Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Suku Bunga Jangan Terlalu Tinggi

09/06/2008
 
New Page 1 Oleh Purbaya Yudhi Sadewa Akibat tekanan inflasi yang meningkat. Bank Indonesia mulai menaikkan suku bunga acuan (BI rate). Tampaknya, tren kenaikan inflasi dan suku bunga belum akan berhenti. Mengapa suku bunga harus naik? Sampai level berapakah suku bunga dapat naik tanpa mengganggu ekspansi yang sedang terjadi pada perekonomian kita? Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah menimbulkan tekanan inflasi cukup tinggi. Laju inflasi Mei mencapai 1,41%, dan laju inflasi tahunan 10.38%. Angka inflasi tahunan mengalami kenaikan cukup signifikan dari 8,96% pada April 2008. Namun, dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi belum seluruhnya terlihat pada angka inflasi Mei. Hal ini terutama akibat kenaikan harga BBM baru diimplementasikan pada minggu terakhir Mei. Sebagian dari dampak kenaikan harga BBM diperkirakan masih terlihat pada angka inflasi Juni Sebagian tarif transportasi misalnya, belum sempat naik pada Mei. Pada Juni diperkirakan lebih banyak usaha transportasi yang sudah menyesuaikan tarif. Akibatnya, harga bahan makanan dan barang-barang lainnya masih cenderung naik karena bertambahnya biaya transportasi Oleh karena itu. inflasi Juni masih sekitar 1.12%, dengan laju inflasi tahunan naik sekitar 11.36%. Walaupun demikian, bukan berarti inflasi akan menjadi tidak terkendali. Di bulan-bulan berikutnya, inflasi tahunan cenderung sedikit menurun dengan semakin meredanya dampak kenaikan harga BBM. Akhir tahun ini, laju inflasi tahunan diperkirakan akan turun ke level Bektiar 10,66% (gambar 1). Prospek inflasi 2009 pun rasanya tidaklah terlalu buruk. Bila tidak ada kenaikan harga BBM lagi sepanjang tahun ini dan tahun depan, inflasi tahunan akan turun ke sekitar 7% pada Mei 2009. Penurunan yang tajam pada bulan itu karena dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi tahunan biasanya hanya berlangsung selama satu tahun. Kebijakan Monter Meningkatnya tekanan inflasi telah mendorong BI untuk menaikkan suku bunga acuan. Awal Juni, BI rate naik sebesar 25 basis poin mendadi 8,50% dari 8,25% bulan sebelumnya. Sebenarnya, kebijakan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi tidaklah terlalu dikehendaki bila sumber tekanan inflasi berasal dari sisi suplai (tMperti kenaikan harga BBM). Kebijakan itu berakibat pada penurunan output ke levellebih dalam lagi. Perekonomian, yang sebelumnya sudah terpukul kenaikan harga BBM, semakin terpuruk lagi. Ongkos untuk pengendalian inflasi seperti ini sering dianggap terlalu mahal. Pengalaman era 80-an menunjukkan, walau sumber inflasi berasal dari sisi suplai (kenaikan harga minyak dunia), kurangnya langkah penanggulangan dari sisi moneter kala itu telah menyebabkan laju inflasi bertahan pada level tinggi untuk waktu yang cukup lama. Jadi, sempat timbul pandangan bahwa walaupun sumber tekanan inflasi berasal dari sisi suplai, bank sentral tetap harus mengetatkan kebijakan moneter. Pada praktiknya, saat ini banyak bank sentral tidak serta-merta menaikkan suku bunga ketika tekanan dari sisi suplai menimbulkan tekanan inflasi tinggi. Negara-negara seperti Singapura, Thailand, dan Filipina sampai saat ini belum menaikkan suku bunga secara signifikan walaupun inflasinya sudah tinggi. Sebagai catatan, negara-negara itu sudah mengalami negatif real interest rate, yakni laju %inflasinya berada di atas suku bunga referensi. Saat ini negara-negara tetangga kita lebih mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan inflasi. Kebijakun menaikkan suku bunga dianggap dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi mereka. Apalagi saat ini ekonomi mereka sudah terancam melambat karena kenaikan harga minyak dunia yang tinggi. Lalu, mengapa BI masih menaikkan suku bunga? Tampaknya, BI melihat tren ekpektasi inflasi masih meningkat. Kenaikan harga bahan makanan yang terjadi hampir terus-menerus sejak awal tahun dikhawatirkan menimbulkan anggapan bahwa inflasi akan naik terus. Kenaikun harga BBM baru-baru ini telah memperburuk keadaan. Ekspektasi bahwa inflasi akan naik terus-menerus menjadi semakin kuat. Sebenarnya, harga BBM akan meningkat tajam hanya satu kali, yaitu saat kenaikan harga diimplementasikan (duli. 11 berlangsung sampai tiga hulun, dengan dampak tertinggi padu until bulan pertama). De-ngan kata lain, angka inflasi tahunan akan naik tajam saat kenaikan harga BBM diimplementasikan, namun akan hilang satu tahun kemudian. Bila hal ini disadari oleh pnrn pelaku ekonomi kita, tentunya kenaikan hurga BBM tidak akun menyebabkan ekspektasi inflasi naik terlalu tinggi. Sayangnya, hal itu belum terlalu dipahami, sehingga ekspektasi inflasi masih tinggi.Untuk mengendalikan hal tersebut, BI rate memang harus dinaikkan. BI juga harus berhati-hati. Pengalaman menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Hui ini, anturu lain, terlihat pada pergerakan Coincident Economic Indeks (CEI) milik Danareksa Research Insitute. CEI adalahindeks yang menggambarkan keadaan ekonomi setiap saat. CEI yang naik menggambarkan ekonomi yang tumbuh, sedangkan CEI yang turun menggambarkan ekonomi kontraksi. Pada 2002, ketika suku bunga SBI berada di atas 10% (namun dalam tren yang menurun), CEI cenderung bergerak horizontal. Artinya, perkonomian kita duri bulan ke bulan tidak tumbuh terlalu signifikan. Akan tetapi, Mei 2003 ketika suku bunga mulai turun ke sekitar 10% dan ke bawal level itu di bulan-bulan berikutnya, CEI pun mulai nnik signifikan. Dengan kata lain, ekonomi pun kembali mengalami ekspansi. CEI kembali menurun ketika suku bunga SBI melewati 10% pada September 2005. Artinya, perekonomian Indone-sia kembali mengalami kontraksi. CEI naik lagi sejak pertengahan 2006 ketika BI mulai menurunkan suku bunga. Ekspektasi bahwa BI rate akan turun ke level lebih rendah kala itu telah memicu aktivitas perekonomian, seperti yang terlihat dari kenaikan CEI pada waktu itu (gambar 2). Analisis dengan pendekatan sederhana di atas memberikan gambaran kasar bahwa selama suku bunga SBI berada di bawah 10%, ekonomi kita masih bisa tumbuh. Namun, bila suku bunga SBI naik di atas 10%, aktivitas perekonomian kita cenderung kontruksi. Jadi, BI memang perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan ekspektasi inflasi. Namun, BI perlu juga berhati-hati dalam menaikkan suku bu-nga acuan. Pada level tertentu, kenaikan BI rate bukan hanya akan mengendalikan ekspektasi inflasi, tetapi dapat membunuh proses ekspansi ekonomi yang sedang terjadi. Kenaikan BI rate yang hanya 25 basis poin (di bawah ekspektasi pasar) pada awal bulan ini memberikan kesan bahwa BI tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga acuan. BI memberi bobot yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam menentukan kebijakan moneter. Rasanya, suku hunga tidak akan dinaikkan ko level yang dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi kita.3
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130