Setting bisnis BUMN tidak memiliki visi yang jelas
New Page 1 Peran BUMN yang seharusnya menjadi penopang ekonomi belakangan cenderung menjadi beban. Fungsi BUMN harus dioptimalkan kembali sehingga mampu menjadi motor penggerak bagi perekonomian, bila perlu mampu mengantarkan Indonesia keluar dari krisis yang
berkepanjangan. Untuk mengupas masalah tersebut, berikut perbincangan Bisnis dengan pengamat ekonomi Kemal Syamsuddin. Bagaimana Anda melihat BUMN saat ini? Niat Menneg BUMN Sugiharto untuk melakukan pendekatan profitisasi BUMN sebenarnya sangat baik, langkah
itu lebih merupakan antitesis atas langkah Menneg BUMN sebelumnya (Laksamana Sukardi) yang lebih mengedepankan privatisasi. Tapi saat ini niat itu sulit direalisasikan, sebab harus berpacu dengan sumber-sumber penerimaan APBN yang semakin terbatas. Jadi pilihan
untuk mengedepankan profitisasi dan privatisasi saat ini seperti memilih ayam atau telur. Masih cukup kompetitifkah BUMN kita saat ini? Jujur harus saya katakan, jika dibandingkan Negeri Jiran dah Singapura, BUMN kita jauh 'tertinggal. Lihat Petronas yang
dulu belajar dengan Pertamina, saat ini sudah lebih maju dibandingkan gurunya. Temasek aktif mengakuisisi BUMN atau aset swasta, begitu agresif, bahkan begitu masifnya mereka mengakuisisi terutama bank dan perusahaan telekomunikasi. Walaupun ada motif-motif
penguasaan informasi telekomunikasi nasional atau perputaran arus dana, dan itu. sah-sah saja, tapi semua telah dilakukan. BUMN kita sibuk dengan liabilities-nya. Pertamina sibuk dengan masalah arbitrase dan utang-utangnya, PLN mengidap utang yang akut, Bank
Mandiri dan Bank BNI dirundung NPL yang serius, Garuda dan Merpati juga ditunggu oleh kreditornya untuk melunasi utang. Belum lagi kalau bicara PTPN-PTPN yang mayoritas merugi, KAI yang limbung, Damri dan PPD yang nyaris tenggelam, serta PT Rukindo yang nyaris
pailit. Jika dipresentasikan dari total aset kelolaan BUMN sekitar Rp l.800 triliun, ternyata hanya mampu meng-create profit sekitar Rp25 triliun, sebuah hasil yang sangat tidak pantas. BUMN kita seperti tak putus dirundung malang, wajar kalau ada Dirut BUMN
yang menulis artikel Robohnya BUMN Kami. Sebegitu naifkah BUMN kita? Sebenarnya tidak juga, kita masih punya PT Telkom yang masih mampu membukukan laba, kita masih punya BRI dan BTN yang kokoh, kita juga punya Aneka Tambang dan PGN yang gagah. Kita juga punya
PT Bukit Asam dan PT Timah yang bisa tampil lebih baik jika direksinya lebih kreatif. Persoalannya setting bisnis yang dikelola BUMN kita tidak memiliki visi yang jelas ke depan. Menurut Anda setting idealnya seperti apa? Jika kita melihat gelagat BUMN-BUMN
negeri tetangga sangat jelas, mereka bekerja keras sekarang untuk menghadapi masa perdagangan bebas, World Trade Organization (WTO) untuk semua sektor, pada 2016 nanti. Tentu BUMN kita juga harus mengacu ke sana. Kita masih punya cukup waktu 10 tahun untuk
melakukan revisi ulang atas desain dan platform BUMN ke depan. Lantas dari mana memulai pembenahan BUMN kita? Sederhana saja, mulai dari Presiden, Menneg BUMN, hingga direksi dan staf BUMN harus memiliki komitmen yang kuat menghadapi 2016. Setelah itu kita
tengok, negara mana saja yang pertumbuhannya masih baik sejak sekarang hingga 10-20 tahun ke depan. Kita tahu di Cekung Pasifik atau Pacific Rim adalah negara yang masih memiliki pertumbuhan yang mengesankan. Terutama China hingga kuartal pertama 2006 masih
meng-create pertumbuhan 10,5% dan India 8,9%. Kita bisa bayangkan dalam 10-20 tahun ke depan jumlah manusia di kawasan Pacific Rim bisa melonjak dari 2,6 miliar menjadi 3,5 miliar hingga 4 miliar manusia. Potensi apa yang bisa kita lihat? Saya prediksikan
sampai 2030 paling tidak negara-negara di kawasan Pacific Rim masih mampu meng-create pertumbuhan rata-rata 6%. Artinya negara-negara itu membutuhkan suplai energi dan makanan lebih banyak lagi, itu adalah potensi bisnis yang tidak kecil.