Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


PT SMF, Benarkah Masih Ngetem ?

24/05/2006
 
New Page 1 Banyak orang menaruh harapan besar terhadap keberadaan PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF). Lantaran, lembaga milik pemerintah ini yang digadang-gadangkan menjadi solusi missmatch pendanaan perumahan. Sayangnya, sampai sekarang model pembiayaan Secondary Mortgage Facility, dengan lokomotif PT SMF masih juga belum jalan. Benarkah SMF masih juga ngetem? Sejak didirikan beberapa waktu lalu, PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) belum juga kelihatan aksinya. Para awak PT SMF yang dikomandani Erica Soeroto Fachri, ahli keuangan yang mantan bankir Bank Papan Sejahtera, entah sibuk berkutat dengan urusan apa. Padahal, kalangan pengembang dan perbankan sangat ingin PT SMF segera masuk gigi lima dan tancap gas langsung mengucurkan dana untuk membeli tagihan KPR. Saat langkah sedang disusun, tiba-tiba PT SMF digunjang oleh tudingan kalangan DPR yang diwakili oleh Enggartiasto Lukita. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar ini menuding SMF salah kaprah lantaran menempatkan uangnya di Bank Mandiri. Kesempatan untuk menepis tudingan tersebut datang saat DPR memanggil kalangan stakeholder pembiayaan perumahan. Erica menyatakan, saat ini sebesar 62 persen dari Rp1 triliun dana SMF ditempatkan di rekening Bank BTN, serta sebagian lainnya ditempat bank lain mengacu kepada kebijakan Menteri Keuangan agar tidak diperiksa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam kesempatan itu, Erica mengakui apabila sampai saat ini PT SMF belum membeli aset KPR Bank BTN. Padahal Bank BTN sendiri saat ini telah menyelesaikan inventarisasi (due diligence) terhadap ,KPR yang akan dibeli PT SMF. Menurut Erica, lambatnya pelaksanaan sekuritisasi aset KPR Bank BTN yang tahap awal senilai Rp500 miliar, untuk memberi waktu kepada pasar memahami manfaat dari produk yang akan diterbitkannya. "Tugas kita membeli KPR sebagai tahap awal BTN, kemudian baru menjual di pasar sekunder. Saat ini telah disosialisasikan kepada pengembang perumahan agar dapat menjadi pembeli produk di pasar sekunder," jelasnya. Saat ini banyak yang mengira produk yang akan dikeluarkan PT SMF berupa obligasi, padahal kenyataannya berbeda. Apabila diterbikan obligasi maka akan mempengaruhi kinerja KPR dalam pembukuan perbankan yang akhirnya rasio kecukupan modal bank tersebut (CAR) akan terganggu. Padahal tujuan didirikan KPR itu untuk membuat kinerja bank lebih sehat dengan cara membeli putus sehingga keluar dari pembukuan. Dengan demikian bank dapat menyalur KPR demikian seterusnya. "Hal ini karena sebagai perusahaan yang akan menjual produk sekuritas di pasar modal dituntut untuk memiliki rating yang bagus setidaknya AAA sehingga produk yang ditawarkan akan laku di pasar," ucapnya. Erica mengatakan, produk yang akan ditawarkan nantinya layak untuk diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta dalam bentuk Residential Mortgage Back Security (RMBS) yang saat ini tinggal menunggu waktu transaksi karena infrastruktur di pasar modal sudah siap. "Kita targetkan dalam kurun waktu delapan bulan tahun 2006 sudah dapat dilaksanakan transaksi di pasar sekunder untuk produk yang dikeluarkan SMF," ucapnya. Aset yang akan dibeli dalam tahap awal Rp500 miliar untuk kemudian akan diterbitkan surat berharga seri I, II, dan III yang komposisinya akan diatur antara KPR untuk skala menengah atas dan menengah bawah. Mengenai dana bergulir RMBS pengalaman di luar negeri memiliki dalam tahap awal membutuhkan waktu lima tahun, nantinya akan disertai dengan produk ritelnya dengan nominasi yang lebih kecil. Dengan sistem ini Bank BTN sesuai jadwal akan menerima dana dari hasil penjualan aset KPR pada tahun depan, dan akan terus berjalan Rp1 triliun dalam enam bulan, dalam 10 bulan dan seterusnya, ungkap Erica. Tak Tertarik SMF Meski Erica sudah memparkan latar belakang belum "jalannya" PT SMF, namun salah seorang stafnya menyatakan perbankan masih belum tertarik menjual portofolio kredit pemilikan rumah (KPR) kepada PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), karena berdampak pada lonjakan biaya dana dan tidak efisien. "Sebagai perusahaan (BUMN) yang baru dibentuk, soal komisi memang tidak dapat dielakkan, tetapi kita berupaya untuk mengurangi," kata Rizqullah, Direktur PT SMF di Anyer beberapa waktu lalu. Sebenarnya, lanjut Rizqullah, untuk menjalankan tugas PT SMF tidak dapat bekerja sendirian, tetapi harus bekerja sama dengan berbagi pihak, di antaranya dengan perantara sekuritas, konsultan hukum, konsultan keuangan (akutansi). Kalau menyimak berbagai pernyataan yang muncul, rasanya SMF sudah keluar dari area parkir. Meski belum tancap gas kencang, tapi setidaknya SMF tak lagi ngetem.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130