Eng Ind
Home > BTN Info > Info > Berita BTN > GELAR RUPSLB, BANK BTN ROMBAK SUSUNAN PENGURUS PERSEROAN

GELAR RUPSLB, BANK BTN ROMBAK SUSUNAN PENGURUS PERSEROAN

08/01/2018
Bank BTN optimistis menembus peringkat lima besar bank umum nasional di akhir tahun 2017
Jakarta, 28 Desember  2017.  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, hari ini menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)  dengan agenda utama Perubahan Susunan Pengurus Perseroan. Adapun RUPSLB yang digelar di Menara Bank BTN ini sebagai tindak lanjut dari Surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) no. S-117/PB.313/217 tanggal 22 November 2017 perihal Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris dan Direksi PT Bank BTN. RUPSLB juga dilatarbelakangi pengangkatan Handayani sebagai Direksi Bank BRI pada tanggal 18 Oktober silam.
RUPSLB Bank BTN memutuskan perubahan pengurus perseroan dengan mengangkat Dasuki Amsir sebagai Direktur Bank BTN. Dasuki, kelahiran Jakarta 28 Juni 1963 sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III dan sebelumnya pernah berkarir di Bank BNI. Sementara itu susunan Komisaris Bank BTN tidak ada perubahan.
Dengan demikian, susunan terbaru dari Direksi Bank BTN dan Komisaris Bank BTN adalah sebagai berikut:
Direktur Utama     : Maryono
Direktur                  : Iman Nugroho Soeko
Direktur                  : Adi Setianto
Direktur                  : Oni Febriarto Rahardjo
Direktur                  : R. Mahelan Prabantarikso
Direktur                  : Nixon L.P Napitupulu
Direktur                  : Budi Satria
Direktur                  : Dasuki  Amsir
Sementara untuk Komisaris adalah sebagai berikut:
Komisaris Utama/ Independen : I Wayan Agus Mertayasa
Komisaris Independen             : Kamaruddin Sjam
Komisaris Independen             : Arie Coerniadi
Komisaris Independen             : Lucky Fathul Aziz Hadibrata
Komisaris Independen             : Garuda Wiko
Komisaris                                  : Sumiyati
Komisaris                                    : Maurin Sitorus
Komisaris                                  : Iman Sugema
“Kami menyambut baik Dasuki Amsir sebagai bagian dari keluarga besar Bank BTN, semoga dengan bergabungnya Dasuki dapat memberikan kontribusi yang positif bagi BTN kedepannya,” kata Direktur Utama Bank BTN, Maryono, usai RUPSLB di Jakarta, Kamis (28/12). Selama tahun 2017, Bank dengan kode saham BBTN mencatatkan kinerja yang positif, dengan mencatatkan pertumbuhan aset, kredit maupun Dana Pihak Ketiga di atas 18%  sementara perbankan nasional hanya tumbuh di kisaran 10%.
“Dengan pencapaian tersebut, kami optimistis pada akhir tahun ini Bank BTN bisa menembus peringkat lima besar perbankan nasional,” kata Maryono.
Dilatarbelakangi kinerja yang apik pada tahun 2017, Bank BTN mematok target pertumbuhan moderat pada tahun 2018. Konsisten dengan misi dan visi bank, target jangka pendek dan menengah Bank BTN adalah memperkuat posisinyanya di bidang perumahan dengan mendukung realisasi Program Sejuta Rumah. Sejumlah strategi pun dipasang, untuk strategi pertumbuhan kredit, BTN fokus pada penyaluran kredit perumahan dengan menyasar segmen mass dan perluasan pada segmen affluent serta emerging affluent. Berdasarkan Rencana Bisnis Bank, Bank BTN membidik pertumbuhan kredit mencapai kurang lebih 24% pada tahun 2018. Angka tersebut jauh di atas  rata-rata target industri perbankan yang dihimpun OJK yang hanya sebesar 13-14%.
“Program sejuta rumah masih menjadi pendorong utama kredit Bank BTN, karena itu kami akan optimal mendukung pemerintah untuk program subsidi baik Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Subsidi Selisih Bunga, Bantuan Uang Muka maupun Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT),” kata Maryono. Sementara  untuk strategi pendanaan masih  diintensifkan untuk mengejar dana murah.  AdapunTarget DPK Bank BTN pada tahun 2018 adalah sebesar 24% dengan porsi dana murah sebesar 48-49% dari total DPK. Angka tersebut juga di atas rata-rata target perbankan secara umum sebesar 14%. “Persaingan perebutan DPK akan sangat ketat pada tahun 2018, kami  akan melakukan sejumlah strategi diantaranya meningkatkan CASA , meningkatkan DPK komersil berbasis construction value chain, dan pendanaan institusi berbasis KPR dan memperluas wholesale funding, penerbitan surat utang, (obligasi), pinjaman, Negotiable Certificate Deposit (NCD), ataupun pinjaman luar negeri,” kata Maryono.