Tujuh Bank Akan Masuk Bursa Efek
New Page 1 Kinerja saham perbankan masih belum memuaskan. JAKARTA - Sedikitnya tujuh bank nasional akan menjual saham kepada publik (initial public offering/IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Jakarta tahun ini. Menurut sumber Tempo, ketujuh bank itu adalah
Bank Tabungan Pensiun Nasional, Bank Himpunan Saudara, Bank Haga, Bank Tabungan Negara, Bank Swaguna, Bank Nagari, dan Bank Jabar. "Penjajakan sudah dimulai," katanya. Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah saat dimintai konfirmasi menjelaskan, hanya Bank Tabungan
Pensiun Nasional yang sudah mengajukan proposal resmi ke Bursa Efek. Sedangkan Bank Himpunan Saudara baru mengajukan minat secara informal. "Bank lainnya belum berbicara dengan kami," ujarnya kepada Tempo di Jakarta kemarin. Namun, kata dia, BEJ menyambut
baik jika benar bank-bank itu akan mencatatkan saham di bursa. "Saham perbankan akan menjadi marak." Di tempat terpisah, Direktur Pencatatan BEJ Eddy Sugito juga membenarkan otoritas bursa telah menerima permohonan resmi Bank Tabungan Pensiun Nasional minggu
lalu. "Sedang kami proses kelengkapannya," katanya. Bank Himpunan Saudara juga telah melakukan pembicaraan serius dengan BEJ untuk melakukan penawaran saham perdana. "Tapi hingga kini dokumennya belum masuk." Erry menambahkan, Bank Tabungan Pensiun Nasional
akan menawarkan 25-30 persen saham kepada publik. "Mereka akan menggunakan laporan keuangan akhir 2005 dalam proses penawaran saham," ujarnya. Saat ini komposisi kepemilikan Bank Tabungan Pensiun Nasional -terdiri atas Admiro Corp. 71,6 persen dan PT Perusahaan
Pengelola Aset 28,39 persen. Admiro merupakan pemegang saham baru yang menandatangani perjanjian jual-beli bersyarat pada 7 Desember 2005 dengan harga 1,75 kali nilai buku. Admiro membeli dari pemilik lama, yakni Bakrie Capital, sebesar 10 persen, Grup Rifan
22,61 persen, Danatama Makmur 18 persen, dan Fuad 'Mansur sekitar 20 persen. Analis senior PT Kuo Kapital Raharja, Edwin. A. Sinaga, menjelaskan, kontribusi saham perbankan terhadap indeks harga saham cukup besar sejak otoritas bursa mengubah penghitungan
indeks. Namun, menurut dia, masuknya tujuh saham bank baru itu ke BEJ tidak serta-merta akan menambah kontribusi terhadap indeks atau juga menggairahkan transaksi pada saham perbankan. Alasannya, dari sisi fundamental dan besarnya kapitalisasi saham, hanya
BTN yang relatif paling besar. "Saham bank lainnya biasa saja," ungkapnya. Menurut dia, saat ini kinerja saham perbankan juga masih terpuruk. Penyebabnya, kinerja bank-bank pada 2005 kurang memuaskan akibat tingginya suku bunga." "Ini diperkirakan akan berlangsung
hingga kuartal kedua 2005."