Eng Ind
Home > BTN Info > Info > Berita BTN > Target BTN Meraup Dana IPO Rp 3 Triliun

Target BTN Meraup Dana IPO Rp 3 Triliun

19/11/2009
Veby Mega

JAKARTA. Setelah sempat terkatung-katung selama lebih dari empat tahun, keinginan PT Bank Tabungan Negara (BTN) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampaknya akan segera tercapai. Hari ini, bank pelat merah ini memulai penawaran umum saham perdana ke publik (IPO).
Rencananya, BTN akan menjual 1,96 miliar saham ke publik lewat hajatan tersebut. Jumlah ini setara dengan 26% dari total saham. Pada saat bersamaan, perusahaan ini juga melepas 4% saham ke manajemen dan karyawan. Sedangkan 70% saham BTN masih dikempit pemerintah. .

"Hari ini (kemarin) sudah ada pernyataan efektif IPO dari Bapepam-LK," kata Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Mandiri Sekuritas, selaku salah satu penjamin emisi IPO BTN, kepada KONTAN, kemarin (18/11). Selain Mandiri, hajatan tersebut dibantu oleh CIMB Securities.

Menurut Kartika, IPO BTN itu diharapkan bisa meraup dana sekitar Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun. Sayangnya, manajemen BTN masih belum bersedia memastikan target dana yang bisa diperolehnya.

Yang jelas, dalam proposal IPO BTN sebelumnya, dana hasil penjualan saham akan digunakan untuk memperkuat permodalan.

Sementara itu, Kartika mengatakan, pihaknya pun menunggu izin efektif IPO PT Pembangunan Perumahan (PP). Tapi, dia belum lisa memastikan kapan penjualan saham perusahaan konstruksi pelat merah itu dilakukan.

Sekadar informasi, Mandiri juga menangani IPO PP bersama Danareksa Sekuritas, dan DBS Securities. Jumlah saham yang akan dilepas ke publik maksimal sebanyak 39%. Namun, kabarnya, IPO PP bakal tertunda hingga kuartal satu tahun depan.

Sejak awal tahun hingga kini memang belum ada satu pun perusahaan BUMN yang masuk bursa. Padahal, biasanya IPO perusahaan pelat merah sangat dinanti pasar. Seperti, IPO Krakatau Steel dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III dan VII yang kemungkinan baru terlaksana tahun depan.

"IPO BUMN bisa menyegarkan perdagangan saham dan mengurangi saham gorengan," kata Willy Sanjaya, analis Lautandhana Securities.