Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Perbankan Harus Memetakan Debiturnya Bunga Kredit KPR BTN Naik Jadi 18%

15/11/2005
 
JAKARTA, (PR). Bank Tabungan Negara (BTN) kembali menaikkan tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) komersial menjadi 18%/ tahun sejak Senin (14/11). Langkah tersebut terpaksa diambil akibat kenaikan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang kini mencapai 12,25%. Namun, untuk rumah sehat sederhana (RSH) bunganya masih tetap berkisar 8-11%, karena masih mendapat subsidi dari pemerintah. "Menaikkan bunga KPR-BTN menjadi 18% itu berat. Namun, kita tidak tahu apakah akan naik lagi. Jika SBI dinaikkan lagi menjadi di atas 13%, mau tidak mau, BTN pun akan kembali menaikkan tingkat suku bunga KPR komersialnya," ujar Direktur Kredit BTN Siswanto yang dihubungi "PR", di Jakarta, Senin (14/11). Ketentuan bunga 18% ini berlaku terhadap realisasi baru. Jadi, terhadap mereka yang sudah mencicil rumah sebelum ketentuan ini berlaku, bunganya tetap seperti semula. Sementara itu, pengamat perbankan Ryan Kiryanto mengatakan, antara para pelaku perbankan dan para nasabah/debitur saat ini harus meningkatkan komunikasi dan keterbukaan agar tidak timbul kredit bermasalah setelah kenaikan bunga KPR. Selain BTN, sejumlah bank lainnya juga telah menaikkan tingkat suku bunga KPR. Langkah itu diambil sebagai akibat kenaikan tingkat bunga SBI, yang menyebabkan tingkat bunga deposito naik. Rata-rata bank menaikkan tingkat bunga KPR antara 1% -3%. Bank Mandiri menaikkan dari 14,75% menjadi 16,5% - 17,5%, Bank Niaga dari 12,25% menjadi 13,9% - 14,9% dan Bank Internasional Indonesia (BII) naik dari 13,9% menjadi 14,9%. Kenaikan tingkat bunga KPR-BTN menjadi 18% merupakan yang kedua kalinya dalam tahun ini. Kenaikan pertama pada 1 Oktober 2005 menjadi rata-rata 16% dari sebelumnya 13,5% - 14,5%. Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Perusahaan BTN Nasril menjelaskan, BTN terpaksa menaikkan tingkat suku bunga agar tetap bisa bertahan. Yang tetap dipertahankan bunganya adalah untuk RSH, karena mendapatkan subsidi dari pemerintah. "Itu pun kita tidak tahu sampai kapan tetap dipertahankan. Yang jelas, hitungannya sesuai dengan tingkat suku bunga deposito setahun," kata Nasril yang didampingi Dody Agoeng S, staf Divisi Hukum dan Hubungan Perusahaan BTN. Nasril mengatakan, kenaikan tingkat suku bunga KPR ini dilakukan karena banyak hal. Tidak semata-mata faktor SBI, melainkan akibat tingkat bunga deposito, tabungan, giro dan obligasi naik. "Mau tidak mau. bunga pinjaman harus dinaikkan," ujarnya. Belum pasti Kalangan perbankan mengakui dampak kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau BI rate sampai kisaran 12% merupakan konsekuensi logis yang tidak terhindarkan, terutama terhadap penyaluran consumer loan seperti KPR. Selain terpaksa harus mengikuti mekanisme pasar perbankan yang semakin ketat, juga mengantisipasi berkurangnya profit dari margin bunga. Hal itu diakui General Manager Corporate Affair Bank NISP, Andiani Pusparini, saat dihubungi "PR" melalui handphone, Senin (14/11) malam, sukubunga KPR mau tidak mau akan naik mengikuti kenaikan suku bunga SBI baru-baru ini. Meski belum diketahui berapa angka pasti bunga KPR, namun, yang pasti ada perubahan. Meski demikian, Andiani memperkirakan, besarnya bunga KPR tersebut rata-rata akan lebih besar sekira 3% - 4% dari tingkat suku bunga SBI. Dengan tersebut, sampai saat ini pihaknya masih akan terus memantau bagaimana perkembangan kondisi pasar. "Kita lihat dulu seperti apa. Tapi, sampai saat ini masih berjalan normal," katanya. Kemampuan menurun Sebelumnya, mantan Menteri Perumahan Rakyat Siswono Yudhohusodo memperkirakan kemampuan masyarakat untuk membeli dan mencicil rumah akanturun akibat kenaikan tingkat suku bunga dan harga BBM yang melambung tinggi ("PR", 11/11). Direktur Kredit BTN Siswanto sependapat dengan pernyataan Siswono itu. "Kalau penghasilan mereka (yang menyicil rumahred.) tidak naik, mungkin kemampuannya akan turun. Namun, kebutuhan rumah itu selalu terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Jika perekonomian tumbuh dengan baik, masyarakat akan tetap membeli dan akan berusaha terus men cicilnya," kata Siswanto. Menurutnya, keputusan me naikkan KPR-BTN menjadi 18% dimaksudkan agar kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tidak tinggi. "NPL kita akan menjadi tinggi kalau tingkat bunga kredit tidak segera dinaikkan menyusul naiknya SBI," ujarnya. Komunikasi Pengamat perbankan Ryan Kiryanto menjelaskan, para pelaku perbankan dan para nasabah/debitur saat ini harus meningkatkan komunikasi dan keterbukaan. Selain itu, perbankan perlu segera menerapkan R3 dalam fungsi intermediasi, yaitu loan restructuring, rescheduling, reconditioning. Dengan begitu, kemungkinan bertambahnya NPL dapat ditekan. Meski demikian. Ryan mengakui, kenaikan bunga KPR memang tidak dapat terelakkan. Bahkan, dampaknya akan mengurangi jumlah permintaan masyarakat untuk mengambil fasilitas KPR sekira 20% - 30%. Pasalnya, kalau bank tidak menyesuaikan tingkat bunganya tentu akan mengurangi margin bunga yang menjadi pendapatan. "Inimenjadi tekanan berat juga bagi bank," tambahnya. Terkait komunikasi antara perbankan dan nasabah/debitur KPR itu, Ryan mengatakan, hal itu sebagai upaya "memelihara" para nasabah agar tetap mampu membayar angsuran, di tengah tingginya bunga kredit KPR. Dengan demikian, NPL yang muncul tidak akan bertambah secara signifikan. "Bagaimanapun juga, bank harus tetap pintar-pintar menjaga nasabahnya," papar Ryan. Selain itu juga, tambah Ryan, perbankan harus segera memetakan kondisi para debitur yang mengambil KPR. Dengan demikian, bank akan mengetahui debitur mana yang potensial terjadi kredit macet, serta debitur mana yang akan lancar dalam pembayaran kredit. "Perbankan harus sudah dapat memetakan para debiturnya yakni dengan cara mendata debitur satu persatu. Kita harus ingat pula, kondisi debitur pasca kenaikan harga BBM ini banyak mengalami cash outflow. Sedangkan, income masih tidak berubah. Apalagi para debitur maaf yang berasal dari golongan menengah ke bawah yang sangat rentan terhadap kenaikan harga BBM," ujarnya. Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan banyaknya nasabah yang tidak mampu mencicil rumah, Siswanto tetap optimis. "Tahun 1998 dan 1999, misalnya secara umum tetap normal. Namun, itu bisa terjadi karena BTN tidak menaikkan tingkat bunga KPR terlalu tinggi. Kalau pun tingkat bunga kredit komersial (di luar KPRred.) waktu itu mencapai 40%, namun bunga KPRnya tidak melampaui 20% (untuk nasabah lama). Kalau pun bunga di atas 20%, itu terhadap kredit baru,"jelasnya.(A-75/A-68)  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130