Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pemodal Incar Obligasi Jangka Pendek

12/04/2005
 
Jakarta – Daya serap pasar terhadap obligasi masih tetap tinggi. Namun, tren kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI ) telah mengubah perilaku investor. Kini, pemodal cenderung mencari obligasi berjangka pendek dan menengah karena terkait perubahan suku bunga.          Hal itu diungkapkan Direktur Kresna Securities Andrew Haswin, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Satino, dan Direktur Utama Bursa Efek Surabaya (BES) Hindarmojo Hinuri di Jakarta, Kamis (7/4).          Menurut Andrew, kenaikan suku bunga SBI tidak begitu berpengaruh terhadap pasar obligasi Indonesia. Namun dia, mengingtkan penerbit obligasi harus menjual kupon kombinasi antara bunga tetap dan mengambang.          Saat ini, jelas dia, investor cenderung mencari obligasi bertenor jangka pendek dan menengah. Hal itu terkait kepastian kenaikan tingkat bunganya. “Tiga tahun sudah cukup lama,” papar dia.          Andrew memperkirakan kondisi 2003 kembali terjadi pada tahun ini. Penerbit obligasi akan menetapkan kupon secara kombinasi. “Misalnya, seri A-nya fix. Dan seri B-nya floating,” tambah Andrew.          Menurut Satino, daya serap sebagian besar lembaga danan pensiun terhadap penerbitan obligasi Negara dan korporasi masih cukup tinggi. Kenaikan SBI hingga 8% tidak berpengaruh signifikan terhadap pasar obligasi.          Pada 2004, jelas Satino, lembaga dana pensiun menyerap sekitar Rp 11 triliun obligasi korporasi atau 20% dari total investasi dana pensiun yang mencapai Rp 57 triliun. “Pada tahun ini, kita harapkan dapat terserap sekitar 25% dari total investasi dana pensiun,” ujar dia.          Hindarmojo Hinuri optimis harga obligasi akan kembali pulih dala waktu dekat. Namun, dia menyarankan wait and see untuk kondisi seminggu kedepan karena pasar obligasi masih ‘nervous’.          Penurunan harga obligasi  belakangan ini, menurut dia, terkait kenaikan bunga SBI dan penjualan kembali (redemption) reksa dana. Kini, arah bunga SBI sudah jelas dan redemption reksa dana mulai mereda. “Saya kira pasar kembali akan stabil lagi,” jelasnya.          Menurut Hindarmojo, anjloknya harga obligsi tak mempengaruhi rencana beberapa perusahaan untuk menerbitkan obligasi. Dia lantas merujuk PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), PT Bnak Tabungan Negara (BTN), dan PT Bank Danamon Tbk yang sudah mendaftarkan obligasinya.          Untuk obligasi koroporasi, menurut Andrew dan Satino, sektor yang masih menarik adalah infrastruktur, pertambangan, perbankan dan multifinance.          Untuk tahun ini, BES menargetkan pencatatan obligasi korporasi sebanyak 25 perusahaan dengan total emisi obligasi sebesar Rp 10 triliun. Meski pasar obligasi sempat lesu, Hindarmojo menegaskan, pihaknya tidak akan mengubah target.  Obligasi Negara          Menurut Satino, para pengelola dana pensiun tetap mencari instrument investasi yang lebih aman. Dari sekitarc Rp 100 triliun yang dikelola dana pensiun, menurut dia, 80% diinvestasikan ke instrumen pendapatan tetap.          Oleh karena itu, jelas dia, Surat Utang Negara (SUN) masih menjadi incaran dana pensiun. Hingga akhir 2004, daya serap dana pensiun terhadap obligasi negara mencapai Rp 16,5 triliun. Selain aman, yield Sun 10%masih menarik dibanding deposito yang berbunga dibawah 8%. “Untuk tahun ini, harapan kita mencapai Rp 24 triliun,” papar Satino.           Menurut Andrew, investor masih akan melirik obligasi pemerintah karena kemanannya terjamin. Alasan keamanan itulah yang menjadikan SUN tetap diburu investor.          Hingga kini, pemerintah belum memastikan jadwal penerbitan SUN periode April. Sebelumnya, pemerintah membatalkan SUN yang dijadwalkan terbit Maret dengan dalih kondisi pasar tidak mendukung. “Kita masih evaluasi semuanya. Minggu depan baru kita bahas rencana penerbitan  T-bond dan T-bills,” kata Mulia P Nasution, Direktur Perbendaharaan Departemen Keuangan, di Jakarta, Kamis (7/4).          Dia menilai, kondisi pasar saat ini masih kurang kondusif, menyusul tingginya inflasi bulan Maret dan naiknya suku bunga SBI. Berdasarkan data Depkeu, obligasi pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp 18,6 triliun, yakni Rp 5,9 triliun berbunga mengambang (variable rate),dan Rp 13,71 triliun berbunga tetap (fixed rate). Hingga 2008, jumlah obligasi jatuh tempo sekitar Rp 40 triliun.          Pada lelang Kamis (7/4), Bank Indonesia membeli kembali (Buy Back) obligasi Negara sebesar Rp 4,3 triliun melalui pasar sekunder. Untuk seri FR 0002, BI menyerap Rp 1,4 triliun dengan rata-rata tertimbang yield 10,75994%. Seri FR 0004 terserap Rp 478 miliar dengan yield 7,98162%, seri FR 0005 sebesar Rp 1,7 triliun (9,71859%), seri FR 0019 senilai Rp 310 miliar (11,32726%), seri FR 0020 sebesar Rp 250 miliar (11,02280%).          Selain untuk mendorong pasar obligasi, Direktur Komunikasi BI Halim Alamsyah menjelaskan, pembelian kembali obligasi itu bertujuan untuk mempersiapkan pasar SUN atau obligasi Negara sebagai instrument pengganti SBI dikemudian hari.          Dia menjelaskan, pembelian obligasi Negara oleh BI ini adalah yang pertama kali dan akan terus dilakukan secara bertahap. “Pembelian ini harus memperhatikan situasi moneter agar tidak memperbanyak jumlah uang yang beredar, dan bisa mempengaruhi tingkat inflasi,” jelas Halim.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130