Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Upaya BBTN Menguasai Pasar Kredit Perumahan

Sumber: Kontan Harian
30/04/2010
Analis melihat, skema baru subsidi rumah akan menggenjot kucuran kredit Bank BTN
 
Analis melihat, skema baru subsidi rumah akan menggenjot kucuran kredit Bank BTN
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) semakin gencar menggalang pendanaan dari luar. Yang teranyar, bank pelat merah ini akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun. Mereka sudah menunjuk tiga sekuritas un­tuk membantu kelancaran aksi korporasi ini.
Ketiga sekuritas itu adalah Bajiana Securities, Mandiri Sekuritas, dan Indopremier Securities. Wakil Direktur Utajna BBTN Evi Firmansyah mengharapkan, surat utang ini terbit pada akhir Mei atau awal Juni 2010. Bank BTN akan memakai dana hasil penetbitan obligasi untuk meng­genjot kucuran kreditnya.
Per Maret 2010, Bank BTN telah menyalurkan kredit sebanyak Rp 43,1 triliun. Jumlah ini tumbuh 28,6% dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 33,5 triliun. Manajemen BBTN berharap, hingga akhir 2010, kucuran kredit bisa tumbuh sebesar 27%.
 
Pembiayaan utang
Analis Kim Eng Securities Rahmi Marina menduga, BBTN juga akan menggunakan sebagian dana obligasi itu untuk membayar surat utang (refinancing) yang jatuh tem­po 6 Juli 2010. Nilainya Rp 750 miliar. Selain itu, BBTN akan memakai sisa dana obligasi untuk mengucurkan kredit perumahan.
Sampai saat ini, BTN mencatatkan outstanding kredit perumahan Rp 3,25 triliun. "Kami memperkirakan BTN akan membutuhkan penerbitan obligasi lagi pada 2011," tutur Rahmi. Tujuannya tentu saja agar BTN bisa menjaga pertumbuhan kreditnya di atas 20% dari tahun ke tahun. Analis Asia Kapitalindo Se­curities Arga Paradita Sutiono menilai, prospek kredit peru­mahan makin cerah karena pertumbuhan ekonomi Indo­nesia juga kian kokoh.
Nah, menurut Arga, perierbitan obligasi juga bisa mengerek rasio kecukupan modal (CAR) BBTN menjadi 22%-23%, dari sebelumnya 21%. Ini membuat BBTN lebih leluasa melakukan ekspansi.
Sejauh ini, Analis CLSA Se­curities, Bret Ginesky melihat, BBTN memiliki pasar yang dominan di kredit perumahan. Bahkan, bank ini menjadi pemimpin pasar dengan market share 27%. Dia yakin, BBTN bisa mengerek pangsa pasarnya tahun ini. Alasannya, permintaan rumah masih tinggi. Setiap tahun, kebutuhan ru­mah mencapai 62,5 juta unit. Apalagi, Kementerian Peru­mahan Rakyat segera menggulirkan skema baru subsidi perumahan pada Juni nanti.
Sebelumnya, bantuan peru­mahan memakai pola subsidi selisih bunga dan uang muka. Nantinya, subsidi akan disalurkan melalui penempatan dana di bank-bank. Dana yang disiapkan untuk program ini mencapai Rp 3,1 triliun, naik dari 2009 yang senilai Rp 1,8 triliun.
Menurut Ginesky, jangka waktu subsidi rumah juga diperpanjang, dari semula enam tahun menjadi 10-15 tahun. Kebijakan ini berpeluang me­ngerek harga jual rumah bersubsidi menjadi Rp 62,5 juta dari semula Rp 55 juta.
Melihat prospek bisnis BBTN yang cukup cerah, Gi­nesky menyarankan investor membeli saham ini dengan target harga Rp 2.000 per sa­ham. Arga pun merekomendasikan beli dengan target Rp 1.600 per saham.
Tapi, Rahmi menyarankan jual saham BBTN lantaran harganya sudah mahal. Dia memasang target harga Rp 1.210 per saham. Kemarin (29/4), harga saham BBTN stagnan di level Rp 1.520 per saham. (Avanty Nurdiana)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130