Penundaan IPO belum Ganggu Kinerja BUMN
New Page 1 JAKARTA (MI) Pemerintah optimistis mundurnya pelaksanaan penawaran saham perdana (IPO) atau penerbitan berbagai obligasi oleh BUMN tidak mengganggu kinerja perusahaan. Pasalnya, penundaan itu terkait dengan kondisi pasar yang tidak kondusif saat
ini. "Intinya, IPO itu untuk mendapatkan dana pengembangan secara optimal. Jadi kami menunggu harga penjualan saham yang terbaik saat kondisi pasar baik," ungkap Sekretaris Menteri Negara BUMN Muhammad Said Didu saat dihubungi Media Indonesia, kemarin. Pascakrisis
keuangan di AS, kondisi pasar uang global mengalami ketidakpastian. Kondisi berbagai indeks saham ataupun pasar obligasi mengalami volatilitas tinggi. Akibatnya, berbagai perusahaan yang membutuhkan dana segar tidak bisa lagi mengandalkan pasar keuangan sebagai
sumber. Untuk BUMN, sebelumnya pemerintah telah mengagendakan privatisasi melalui mekanisme initial public offering/IPO (penawaran saham perdana). Akan tetapi, agenda itu hingga kini terus tertunda karena kondisi pasar keuangan yang buruk. Beberapa rencana
privatisasi diperkirakan akan mundur ke semester II 2008 sampai dengan tahun depan. Hal itu terjadi pada rencana IPO Krakatau Steel dan Bank Tabungan Negara. Selain rencana privatisasi, beberapa BUMN terpaksa mengundurkan rencana penerbitan obligasi. Hal itu
disebabkan kondisi pasar yang juga tidak kondusif. Padahal, kebutuhan dana segar bagi pengembangan usaha saat ini sudah mendesak. Namun, pada pelaksanaannya, pelepasan obligasi berbagai BUMN mundur hingga waktu yang tidak ditentukan. Salah satunya Pupuk Sriwijaya
yang saat ini mengalami kesulitan dana dalam melanjutkan investasi di Iran. Meski begitu, Dirut Pemeringkat Efek Indonesia (Petindo) Khalil Rowter menilai kondisi tersebut belum akan mengganggu kinerja korporat, khususnya di Indonesia. Ia melihat pengunduran
berbagai penerbitan obligasi ataupun IPO belum mengganggu kinerja perusahaan. Pasalnya, altematif pembiayaan seperti bank masih cukup besar. Pada kesempatan terpisah. Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang mengatakan pihaknya saat ini masih menunggu
keputusan pemerintah dan DPR apakah dalam proses privatisasi KS akan memakai pola strategic sales (penjualan strategis) atau IPO. (Toh/Ant/E-1) (Media Indonesia)