Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Sekuritas BUMN tolak fee rendah bond BTN

29/02/2008
 
New Page 1 JAKARTA: Tiga perusahaan sekuritas yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) mengindikasikan menolak permintaan pemangkasan fee penjaminan emisi (underwriting) obligasi PT Bank Tabungan Negara (BTN) ke posisi yang lebih rendah daripada yang diajukan ketiga sekuritas itu. Eksekutif yang mengetahui transaksi itu mengatakan PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities mengajukan/ee di atas 30 basis poin (bps)36 bps dari nilai transaksi penerbitan obligasi BTN Rp l triliun. Padahal, manajemen BTN meminta tiga perusahaan sekuritas itu menurunkan fee hingga sekitar 12 bps12,5 bps. "Kalau fee penjaminan obligasi BTN diminta diturunkan menjadi 12 bps12,5 bps, itu tidak sesuai dengan risikonya. Berat kalau fee terlalu rendah, apalagi penjamin emisi harus menelan obligasi kalau tidak terserap oleh pasar," tuturnya kepada Bisnis kemarin. Dengan tidak adanya kesepakatan fee, tuturnya, manajemen BTN kini belum memutuskan calon penjamin emisi obligasi. Padahal, bank pemberi kredit perumahan itu seharusnya bisa menentukan underwriter lebih cepat. Penjamin emisi yang membantu BTN menerbitkan obligasi dua tahun lalu, katanya, juga mengantongi fee rendah sekitar 10 bps. Direktur BTN Saut Pardede ketika dikonfirmasi tidak bersedia menjelaskan secara detail persaingan fee dan permintaan penurunan fee. "Kami tidak berpatokan pada fee untuk menentukan penjamin pelaksana emisi. BTN menilai juga rekam jejak perusahaan sekuritas dan indikasi kupon bunga yang ditawarkan," ujarnya. Bersaing Dia mengatakan BTN akan memilih dua atau tiga perusahaan sekuritas untuk menjadi penjamin pelaksana emisi. Enam perusahaan sekuritas kini bersaing menjadi penjamin pelaksana emisi obligasi Rpl triliun yang akan diterbitkan oleh BTN. Mereka adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT Mega Capital, PT DBS Securities Indonesia dan PT Trimegah Securities Tbk Menurut rencana, BTN akan mengalokasikan dana hasil emisi obligasi sebesar Rpl triliun pada 2008 untuk membayar kembali surat utangnya yang jatuh tempo senilai Rp800 miliar. Orias Petrus Moedak, Direktur Danareksa Sekuritas, mengatakan sedang menjajaki rencana penerbitan obligasi BTN. "Saya tidak bisa berkomentar soal fee obligasi BTN," ujarnya setelah penawaran umum obligasi PT Indosat Tbk dua hari lalu. I Wayan Gemuh, Direktur Mandiri Sekuritas, juga menolak dikonfirmasi soal permintaan pemangkasan fee obligasi BTN. "Saya no comment dulu soal obligasi BTN." Salah satu eksekutif di dana pensiun BUMN mengatakan perubahan minat investor obligasi itu merupakan antisipasi dari kemungkinan kenaikan BI Rate atau paling tidak stagnan di posisi 8%. "Investor cenderung memilih obligasi jangka pendek karena jika terjadi kenaikan suku bunga, mereka bisa cepat mengambil langkah," tuturnya. Peringkat oligasi dan rekam jejak perusahaan penerbit surat utang juga turut menentukan minat investor. Selain itu, pemodal di pasar surat utang kini cenderung tertarik pada obligasi yang bertenor pendek kurang dari lima tahun. Saat ini, jumlah obligasi yang masih ada di neraca BTN mencapai Rp3,5 triliun. Dengan demikian perseroan masih memiliki kemampuan, melepas obligasi Rp2 triliun-Rp3 triliun. Pada akhir Januari tahun ini, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menetapkan peringkat nasional jangka panjang BTN AA-dengan prospek stabil. Peringkat itu mencerminkan peranan dominan BTN sebagai penyedia pembiayaan rumah murah di Indonesia. Selain itu, Fitch melihat neraca yang stabil. Pada akhir September tahun lalu, BTN tetap menjadi penyedia kredit properti terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 19%, terutama dari kredit perumahan bersubsidi. Namun, pangsa pasar BTN menurun dari 30% pada akhir 2003 karena ketatnya persaingan dan pesatnya laju pertumbuhan kredit perumahan tak bersubsidi. Margin bunga bersih BTN cukup stabil di level 5% sejak 2004 hingga akhir September 2007 meskipun itu di bawah rata-rata pesaingnya sebesar 6% pada 2006. Rasio kecukupan modal BTN termasuk risiko pasar menurun menjadi 16,8% pada akhir September tahun lalu dari 17,5% pada akhir 2006. BTN memilih menerbitkan obligasi senilai Rp1 trilun. Setelah emisi obligasi, BTN berencana menggelar penawaran saham perdana maksimal 30%. Penyaluran kredit BTN pada 2007 mencapai Rp22,35 triliun, sedangkan laba meningkat dari target Rp384 miliar menjadi Rp400,8 miliar. Tahun ini, BTN memproyeksikan laba meningkat menjadi Rp472 miliar dengan perkiraan target kredit Rp 10,04 triliun bisa dilampaui
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130