Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Properti RI gagal manfaatkan momentum

02/01/2008
 
New Page 1 Industri properti nasional semestinya punya momentum untuk tumbuh pesat sepanjang 2007. Sebagai bagian dari kawasan Asia-Pasifik, harusnya kita bisa menggunakan momentum itu untuk meraihnya menjadi keuntungan domestik. Industri properti di Asia Pasifik sepanjang 2007 meraih kesuksesan bersama yang ditunjukkan oleh statistik tren pertumbuhan harga rumah yang tinggi. Hal itu berbeda dengan Amerika Serikat yang justru babak belur dihajar krisis subprime mortgage market hingga pasar properti terjun bebas ke tidak nadir. Kawasan Eropa pun lesu karena indeks harga rumahnya tidak mampu didongkrak alias menghadapi stagnasi, bahkan sebagian negara di kawasan itu mengalami minus berbanding angka inflasi. Menurut riset dari Global Property Guide, lembaga riset dan publikasi kajian properti global, Asia Pasifik berkibar dengan mencapai pertumbuhan harga hingga di atas 20%. Singapura, Shanghai, dan Filipina masuk dalam deretan negara Asia yang paling bersinar dengan pertumbuhan harga properti 13%-28%. Indonesia dan Malaysia pun menikmati sukses bersama kawasan itu, tapi sayang pencapaian keduanya hanya tumbuh 5,24% dan 3,20%. Bahkan kalau diukur dengan perhitungan inflasi, perkembangan harga properti Indonesia minus 1,18%. Penyebab gagal Kenapa Indonesia tidak bisa maksimal memanfaatkan momentum kebangkitan industri properti di kawasannya? Agaknya hal itu bisa dicarikan simpul persoalannya, sehingga persoalan itu menjadi relevan dengan apa yang ada di balik industri properti ketika hal itu terjadi. Pertama, industri properti Indonesia masih miskin instrumen investasi yang menyebabkan investor dan pasar tidak punya banyak media sebagai alternatif untuk masuk ke industri ini. Sebenarnya, property trust atau real estate investment trust (REIT), instrumen investasi paling populer di dunia properti internasional saat ini dan diharapkan sudah bisa beroperasi di Indonesia. Tapi nyatanya, regulasi REIT tidak kunjung keluar hingga Departemen Keuangan baru memberi jaminan akan keluar awal 2008. Kedua, belum adanya akses langsung bagi asing memiliki properti di Indonesia. Padahal ada ratusan ribu ekspatriat mapan yang bisa jadi objek pasar produk properti tertentu. Belum lagi potensi pasar properti dari sektor pariwisata, seperti di Bali dan sejumlah kota tujuan wisata dunia lain. Produk properti di Indonesia yang masih murah termasuk di kawasan paling potensial dibeli asing sekalipun, seperti Jakarta, Surabaya, Balikpapan, dan Bali. Hal itu memberikan peluang membidik kalangan ekspatriat untuk membeli properti untuk properti hunian dengan harga berkisar Rp2 miliar Rp5 miliar. Tapi bagi industri properti, perjalanan 2007 tidak hanya bergelimang cerita kekurangan atau iklim buruk. Paling tidak, keputusan Bank Sentral untuk menempatkan properti sebagai sektor ekonomi yang rasio kredit bermasalahnya (nonperforming loan/NPL} tidak perlu diawasi secara khusus karena relatif rendah, menjadi faktor pendorong permintaan pasar. Mungkin inilah salah satu faktor yang menjadikan industri properti tetap bergerak positif selama tahun lalu. Bank Indonesia menyimpulkan rasio NPL di sektor properti menunjukkan kecenderungan penurunan dari tahun ke tahun. Itu terjadi karena mulai bergesernya tren penyaluran kredit di sektor properti, yaitu dari dominasi kredit konstruksi dan lahan menjadi berimbang dengan kredit konsumen. yang lebih dikenal dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Hal itu berdampak dalam dua hal, yaitu menguatnya kemampuan akses pembiayaan pasar dan terdistribusinya risiko kredit secara seimbang. Tak heran, Bank Sentral tak lagi memberikan perhatian khusus terhadap pembukuan rasio kredit properti Indonesia. Berdasarkan data BI per Juni 2007, rasio kredit bermasalah untuk subsektor realestat sebesar 7,08% dengan nominal Rpl,23 miliar. Sementara subsektor kredit konstruksi 5,76% (Rpl,79 miliar). Sementara itu, rasio kredit bermasalah di subsektor KPR dan apartemen (KPA) tercatat sebesar Rp3,32 miliar. Minimnya rasio kredit bermasalah berkorelasi positif dengan semakin tingginya minat bank menyalurkan kredit properti seiring potensi penyerapan pinjaman yang cukup besar belakangan ini. Kredit properti Berdasarkan statistik ekonomi keuangan Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI), kredit properti per Juni 2007 mencapai Rpl30,93 triliun, naik dibandingkan dengan Juni 2006 sebesar Rpl03,13 triliun. Rincian kredit properti pada periode itu adalah kredit konstruksi sebesar Rp31,06 triliun, realestat sebesar Rp 17,41 triliun serta KPR ataupun KPA senilai Rp82,465 triliun. Terakhir kabar positif sebagai penutup tahun datang dari perkembangan program perumahan rakyat. Sepanjang 2007 diperkirakan program subsidi rumah sederhana sehat tersalurkan untuk 102.950 unit, naik 31,7% dibandingkan dengan 2006. Bahkan, pemerintah terpaksa berutang anggaran subsidi kepada Bank Tabungan Negara sebesar Rp294 miliar karena overlimit, yang rencananya baru ditebus pada anggaran 2008. Ini berarti perkembangan 2007 tidaklah terlalu jelek bagi industri properti. Akan tetapi, kalau mengacu pada prestasi se kawasan di asia Pasifik yang bisa menikmati pertumbuhan industri sedemikian besar, jelas industri properti di Indonesia belum berjalan sesuai dengan potensinya.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130