Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Penurunan ATMR dongkrak CAR BRI

08/02/2006
 
New Page 1 Sofyan Basir : "Kami perkirakan CAR akan meningkat sehingga tidak akan menambah modal tahun ini" BISNIS INDONESIA, DEPOK: Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia memperkirakan penurutan bobot aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) oleh Bank Indonesia akhir Januari bakal mendongkrak rasio kecukupan modal bank itu hingga 20%. Kenaikan ini sangat signifikan mengingat rasio kecukupan modal BRI saat ini berada pada level 16%. "Kami perkirakan CAR akan meningkat sehingga kami tidak akan menambah modal tahun ini," ujar Dirut BRI, Sofyan Basir, usai meresmikan kantor cabang pembantu bank publik itu di Universitas Indonesia kemarin. Pada 20 Januari, Bank Indonesia mengeluarkan sejumlah regulasi relaksasi bagi perbankan di antaranya penyesuaian penurunan bobot risiko ATMR untuk kredit usaha kecil (KUK) menjadi 85%, kredit pemilikan rumah (KPR) 40%, dan kredit pegawai/atau pensiunan 50%. Secara bisnis, perubahan penghitungan ATMR paling signifikan menguntungkan bank-bank dengan portofolio kredit usaha kecil dan kredit kepemilikan rumah besar. BRI memiliki protofolio kredit UMKMsebesar 87% dari total kredit sekitar Rp75 triliun. Dari jumlah tersebut, menurut Wakil Dirut BRI Wayan Alit Antara, total pembiayaan mikro hingga September 2005 mencapai Rp23,25 triliun atau 31% dari total pembiayaan. PT Bank Tabungan Negara, bank spesialis kredit perumahan, juga turut menerima berkah dari Paket Januari tersebut. Bank-bank lain sebenarnya juga mengalami hal serupa namun dalam skala yang lebih kecil. Sofyan memastikan, tidak akan merevisi target penyaluran kredit 2006. Ia optimis mampu mencapai pertumbuhan 15%-20%, lebih rendah dari target pada 2005 sebesar 25%. "Kami melihat tekanan kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrikmasih terjadi pada 2006." Ia memperkirakan, BRI mampu meraih laba lebih besar dari yang dicapai pada 2004 sebesar Rp3,6 triliun. Menurut Sofyan, selama 2005 BRI menghadapi sejumlah tantangan, antara lain penerbitan PBI 7/2/2005 mengenai Penyeragaman Kualitas Aktiva Produktif dan kebijakan mark to market yang menekan laba rugi BRI. "Tapi kami berhasil meraih laba di atas target," ujar Sofyan tanpa menyebutkan jumlah laba. Sementara itu, Direktur Retail dan UMKM BRI, Ventje Rahardjo mengatakan hingga Desember 2005, rasio kredit bermasalah (NPL) BRI diperkirakan di bawah 5%. "Kalau NPL kredit mikro hanya 1,8%," kata dia. Sementara total kredit yang dikucurkan BRI tumbuh mencapai 20% atau sekitar Rp 14 triliun. Hapus buku Saat ini, ujar Ventje, BRI tengah memeriksa dampak banjir dan bencana alam lainnya terhadap kemampuan nasabah kredit umum pedesaan (Kupedes). Dia mengatakan, BRI akan melakukan hapus buku atau penjadwalan ulang (reschedulling) terhadap nasabah-nasabah kecil yang tertimpa bencana dan tidak lagi memiliki harta benda untuk membayar kredit. Berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan 2005, BRI memproyeksikan laba hingga akhir taun mencapai Rp3,76 triliun. Total penyaluran kredit mencapai Rp76 triliun berbanding dana pihak ketiga yang mencapai Rp92 triliun. Hingga kuartal ketiga tahun lalu, bank tersebut mampu mengeruk laba Rp2,51 triliun. BRI memperkirakan pada 2006 mampu melakukan ekspansi kredit baru Rp 15 triliun. BRI merupakan bank publik namun mayoritas sahamnya yakni 58,93% dimiliki pemerintah. Bank ini didukung oleh lebih dari-jaringan BRI unit yang menjangkau ibukota kecamatan diberbagai wilayah Indonesia sebagai ujung tombak pembiayaan bagi usaha kecil dan mikro. Selama ini BRI dikenal sebagai bank yang mampu mencetak marjin bunga bersih paling tinggi diantara bank-bank lain. Hingga periode September marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) BRI sebesar 12,29% dibandingkan tahun sebelumnya 11,65%. Sedangkan NIM untuk laporan keuangan yang berakhir Desember, secara berturutan untuk 2004 tercatat 11,56%, 2003 sebesar 9,54%, dan 2002 sebesar 8,12%, dan 2001 tercata 7,6%. Net interest margin adalah selisih bunga kredit setelah dikurangi dengan biaya operasional dan biaya dana. Makin besar NIM berarti mengindikasikan pendapatan bank yang makin besar.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130