Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Perbankan Syariah: Antara Bentuk Penuh dan Unit

03/05/2006
 
New Page 1 "Sudah selayaknya BI dan pemerintah mulai memikirkan tahapan pemurnian commander ini sehingga kelincahan bank syariah menjalankan fungsinya dapat terjamin." Tidak bisa disangkal bahwa keberadaan bank syariah yang dipelopori Mesir sejak tahun 1963 dan kemudian melahirkan IDB (Islamic Development Bank) pada tahun 1975, Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) di Malaysia tahun 1983 dan Bank Muamalat (BMI) di Indonesia pada tahun 1992 telah mendobrak status quo dominasi bank berbasis interest dengan landasan ideologi kapitalis. Di negara kita kehadiran bank berbasis syariah ini disambut antusias, sehingga yang berdiri bukan saja bank syariah penuh (Bank Muamalaat, Bank Syariah Mandiri dan Bank Syariah Mega Indonesia), tetapi juga bank syariah yang dibentuk dibawah payung dan kendali bank konvensional seperti BNI, BRI, Bank Permata, BTN, BII dan sebagainya. Menarik juga untuk dicatat di sini adalah munculnya banyak BPRS, pegadaian syariah, dan ribuan bank mikro seperti BMT (Baitul Mal wat Tamwil). Posisi jumlah bank syariah di Tanah Air per Januari 2006 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pola Pelaksanaan Terlepas dari spektakulernya perkembangan syariah, dari sisi lain kita juga harus waspada karena bisa saja perkembangan itu hanya karena the fallacy of numbers atau permainan angka yang tampaknya hebat tetapi kenyataannya hanya disebabkan oleh faktor industrinya yang baru muncul, sehingga kalau diukur dengan presentasi akan tampak spektakuler. Misalnya jika asset suatu bank Rp 100 miliar kemudian pada tahun berikutnya menjadi Rp 400 miliar maka kenaikannya adalah 300%. Di sisi lain, ada bank yang assetnya Rp 100 triliun naik menjadi 130 triliun tahun berikutnya maka ini berarti terjadi kenaikan 30% atau hanya 1/10 dari angka pertama, tetapi dampak dari kenaikan 30% ini jauh lebih besar dari yang pertama. Inilah barangkali yang menyebabkan Bank Indonesia sebagai regulator dan pengawas bank di Indonesia membuat berbagai kebijakan yang ingin mendorong peningkatan share bank syariah sehingga pada tahun 2011 ditargetkan 5%. Tapi perlu hati hati karena number atau angka bisa juga memberikan pemahaman yang keliru. Kekhawatiran kedua adalah pelaksanaan syariah di bank syariah. Kendatipun secara struktur ada MUI, Dewan Syariah nasional, Direktorat Perbankan Syariah, Bank Indonesia, maupun Dewan Pengawas Syariah di masing masing bank namun hal ini tidak menjamin sudah berjalannya pelaksanaan syariah sesuai ketentuan syariah dan keinginan atau aspirasi ummat. Di kalangan masyarakat masih ada tanggapan yang sangat sumir yang merumuskan persepsi mereka bahwa bank syariah itu sama saja dengan bank konvensional plus doa dan jilbab. Kesalahan persepsi ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, kelengkapan dari sistem perbankan syariah itu baik menyangkut filosofis, sistem dan teknik belum mapan. Bahkan masing masing negara maupun masing masing bank masih memiliki peluang untuk menggunakan metodenya sendiri. Standardisasi produk, akad, prosedur, laporankeuangan, jasa yang diberikan masih dalam agenda regulator. Kedua, SDM di bank syariah itu dapat dikatakan sebahagian besarnya adalah alumni bank konvensional yang tentu akan membawa pola fikir, budaya dan sistem bank konvensional. Filosofi dari bank syariah yang murni syariah sesungguhnya belum sepenuhnya mewarnai semua visi, missi dan sepak terjang bank syariah, manajemen apalagi pemiliknya sebagai Commandernya. Tulisan ini berupaya menyoroti pengaruh sang Commander terhadap pemurnian bank syariah, kinerja dan perkembangan syariah. Saya kira kita bisa sepakat bahwa siapapun yang memiliki hak control atau komando dari suatu perusahaan pasti akan mewarnai dan menentukan sepak terjang perusahaan itu. Sang komando itu bisa pemilik, manajemen, atau pihak lain yang dekat atau agent dari keduanya. Kalau ini benar maka pemurnian, kinerja dan perbankan bank syariah baik BUS (Bank Umum Syariah), UUS (Unit Usaha Syariah) akan memiliki perbedaan karena kedua sistem itu (BUS dan UUS) memiliki commander yang berbeda. Dalam konteks ini maka bank syariah di Indonesia sebenarnya bisa digolongkan pada dua jenis: Pertama, bank syariah yang dikendalikan bank konvensional dengan segala idiologi, pola fikir, budaya dan missinya disini termasuk BSM, BSI dan semua UUS. Kedua, bank syariah yang dikendalikan pemegang saham yang syariah dengan segala warna dan fahamnya misalnya BMI dan berbagai BPRS dan BMT yang dimiliki dan didirikan dengan niat yang baik. Pemurnian Di Indonesia kelompok pertamalah yang mendominasi. Sehingga kalau hipotesa diatas benar maka dapat dipastikan sepak terjang bank yang dikomandoi oleh bank konvensional tidakakan bisa berbuat banyak untuk pengembangan bank syariah di tanah air. Karena bank konvensional sendiri memiliki market yang sama dengan bank syariah yang kadang kadang sang ayah bisa marah, keberatan, dengan sepak terjang sang anak yang bisa mengusik atau merugikan sang ayah. Penunjukkan manajemen sang anak juga akan mementukan gaya dan kinerja bank yang dibawahinya. Jika yang ditunjuk adalah subordinate dari manajemen bank konvensional maka dapat dipastikan bank syariah yang bersangkutan akan selalu sowan, sungkan, dan tidak independen dalam menjalankan misi bank syariah yang akan berdampak pada kinerjanya. Manajemen anak ayam unit perusahaan akan selalu dibayang bayangi manajemen bank konvensional tadi Untuk perkembangan bank syariah di tanah air maka sudah selayaknya Bank Indonesia dan pemerintah mulai memikirkan tahapan pemurnian commander ini sehingga kelincahan bank syariah menjalankan fungsi syariah, operasional, ekonomi, dan sosialnya dapat terjamin. Untuk mengatasi permasalahan yang dialami bank syariah yang dimiliki bank konvensional saat ini apakah BUS dan UUS maka BI dapat membuat tahapan pelepasan saham mayoritasnya sehingga nanti kekuatan hak controlnya bisa dikurangi sehingga diharapkan akan menjamin semakin berkembangnya bank syariah di tanah air. Dengan pemilikan yang terdistribusi dikalangan mereka yang memiliki komitmen dengan syariah maka bayang bayang dan missi bank konvensional secara bertahan akan hilang. Dengan demikian maka diharapkan kinerja, proses pemurnian syariah, dan perkembangan bank syariah di Tanah Air akan semakin spektrakuer bukan hanya dalam angka tetapi juga dalam realitas.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130