Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pembelian rumah tunggu hasil pilpres

18/06/2009

 


Bunga kredit konstruksi harus turun
BISNIS INDONESIA

JAKARTA Sebagian besar konsumen rumah kelas menengah ke bawah masih menunggu pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) pada 8 Juli 2009 sebelum memutuskan membeli, meskipun Bank BTN akan menurunkan bunga KPR pada 1 Juli.

Sekretaris Perusahaan PT Perdana Gapuraprima Tbk Rosihan Saad mengatakan rencana penurunan suku bunga kredit oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) sebesar 0,5%-2% pada awal Juli nanti belum memicu konsumen di segmen menengah ke bawah untuk merealisasikan pembeliaannya.

Penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) oleh sejumlah bank belum cukup memberikan keyakinan untuk membeli rumah. Apalagi penurunan bunga KPR itu belum dilakukan secara serentak oleh bank BUMN lainnya.

"Konsumen juga ingin kepastian, ini berkaitan dengan kestabilan angsuran. Mereka menunggu pelaksanaan pilpres dulu, dan kondisi lebih kondusif. Bagi konsumen fluktuasi angsuran akibat turun naiknya bunga sangat memberatkan," katanya kepada Bisnis kemarin.

Menurut Rosihan, konsumen di kelas menengah ke bawah sangat terganggu dengan kenaikan bunga kredit yang terjadi sejak akhir tahun lalu.

Beberapa konsumen bahkan menjual kembali huniannya karena tidak sanggup membayar perubahan cicilan akibat kenaikan bunga KPR yanga cukup drastis sejak semester II tahun lalu.

Dia menuturkan pengembang saat ini tidak banyak melakukan pembangunan hunian terlalu banyak dan mengurangi persediaan rumah kosong.

Pengembang masih mengandalkan KPR inden untuk mengurangi risiko, artinya pengembang akan membangun rumah setelah akad kredit ditandatangani, kemudian konsumen baru bisa menghuni sekitar 3 atau 4 bulan berikutnya.

Tunggu realisasi

Meskipun demikian, kata Rosihan, pengembang merespons positif langkah yang dilakukan oleh BTN, dan diharapkan menjadi pemicu perbankan nasional lainnya untuk menurunkan suku bunga ke level 10%-12%, yang merupakan angka ideal dalam penjualan rumah. Saat ini suku bunga KPR masih berada di level 13%-14%.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria mengatakan developer masih menunggu realisasi penurunan bunga KPR oleh BTN.

Rencana penurunan bunga antara 0,5%-2% itu tidak berpengaruh, apabila besaran penurunan kredit diambil pada angka yang terkecil.

"Kalau turunnya 0.5% kurang berpengaruh banyak. Nanti bunganya masih ada di angka 13,5%. Belum cukup untuk mendongkrak penjualan rumah," ujarnya.

Fuad menjelaskan rencana penurunan bunga itu juga harus di-iringi dengan kemudahan persyaratan.

Perbankan masih menunjukkan sikap hati-hati yang berlebihan, sehingga banyak pengajuan KPR yang ditolak.

Sementara itu, Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria meminta perbankan juga ikut menurunkan bunga kredit konstruksi secara bertahap mengikuti penurunan bunga KPR.

Dia mengemukakan semester II tahun ini merupakan momentum bagi developer untuk kembali berekspansi.

"Pengembang sudah ingin berekspansi, tetapi perlu dukungan perbankan. Jangan sampai kehilangan momentum karena bank terus menahan kreditnya."

Teguh mengatakan meskipun aktivitas konstruksi saat ini masih minim, bukan berarti pengembang diam sama sekali. Banyak developer yang sedang merancang proyek-proyek baru dan mengurus perizinan agar begitu kondisi normal, proyek baru siap digarap. (20) {ndoksi @bisnls.co.id)



(BTN)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130