Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pasar Obligasi Akan Semarak

03/07/2006
 
New Page 1 JAKARTA - Pasar obligasi pada pekan ini diperkirakan semarak karena kenaikan Fedfund rate berada di bawah ekspektasi pasar. Harga surat utang negara (SUN) berpeluang menguat hingga 50 basis poin (bps) karena minat beli perbankan cukup besar. Sementara itu, pergerakan bursa saham dalam negeri masih akan mengacu pada kondisi bursa regional. Bursa saham akan membaik seiring dengan berkurangnya sentimen negatif dari kepastian perubahan suku bunga bank sentral AS. Namun, investor asing masih sangat sensitif dengan pergerakan kurs rupiah. Demikian rangkuman pendapat analis dan pelaku pasar modal mengenai perkiraan arah investasi portofolio pekan ini yang dihimpun Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu. Mereka adalah Associate Director Prospera AM Josep Chandra, Head of Debt Sales Trimegah Securities Gautama Adidharma, analis Recapital Sekuritas Satrio Utomo, analis Danasakti Securities Arief Budisatria, dan analis Citi Pacific Securities Hendri Effendi. Head of Debt Sales Trimegah Securities Gautama Adidharma mengemukakan, pasar obligasi pekan ini akan sangat ramai. Pasalnya, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps berada di bawah ekspektasi pasar yang mencapai 50 bps. "Investor terutama perbankan melakukan aksi beli karena harga sekarang berada pada harga di bawah asumsi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50 bps," jelasnya. Menurut Adi, minat beli yang besar sudah mulai terlihat dalam perdagangan akhir pekan lalu. Dia menilai, besarnya minat beli akan membuat harga SUN naik dan imbal hasil (yield) turun maksimum 50 bps. "Bank menyesuaikan yield curve dari portofolio yang sudah dimiliki dengan yang akan datang mengingat dulu harganya terlalu tinggi," ujar dia. Dia menambahkan, investor kini menantikan kepastian penurunan BI Rate. Menurut dia, pelaku pasar saat ini banyak meminati obligasi jangka pendek hingga menengah seperti FR22 dan FR27. Adi mengungkapkan, belakangan ini juga mulai muncul permintaan obligasi korporasi di pasar sekunder pasca emisi obligasi PT Kalbe Farma Tbk dan PT Jasa Marga. Namun, investor juga tetap menyiapkan dana untuk emisi baru, yakni obligasi PT Bank Ekspor Indonesia dan PT Bank Tabungan Negara yang dinilai cukup menjanjikan. "Obligasi korporasi kita terhitung lebih baik dari obligasi negara Asia lainnya mengingat spread antara yield dan suku bunga masih double digit," jelasnya. Akumulasi Saham Sementara itu, pelaku bursa saham umumnya berpendapat indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ini akan bergerak mendatar dengan kecenderungan menguat. Menurut Josep, investor kemungkinan akan mulai mengakumulasi kembali saham yang akan dijadikan portofolio setelah melihat kenaikan suku bunga The Fed tidak agresif lagi. Namun, dia mengingatkan, arah pergerakan hedge fund yang dibawa investor asing akan sangat sensitif dengan pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. "Pada posisi Rp 9.20O-an per dolar AS, asing kurang begitu suka dengan spread rupiah yang dinilai cukup lebar," jelasnya. Pasalnya, kata Josep, pelaku pasar umumnya, yakin rupiah bisa beranjak ke level Rp 9.500-an lagi bila muncul kabar pembayaran utang IMF dan kenaikan harga minyak dunia. Satrio Utomo menilai, pergerakan bursa saham pada pekan ini sangat ditentukan oleh posisi IHSG di awal pekan. IHSG berpeluang bergerak di area support 1.350 dan resistance 1.410, bila berhasil menembus level 1.310 di awal pekan. Menurut dia, pelaku pasar perlu menghentikan aksi beli dan mengamankan keuntungan apabila indeks sudah berada di level 1.375. Pasalnya, sentimen untuk investasi menengah hingga jangka panjang sampai saat ini belum jelas. Josep dan Satrio berpendapat, bursa regional akan menjadi sentimen terbesar yang menentukan pergerakan IHSG pekan ini. Volume transaksi diharapkan meningkat seiring mulai berkurangnya fokus investor terhadap Piala Dunia. Rekomendasi Saham Pada perdagangan pekan ini Satrio menyarankan investor untuk mencermati saham berkapitalisasi besar (blue chips) seperti sektor perbankan, semen, dan telekomunikasi. Sementara un-tuk spekulasi, dia merekomendasikan saham sektor pertambangan seperti PT Medco Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Arief mengatakan, investor sebaikan membeli beberapa saham seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Indah Kiat Pulp&Paper Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk, serta PT Unilever Indonesia Tbk. "Ketujuh saham ini memiliki fundamental yang menjanjikan dan secara teknis berpotensi menguat," tambah dia. Dia menjelaskan, saham Telkom layak dibeli karena kinerjanya menjanjikan dan terkait rencana pembagian dividen. Saham Tjiwi Kimia dan Indah Kiat secara teknis terlihat sedang membuat strong support, sehingga harganya berpotensi menguat. Untuk saham bank seperti Bank Mandiri, BRI, dan BCA terkait dengan rencana Bank Indonesia menurunkan suku bunga. "Sedangkan Indofood dan Unilever, merupakan saham yang memiliki posisi kuat berkaitan dengan laju inflasi," jelas Arief.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130