 3 triliun,” ujar Kodradi.             Kini, peluncuran Obligasi XI Bank BTN seakan menjadi ajang pembuktian Kodradi yang 30 Mei nanti akan habis masa jabatannya sebagai direktur utama. “Tidak ada yang membantah bahwa selama tiga tahun terakhir posisi Bank BTN adalah sehat menurut BI,” ujarnya. Dan komitmen BTN untuk membiayai perumahan telah teruji, paling tidak menurut REI. “Kami mendukung adanya bank perumahan dan embrionya, secara de facto, selama 33 tahun berdirinya REI, Bank BTN lah yang telah menunujukkan komitmennya,” ujar Lukman. Dengan digulirkannya komitmen penyaluran kredit konstruksi sebesar Rp 750 miliar oleh BTN, REI tentu menjadi salah satu pihak yang bergembira.             Menurut Kodradi, Bank BTN selanjutnya akan lebih berkonsentrasi pada pembiayaan perumahan non-subsidi. Pada 2004, porsi pembiayaan bersubsidi BTN hanya tinggal 46%. “Sisanya 54% (Rp 6,8 triliun) sudah non-subsidi,” ujarnya. Tingkat bunga 13,5% hingga 14,5% pada KPR bersubsidi dimana selisih bunga yang ditanggung pembeli dibebankan ke APBN menurut Kodradi masih masuk dalam kategori suku bunga komersial. BTN berharap bisa meningkatkan penyaluran kredit dengan suku bunga komersial tersebut dari dana hasil penyaluran kredit non subsidinya yang sebesar Rp 6,8 triliun.  MERGER             Dan Kodradi sepertinya menyimpan jurus pamungkas untuk menggenjot pertumbuhan. Dalam rencana bisnis BTN yang diserahkan ke BI, menurut Kodradi BTN juga menyertakan opsi alternative IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdana. “Namun lagi-lagi itu tergantung ke pemegang saham kalau disuruh saya siap,” ujarnya. Pada 2001 saat Indonesia masih di bawah IMF, menurut Kodradi BTN sudah membentuk tim (untuk IPO). “Tapi waktu itu IMF masih meragukan BTN dan membentuk studi independent,” ujarnya. Hasil studi itu baru selesai pada 2002 dan BTN ditetapkan sebagai Bank yang berdiri sendiri dengan focus bisnis pada pembiayaan perumahan non-subsidi. “IPO menjadi daftar prioritas, namun sampai sekarang kami belum mendapatkan kesempatan,” tambahnya lagi.             Menurut sumber di Bank BTN, untuk lebih ekspansif menggelontorkan kredit perumahan murah ke rakyat kecil, Bank BTN hanya perlu menambah modal barang Rp 2 triliun yang bisa diperoleh melalui IPO ini. “Hal itu karena kinerja BTN sudah sangat bagus,” ujarnya pada Business Week Indonesia. CAR bank BTN pada 2004 tercatat sebesar 16,64% meningkat dari 12,19% pada 2003. Sementara NPL grossnya turun dari 3,8% pada 2003 menjadi 3,21% pada 2004. “Angka ini terendah di antara bank-bank BUMN,” ujar Kodradi.             Apalagi sesuai dengan arsitektur perbankan Indonesia (API) yang meminta bank-bank  untuk melakukan konsolidasi, Bank BTN menurut sumber, sebenarnya sudah memenuhi satu pilar sebagai bank focus. “Jadi sebenarnya sudah on the track. Untuk membesarkan BTN tidak perlu dengan merger atau akuisisi, malah dikhawatirkan pasca merger atau akuisisi nanti, bisnis yang selama ini ditekuni BTN akan hilang,” tuturnya. Menanggapi pernyataan seperti ini, apa komentar Kodradi? “Terserah Anda sendiri yang menyimpulkan, tapi sekarang sudah bukan lagi jaman Siti Nurbaya,” ujarnya.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130