Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Subsidi RSH Bisa Ditambah

13/02/2006
 
New Page 1 JAKARTA, (PR). Pemerintah dinilai masih mampu menambah dana subsidi bunga atau uang muka sebesar Rp 100 miliar untuk pembangunan rumah sehat sederhana (RSH). Sejauh ini, dana subsidi bunga untuk tahun anggaran 2006 adalah Rp 252 miliar atau untuk 130.000 unit rumah RSH. "Saya yakin pemerintah masih mampu menambah (dana subsidi bunga) bila sebelum tahun 2006 berakhir, alokasi untuk 130.000 unit RSH itu terserap seluruhnya. Itu bisa melalui usulan anggaran belanja tambahan (ABT) kepada DPR mungkin tambahannya sekitar Rp 100 miliar lagi," ungkap Dirut Bank Tabungan Negara (BTN) Kodradi di Jakarta, Jumat (10/2). Untuk 2006 ini, pemerintah telah meningkatkan subsidi uang muka menjadi Rp 5 juta, Rp 7 juta, dan Rp 9 juta, dari semula Rp 2 juta, Rp 3 juta, dan Rp 5 juta untuk Golongan I, II, dan III. Sehingga, dana sebesar Rp 252 miliar dapat terserap seluruhnya pada pertengahan tahun 2006. Kodradi mengakui bunga bank saat ini masih tinggi, yakni sekira 18 persen. Namun, dengan adanya subsidi itu masyarakat golongan I, II, dan III dapat menikmati bunga KPR hanya 10 persen sesuai Keputusan Menpera. Nantinya pada akhir tahun, selisih 8 persen akan diklaim kepada pemerintah. Kodradi mengharapkan komitmen dari Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) dengan menyediakan subsidi untuk RSH di awal tahun dapat ditangkap kalangan pengembang, baik yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi). Selama ini pengembang hanya diberi kesempatan untuk membangun RSH untuk jangka waktu 7-8 bulan, akibat terlambatnya kepastian dana subsidi. Untuk tahun 2006, pengembang mendapat kesempatan selama 12 bulan. Dikatakan, pihaknya sudah merealisasikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk RSH sebanyak 2.712 unit pada awal 2006 (Januari). "Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat mengenai subsidi bagi RSH sebelum Januari 2006 menjadi pendorong direalisasikan KPR lebih awal," katanya. Kodradi berharap pada tahun ini seluruh subsidi bunga dapat terserap, tidak seperti tahun anggaran 2005 yang kurang dari 80.000 unit saja. "Dengan demikian, apabilatahun 2006 dapat terserap seluruhnya sudah untung," katanya. Bank BTN sendiri, kata Kodradi, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam tahun anggaran 2006 ditargetkan dapat membiayai KPR untuk 100.000 unit RSH atau butuh dana Rp 3 sampai Rp 3,5 triliun. Sebagai upaya mencapai target tersebut Bank BTN telah meminta kepada pemerintah agar dividen yang diperoleh tahun 2005 hanya disetor 25 persen, tidak 50 persen seperti biasanya yang nantinya dipergunakan untuk memperkuat permodalan. Dengan keuntungan yang diperoleh pada tahun 2005 sekira Rp 419 miliar, Bank BTN optimis tidak perlu melakukan IPO (penawaran saham perdana) untuk memperkuat permodalan cukup berasal dari dividen yang tidak disetor tersebut. Menyangkut kecenderungan suku bunga bank, Kodradi mengaku belum dapat memprediksikan karena sangat tergantung perkembangan inflasi, apabila TDL jadi dinaikkan praktis inflasi tinggi yang berarti bunga masih seperti saat ini. Sementara anggaran kredit di BTN untuk 2006, diperkirakan sebesar Rp 5,8 triliun. (A-109)  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130