Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Subsidi Perumahan 2009 Capai Rp 2,5 T

05/12/2008
 
New Page 1 Oleh Wahyu Sudoyo JAKARTA - Pemerintah menaikkan dana subsidi perumahan pada 2009 menjadi Rp 2,5 triliun, dibanding tahun ini Rp 800 miliar. Pengembang menilai kebijakan itu akan menggairahkan bisnis perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria, keberlangsungan proyek rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah bergantung pada alokasi subsidi perumahan pada APBN. "Saya baca di media massa, subsidi perumahan sebesar Rp 1,8 triliun, tetapi setelah menghubungi Pak Zulfi (deputi Perumahan Formal Kemenpera), katanya jumlah sebenarnya justru Rp 2.5 triliun. Mudah-mudahan BI juga menurunkan bunga acuan (BI rate). dan perbankan menurunkan suku bunga KPR," ujar Fuad Zakaria kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (3/12). Fuad menekankan, faktor penentu dari percepatan pertumbuhan pasar properti kelas menengah bawah adalah besaran anggaran subsidi uang muka dan selisih bunga KPR. Apabila kedua faktor tersebut tersedia cukup, pasar perumahan menengah-bawah dalam negeri akan kembali ke posisi sebelum krisis ekonomi global. Dihubungi di tempat terpisah, Deputi Perumahan Formal Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) Zulfi Syarif Koto membenarkan, alokasi subsidi perumahan pada 2009 mencapai Rp 2,5 triliun. Dana tersebut seluruhnya akan dipergunakan untuk subsidi perumahan sederhana, baik rumah sederhana sehat (RSh), maupun rumah susun sederhana milik (rusunami). "Berdasarkan surat keputusan menteri keuangan, selain mendapat alokasi dana subsisi, perumahan sebesar Rp 2.5 biliun. Kemenpera juga mendapatkan anggaran operasional sekitar Rp 980 miliar." jelas Zulfi. Bertambahnya jumlah anggaran subsidi perumahan pada 2009 memungkinkan Kemenpera memberlakukan tingkat suku bunga KPR/KPRusunami tetap selama jangka waktu subsidi. "Dengan pemberlakuan tingkat suku bunga tetap, apabila suku bunga naik, yang akan berubah besaran subsidinya, bukan angsurannya. Konsekuensinya, hal ini akan menambah beban anggaran Kemenpera," ujar Menpera, belum lama ini. Penerapan kebijakan itu akan membantu masyarakat berpenghasilan rendah yang menurun daya belinya akibat kenaikan suku bunga KPR. Tahun 2008, pemerintah menargetkan pembangunan 249.000 RSh. Pemerintah menetapkan harga RSh maksimal Rp 55 juta per unit. Tren penyerapan rumah bersubsidi meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2005, penyerapannya mencapai 60.000 RSh, tahun 2006 terserap 75.000 RSh, dan pada 2007 sebanyak 100.000 RSh. Sementara itu, program pembangunan 1.000 menara rumah susun (rusun) dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada April 2007 dan diharapkan selesai 2011. Rusun itu akan dibangun di 10 kota besar di seluruh Tanah Air. Kota-kota yang menjadi prioritas pembangunan antara lain wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek), serta Medan, Batam, Palembang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar. Terancam Kolaps Fuad Zakaria mengungkapkan, sejak perbankan lebih selektif mengucurkan kredit konstruksi perumahan, beberapa pengembang mulai menghentikan sementara pembangunan proyek dan penjualan produknya. "Saat ini sekitar 60% anggota Apersi telah menunda pembangunan proyek karena kekurangan modal dan penjualan tunainya kurang dari 20%," ujarnya. Menurut dia, kondisi demikian tak bisa dibiarkan berlarut-larut, agar tidak semakin banyak pengembang yang kolaps. "Kami akan mengadakan lokakarya dengan menghadirkan pemangku kepentingan perumahan, seperti Kemenpera, menkeu, menteri BUMN, BI, BTN, Bapertarum, YKPP, Jamsostek, untuk mendiskusikan mengenai kebijakan yang diperlukan untuk sektor properti," jelas Fuad. Bunga KPR Belum Turun Sementara itu. sehubungan dengan penurunan BI nite sebesar 0,25% menjadi 9,25%, suku bunga KPR diperkirakan ikut turun pada Februari atau Maret 2009. Namun, penurunan bunga KPR ini tidak besar, hanya sekitar 1%. Menurut Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Evi Firmansyah, suku bunga KPR tidak bisa langsung ikut turun karena kebanyakan deposito yung ada di perbankan bertempo tiga bulan. Kemungkinan, suku bunga KPR BTN yang saat ini sekitar 15% hanya turun 1% menjadi sekitar 14%.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130