Eng Ind
Home > BTN Info > Info > Berita BTN > SESMENNEG BUMN SAID DIDU: Persiapan Sudah Dilakukan Kalau Rendah Tidak Dilepas

SESMENNEG BUMN SAID DIDU: Persiapan Sudah Dilakukan Kalau Rendah Tidak Dilepas

19/10/2006
New Page 1 SEPULUH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipersiapkan go public pada 2007. Sahamnya akan dijual bebas di pasar modal. Pemerintah telah melakukan persiapan teknis untuk mensukseskan kerja tersebut. Sekretaris Kementerian Negara BUMN Muhammad Said Didu mengatakan, saat ini perusahaan pelat merah tengah melakukan persiapan teknis dalam rangka privatisasi. Persiapan itu dilakukan, kata Didu, sembari menunggu terbentuknya Komite Privatisasi. "Jadi biarkan saja mereka mempersiapkan diri secara teknis. Sehingga ketika nanti dibahas di Komite Privatisasi, sudah siap. Yang pasti privatisasi saham BUMN akan dilakukan melalui mekanisme penawaran saham perdana kepada publik atau penawaran saham terbatas right issue," beber Didu di Jakarta. Adapun BUMN yang dinilainya siap diprivatisasi yang bergerak di sektor infrastruktur maupun sektor pembiayaan. "Ada kira-kira enam sampai sepuluh BUMN yang sudah siap dan punya potensi. Misalnya WKA, Indonesia Power, Jasa Marga, BTN, dan bank-bank lainnya, termasuk BNI yang ingin menambah penjualan jumlah saham di pasar modal," ujarnya. Kendati demikian, dia menegaskan kesiapan sejumlah perusahaan negara tersebut untuk masuk di bursa tidak terkait dengan target privatisasi pemerintah di tahun mendatang. Namun, katanya, semakin banyak BUMN yang mau melakukan IPO semakin bagus. "Tapi itu bukan berarti kita menargetkan mereka. Karena harus dilihat terlebih dahulu kondisi harga saham nanti. Kalau rendah, ya jangan dilepas," tegasnya. Sebelumnya, sejumlah perusahaan pelat merah sudah berancang-ancang segera menjadi perusahaan publik. BTN, misalnya, menargetkan bisa go public pada semester pertama 2007. Sedang Jasa Marga dinyatakan sebagai BUMN yang paling siap IPO dan dimungkinkan pada 2006 ini. Namun karena sejumlah kasus masih membelit seperti masalah lumpur panas yang disemburkan PT Lapindo Brantas yang menghambat jalan tol Gempol-Surabaya, membuat Jasa Marga harus meninjau ulang rencana go publicnya.