Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pasar properti bergairah mulai Juli

03/05/2006
 
New Page 1 JAKARTA: Asosiasi dan praktisi industri properti optimistispermintaan pasar properti akan mulai bergerak naik lagipada Juli 2006 karena pembeli dari kalangan investor sudahmengambil ancang-ancang untuk membeli properti. Hal ini dipicu oleh sinyal dari bank sentral yang segera menurunkan BI Rate disebabkan mulai bergerak positifnya indikator makro ekonomi nasional. Ketua Umum DPP Realetat Indonesia Lukman Purnomosidi mengatakan dari sekian banyak kajian dan proyeksi yang muncul mengarah kepada satu perkiraan bahwa pembeli tipikal investor yang saat ini meninggalkan properti akan kembali masuk secara signifikan mulai Juli 2006. "Juli diperkirakan permintaan akan mulai terasa meningkat karena pembeli investor yang sekarang lagi wait and see akan melakukan aksi beli lagi. Ini kalau terealisasi maka dampaknya sangat besar karena porsi transaksi dari kalangan mereka sangat dominan selama ini," katanya dalam diskusi bertema Bisnis Properti dan Peluang Industri Properti di Indonesia Tahun 2006 di Jakarta, kemarin. Menurut dia, aktivitas investor pembeli individu maupun institusi sangat besar pengaruhnya bagi industri properti, sehingga masuknya kelompok ini akan mampu kembali menggairahkan bisnis properti nasional. Ketua Umum REI mengatakan selama ini komposisi transaksi pasar properti nasional dikuasai pembelian oleh investor sebesar 70% hingga 80%. Dalam kesempatan yang sama, Yan Mogi, salah satu pengembang nasional yang juga mantan Ketua Umum DPP REI, senada dengan Lukman mengatakan situasi saat ini dipandang sudah cukup membaik untuk mendorong pasar kembali melakukan permintaan. Dua hal Menurut dia, setidaknya ada dua hal yang memberikan sinyal positif yaitu tingkat inflasi yang mulai membaik dan stabilisasi penguatan rupiah yang mendorong bank sentral memberikan sinyal penurunan BI rate. "Sinyal penurunan BI rate sangat berpengaruh kepada investor yang selama ini meninggalkan portofolio aset properti untuk beralih ke deposito. Kini mereka sudah ancang-ancang kembali balik ke aset properti," katanya. Dia mengakui larinya investorpembeli belakangan ini telah melorotkan tingkat penjualan di industri properti secara tajam, sehingga pengembang kesulitan menjual produk tapi dengan masuknya lagi mereka akan menaikkan kembali transaksi pasar properti. Selain itu, Ketua Umum DPP REI mengatakan perpanjangan hak pakai properti bagi orang asing sudah hampir pasti dilakukan pemerintah. Hal itu, lanjut Lukman, sebagai respons dari pemerintah untuk meningkatkan kegiatan industri properti yang dianggap sebagai salah satu usaha yang memberikan nilai tambah paling besar bagi perekonomian secara umum. "Ya setidaknya ada sekitar 104 produk dan industri yang nasibnya bergantung pada perkembangan industri properti. Mulai dari keramik, cat, semen hingga furnitur," katanya. Menurut Lukman, bagi industri properti sendiri perpanjangan hakpakai properti bagi warga asing itu sudah mendesak karena pasar dari kalangan ekspatriat dan orang asing menjadi daya dorong besar bagi peningkatan kapasitas pasar properti nasional. Apalagi, tambahnya, Indonesia termasuk negara yang paling terlambat dalam merevisi jangka waktu hak pakai properti bagi asing, sehingga produk properti di Indonesia dinilai belum menarik bagi asing. Hal ini, katanya, jauh berbeda dengan negara lain termasuk Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang bahkan sudah memberikan status hak milik bagi warga asing dalam pembelian properti. Dia memberi contoh perubahan mendasar yang dilakukan Malaysia untuk menarik warga Timur Tengah dengan memberikan hak pakai selama 99 tahun dengan insentif kemudahan mengurus visa selama 10 tahun
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130