Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pasar sambut positif penurunan BI Rate

05/12/2008
 
New Page 1 Oleh Lutfi Zaenudin Bisnis Indonesia JAKARTA Bank Indonesia akhirnya mengikuti langkah bank sentral negara lain menurunkan suku bunga acuan dari 9,5% menjadi 9,25% untuk mendorong sektor riil yang mulai terimbas kelesuan perekonomian global. Pasar merespons positif keputusan BI itu yang tecermin dari kenaikan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah kemarin menguat 1,8% menjadi Rpl2.010 per dolar AS dari posisi penutupan sehari sebelumnya yang masih Rpl2.235 per dolar AS. Sementara itu, IHSG meningkat 1,07% atau 12,80 poin menjadi 1.205,32. Penguatan itu terjadi di tengah penurunan indeks di kawasan Asia Pasifik sebesar 0,6% ke level 79,39. Bursa Hang Seng melemah 0,58%, KOSPI turun 1,58%, Nikkei turun 1%, sedangkan bursa Shanghai naik 1,84%, dan STI Singapura menguat 1,61%. Selain itu, rapat Dewan Gubernur BI juga memutuskan mengurangi suku bunga pinjaman antarbank sebesar 50 basis poin di dua sisi, sehingga suku bunga repo turun menjadi 9,75% dari 10,5% dan fasilitas sertifikat Bank Indonesia (Fasbi) naik menjadi 8,75% dari 8,5%. Repo rate merupakan bunga dana yang dikenakan bank sentral kepada bank yang meminjam likuiditas dalam jangka harian. Sementara itu, Fasbi adalah fasilitas penempatan dana bagi bank yang kelebihan likuiditas dalam jangka harian. Gubernur BI Boediono mengatakan keputusan itu diambil setelah mengevaluasi perkembangan dan prospek ekonomi serta keuangan domestik dan global, terutama penurunan harga minyak mentah dunia dan sejumlah komoditas yang mulai mengurangi tekanan inflasi di dalam negeri. "Dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian domestik, keputusan menurunkan BI Rate ke level 9,25% diharapkan dapat menjaga gairah di sektor usaha di tengah melesunya perekonomian global," ujarnya di Jakarta, kemarin. Dia memperkirakan penurunan tingkat inflasi berlanjut pada tahun depan. Namun, dampak krisis keuangan terhadap perekonomian global semakin nyata terlihat dari prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2009 yang merosot dari 3,0% menjadi 2,2%. Kondisi ini dikhawatirkan ikut memengaruhi perekonomian nasional. Boediono optimistis target inflasi pada 2009 sebesar 6,5%-7,5% bakal tercapai, bahkan kemungkinan mendekati batas bawah target tersebut cukup terbuka lebar. Inflasi bulanan pada November mencapai 0,12%, year-to-date sebesar 11,10%, dan year-on-year 11,68%. Keputusan bank sentral menurunkan BI Rate merupakan kebijakan yang ditunggu dunia usaha dan perbankan setelah selama 7 bulan terakhir ini otoritas moneter itu terus memompa suku bunga sebesar 0,25% per bulan hingga ke level 9,5%. Bulan lalu, bank sentral memilih mempertahankan suku bunga acuan itu. Indeks sektor keuangan langsung beraksi positif setelah penurunan BI Rate. Kenaikan indeks 3,6% ke level 150,5 itu dipicu oleh lonjakan harga saham perbankan, diikuti oleh indeks sektor pertambangan, dan infrastruktur 2,2% dan 0,6%, sedangkan lima indeks sektoral lainnya melemah. Saham bank Tiga saham penyumbang utama kenaikan indeks berasal dari sektor perbankan, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Ketiganya menyumbang kenaikan indeks sebesar 9,4 poin. Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan investor dan pelaku usaha telah lama menunggu penurunan suku bunga, yang akan menjadi stimulus sektor riil dan pasar modal di tengah ancaman resesi ekonomi. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Silmy Karim mengharapkan BI Rate bisa diturunkan 50 basis poin menjadi 9% untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Namun, Anton H. Gunawan, kepala ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, memperkirakan kebijakan pemotongan suku bunga BI Rate itu tidak akan otomatis menurunkan jenis suku bunga yang lain, seperti deposito dan kredit. Ini karena pasar uang antarbank masih menghadapi ketidakseimbangan likuiditas. Wakil Dirut PT Bank Tabungan Negara Evi Firmansyah juga memprediksi perbankan butuh waktu 1-3 bulan untuk menyesuaikan suku bunga terhadap penurunan BI Rate. "Untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga itu tidak bisa seketika diberlakukan kebijakan BI Rate yang baru, tapi perbankan masih harus menghitung kembali terhadap beban biaya dana yang harus ditanggung sebelum menurunkan suku bunga," ujarnya. Meski demikian, Direktur Treasury Bank CIMB Niaga Gottfried Tampubolon mengatakan penurunan BI Rate bisa meredam perang suku bunga dalam menggalang dana masyarakat. Pelarian modal Deputi Gubernur Bank Sentral Hartadi A. Sarwono mengatakan lembaganya tidak khawatir terjadi pelarian modal setelah penurunan BI Rate dan akhirnya menekan rupiah. Dalam perhitungan bank sentral, lanjutnya, puncak aliran modal keluar sudah terlewati. Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan juga menjadi stimulus perekonomian, sehingga memperkuat nilai tukar rupiah. "Saat ini, investor di Indonesia adalah investor institusional, bukan hedging fund. Mereka sudah lari duluan karena krisis global," katanya. Keberadaan investor institusi itu, kata Hartadi, akan membuat rupiah relatif stabil. Dia menjelaskan investasi di surat utang negara tetap stabil pada level Rp86 triliun dan harga saham mulai pulih. "Pada instrumen SBI [sertifikat Bank Indonesia] asing juga menunjukkan tren naik, meskipun tipis, yakni Rp40 miliar, kalau tidak salah," katanya. Hartadi mengungkapkan penyesuaian suku bunga overnight dan Fasbi itu untuk mengatasi permasalahan segmentasi pada pasar uang antarbank. Setelah pelonggaran giro wajib minimum rupiah dan dolar AS telah menambah likuiditas di perbankan lebih dari Rp50 triliun. Namun, membanjirnya likuiditas itu hanya dinikmati oleh beberapa bank besar, sementara bank yang kekurangan dana sulit mengakses likuiditas. (11/15/17/ 23/Nana Oktavia Musliana/Arif Gunawan S). (lutfi.zaenudin@bisnis.co.id)  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130