Suku Bunga KPR BTN Masih Bertahan
New Page 1 JAKARTA, KOMPAS - Bank Tabungan Negara belum berencana menaikkan suku bunga kredit pemilikan rumah terkait naiknya suku bunga acuan BI atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8,25 persen. Saat ini suku bunga kredit BTN untuk kredit pemilikan rumah
atau KPR subsidi 7-11,75 persen dan KPR komersial 9,75-12,5 persen. "BTN belum terburu-buru mengambil kebijakan apa pun terkait kenaikan BI Rate. Tidak ada agenda rapat luar biasa yang akan digelar BTN, tetapi biasanya ada rapat menjelang akhir bulan. Ada
kemungkinan kebijakan baru diambil pada akhir bulan tersebut," kata Kepala Divisi Hukum dan Hubungan Perusahaan BTN Rinna Mona Lindyana, Rabu (7/5) di Jakarta. BTN adalah bank yang fokus pada KPR Pengamat properti, Panangian Simanungkalit, memprediksi, BTN
tidak akan gegabah menaikkan suku bunga KPR. "Kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin itu relatif kecil. Saya yakin suku bunga KPR BTN tidak naik. Terlebih bila bank-bank komersial tidak menurunkan suku bunga KPR mereka," ujarnya. Menurut Panangian, kenaikan
suku bunga KPR harus dihindari. Kenaikan bunga KPR akan mempersempit kesempatan masyarakat menengah ke bawah untuk memiliki rumah. "Masyarakat kelas itu, khususnya yang tidak mendapat KPR subsidi, sangat memerhatikan besarnya cicilan. Bila suku bunga KPR naik
dan cicilan naik, mereka pasti batal membeli rumah," kata Panangian. Kontribusi BTN pada komposisi penyaluran KPR bagi rumah sederhana sehat (KPR-SH) tahun 2007 mencapai 95 persen atau 102.722 unit. Kontribusi bank-bank lain hanya 5 persen atau 5.094 unit
Kenaikan suku bunga KPR, lanjut Panangian, tidak akan berpengaruh masyarakat menengah ke atas. Kelompok masyarakat ini membeli rumah bukan berdasarkan harga, tetapi pada "gaya" rumah tersebut Oleh karena itu, kata Panangian, prospek bisnis properti dengan
pasar menengah ke atas tetap cerah. Hal senada diungkapkan Direktur Pengembangan Pemasaran Agung Sedayu Group Evelina Setiawan. Evelina mengatakan, anomali minat konsumen, khususnya menengah atas terhadap rumah, sudah bergeser. "Suku bunga tidak berpengaruh
signifikan karena lokasi dan desain lebih menjadi fokus utama bagi konsumen. Bunga tinggi tidak lagi menyebabkan orang menunda pembelian rumah," katanya. Bagi investor, kata Evelina, dengan situasi saat ini pilihan menjadi makin banyak. Suku bunga acuan BI
menjadi catatan agar tidak keliru memanfaatkan dana pada masa datang. (RYO/OSA)