Properti di Jawa Tengah masih lesu
New Page 1 Properti di Jawa Tengah masih lesu SEMARANG: Kelesuan pasar properti di Jateng diduga berlanjut hingga paruh pertama 2006 akibat masih tinginya suku bunga kredit perbankan, di tengah kondisi makro yang cenderung membaik. Hasil survei properti resedensial
Bank Indonesia (BI) Semarang menyebutkan selama kuartal I/2006 kegiatan usaha bidang properti terus mengalami penurunan, sejak terjadi kelesuan pada kuartal IV/2005. Bahkan, pesimisme terhadap pasar perumahan pada kuartal II/2006 diperkirakan masih berlanjut,
tercermin dari realisasi pembangunan rumah selama kuartal I/2006 yang turun sebanyak 14,08%. Sedangkan realisasi penjualan kuartal I/2006 juga tumbuh minus 34,26%. "Ekspektasi pengembang di Jateng pada tiga bulan mendatang masih pesimis, artinya kelesuan masih
berlanjut," kata Koordinator BI Jateng-DIY Amril Arief, akhir pekan lalu. Kalangan pengembang malah memperkirakan pada tiga bulan mendatang pembangunan rumah akan turun lebih tajam mencapai minus 64%, seiring dengan lesunya penjualan perumahan yang diperkirakan
minus 60% pada tiga bulan ke depan. Amril mengemukakan meski begitu pembangunan rumah tipe kecil masih akan menempati prioritas pertama, yaitu 71% dengan target penjualan mencapai 73%. Sebab, tuturnya, selama kuartal I/2006 penurunan penjualan rumah tipe kecil
hanya 19,24% dari total penjualan rumah, sedangkan andil rumah tipe besar dan menengah mencapai 64%. Masih bertahan Menurut dia, penurunan itu terjadi akibat tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan yang naik pada akhir tahun lalu dan masih
bertahan hingga kini. "Pengembang berharap suku bunga KPR bisa segera turun, mengingat kondisi makro ekonomi di Indonesia sudah menunjukkan kecenderungan membaik belakangan ini," tukasnya. Sebelumnya, Ketua Realestat Indonesia (REI) Jateng Sujadi mengemukakan
suku bunga KPR yang belum menunjukkan penurunan itu mendorong pengembang di Jateng selektif dalam membangun rumah menengahatas. Dia menyebutkan REI Jateng tahun ini hanya menargetkan membangun rumah menengahatas sebanyak 2.000 unit, sedangkan rumah sederhana
sehat (RSH) mencapai 10.000 unit. "Itu belum termasuk rumah yang dibangun oleh pengembang yang tergabung dalam Apersi atau koperasi. Mungkin jumlah RSH tahun ini yang dibangun mendekati 18.000 unit," katanya. Menurut dia, membangun rumah menengah atas saat
bunga bank tinggi seperti saat ini risikonya tinggi karena rumah jenis ini sebagian besaruntuk investasi, bukan langsung ditempati. Berbeda dengan RSH yang menjadi kebutuhan utama pegawai menengah bawah. Sujadi menambahkan bunga KPR komersial yang ideal maksimal
12%, namun sekarang sudah mencapai 16%-18% per tahun. "Karena rumah itu investasi, kalau suku bunga KPRnya tinggi, calon konsumen tentu menunggu suku bunga bank turun." Sedangkan suku bunga RSH bersubsidi yang idealnya di bawah 8%, kini pada posisi 10%. Meski
begitu, Sujadi mengatakan pasar RSH di tahun sulit seperti sekarang masih tetap terbuka, karena masyarakat menengah bawah banyak yang membutuhkan papan.