Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Pengembang Pilih Jalinan Kemitraan

11/05/2005
 
Jakarta – Kalangan Pengembang kini lebih pintar dalam menyiasati potensi gagal bayar utang proyek properti yang dikembangkannya kepada perbankan. Mereka memilih untuk menjalin kemitraan dalam hampir setiap ekspansi proyeknya daripada meminjam uang dari bank.          Kerjasama itu terutama terjalin pada proyek-proyek yang bersifat short term investment dengan kurun waktu sekitar dua tahun konstruksi. Strategi lainnya adalah dengan memanfaatkan setoran dana pembelian unit propertI dari pihak konsumen.          Demikian ringkasan wawancara Investor Daily dengan jajaran Direksi dua perusahaan pengembang papan atas, yakni Indra Antono dan Veri Y Setiady dari Manajemen Agung Podomoro Group (APG), serta Johannes Mardjuki dari PT. Summarecon Agung Tbk, di Jakarta, belum lama ini.          Direktur Pemasaran APG INdra Antono merinci, sumber pembiyaan di hampir semua proyek yang ada di bawah bendera APG hanya menggunakan sedikit pinjaman bank. “Rata-rata sekitar 75% dari pembiyaan konstruksi proyek property yang kami kembangkan berasal dari pihak konsumen (customer payment schedule). Sisanya baru mengandalkan dari pinjaman dana bank,” kata Indra Antono.          Indra menegsakan, APG juga memiliki sejumlah proyek yang konsep pengembangannya dengan menggandeng mitra strategi. APG, kata dia biasanya bekerjasama dengan para pemilik lahan (landlord) sehingga bisa meminimalisasi tingginya biaya konstruksi proyek.          Pada kesempatan terpisah, Veri Y Setiady menjelaskan, kelompok usaha property di bawah kendali APG tidak ingin mengambil resiko tinggi untuk melakukan kesepakatan pinjaman dari bank. Ia menyebutkan, group usaha property yang dikomandani oleh Trihatma K Haliman itu belajar banyak dari kasusu krisis ekonomi tahun 1998. Saat itu banyak developer yang terganjal kredit macet.” Karena itu kami tidak ingin terlalu mengandalkan pada pinjaman dari bank,” ujar veri yang dipercaya sebagai salah satu Direksi di beberapa unit usaha APG.          Menurut Veri, mayoritas dari proyek yang dikembangkan APG adlaah sub sektor property residencial berupa high rise building (Apartemen, red). Untuk property sub sektor itu, lanjut veri, APG mengkategorikannya sebagai short term investment, sehingga tidak membutuhkan sumber dana yang strategis.” Artinya cukup didanai dari pembayaran dari calon konsumen dengan di back up oleh pendanaan internal perusahaan ( internal cashflow),” jelas dia.          Hal senada disampaikan Direktur Keuangan PT. Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki. Menurut dia, untuk membiayai proyek property residencial yang dikembangkan summarecon mayoritas masih memnafaatkan dana dari konsumen.” Klau untuk proyek dengan nominal investasi besar seperi di Kelapa Gading Mall III Ekstension, kami memanfaatkan dna internal perusahaan,” ujar dia.          Ia mempersilahkan pengembang lain menggandeng mitra kerja untuk ekspansi proyek propertinya.” Untuk kelompok Summarecon Agung, kami masih optimis bisa mendanai berbagai proyek secara mandiri,” ujar dia.   Bank Loan          Khusus untuk sumber pendanaan proyek yang berasal dari pinjaman bank, APG lebih memilih program pembiayaan kredit konstruksi. Itu pun peruntukannya dikhususkan pada pinjaman jangka panjang (long term payment). Dengan kata lain, proyek yang menggunakan dana pinjaman tersebut karena diprediksi memiliki pola break even point (BEP) dalam jangka panjang.          Menurut veri, tipe proyek dengan perkiraan BEP dalam jangka panjang misalnya sub sektor property komersial seperti di The Plaza semanggi yang menggunakan konsep pemasaran system sewa. Di proyek tersebut, APG menggunakan pinjaman dari bank untuk kredit konstruksi.” Tapi jumlahnya juga paling-paling hanya 30% dari total pembiyaan,” ujar Veri yang juga Presiden Direktur The Peak, apartemen yang dikembangkan APG.          Lain lagi terobosan metode pengembangan proyek yang dilakukan Summarecon. Kelompok pengembang yang sukses menggarap property residencian dan komersial di kawasan Kelapa Gading itu lebih memilih menggunakan sumber dana dari pihak ketiga (bank loan, red) hanya untuk meningkatkan kepemilikan asset tanah (landbank).          “Kami memilih mengurangi porsi pinjaman bank dalam pengembangan proyek property. Sedangkan untuk pengadaan asset berupa pembebasan lahan, baru kami manfaatkan dana pinjaman pihak ketiga itu,” ujar Johannes.          Saat ini,porsi pembiyaan dana dari pihak ketiga yang dibukukan oleh Summarecon Agung mencapai Rp 320 miliar dengan perincian Rp 200 miliar bersumber dari obligasi yang jatuh tempo tahun 2008, dan dana bank sebesar Rp 120 miliar.” Selama itu, kini perusahaan memiliki cashflow tidak kurang dari Rp 160 miliar,” ujar Johannes.            
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130